MANADOPOST.ID – Tokoh masyarakat Sulawesi Utara, Philip Pantouw, menekankan pentingnya mewariskan nilai-nilai dan semangat perjuangan Permesta kepada anak-anak dan cucu-cucu generasi sekarang.
Hal ini dikatakan Philip Pantouw saat didaulat menjadi pembicara utama dalam diskusi yang digelar oleh Perkumpulan Perjuangan Rakyat Semesta (PERMESTA) Minahasa pada Senin, 7 April 2025 di Wengkol, Tondano.
Menurutnya, Permesta bukan sekadar bagian dari sejarah, tetapi merupakan fondasi dari perjuangan daerah demi kemakmuran bangsa.
“Ini harus diwariskan ke anak-anak dan cucu-cucu. Tugas pelaku sejarah adalah menjelaskan kepada generasi muda apa itu Permesta,” ujar Philip Pantouw dalam sebuah kesempatan refleksi sejarah.
Ia menyayangkan adanya pandangan keliru yang berkembang saat ini terkait keterlibatan para orang tua dalam gerakan Permesta, yang disebut-sebut menjadi penghalang kenaikan pangkat atau karier bagi generasi penerus. “Bahkan dulu sempat muncul rasa minder, seolah-olah karena opa terlibat Permesta, torang nda bisa naik pangkat,” tambahnya.
Philip menegaskan bahwa Permesta tidak pernah kalah. Justru, katanya, gerakan ini berhasil mengangkat perhatian pemerintah pusat terhadap ketimpangan pembangunan di daerah. “Permesta tidak kalah. Permesta dibujuk pusat untuk berdamai karena pusat kehabisan anggaran untuk membiayai TNI,” ungkapnya.
Ia merujuk pada perjanjian damai yang ditandatangani di Malenos, 4 April 1961, sebagai bukti nyata bahwa gerakan Permesta diakhiri melalui jalan damai dan pengakuan dari pemerintah pusat.
“Napak tilas melawan lupa, Permesta tidak kalah. Dan hasil dari perjuangan itu sudah kita nikmati sekarang. Tapi tugas kita belum selesai. Kita masih harus menjabarkan kembali apa yang dulu kita perjuangkan dan apa hasil yang sudah dirasakan saat ini,” ujar Philip penuh semangat.
Ia mengajak seluruh masyarakat, khususnya generasi muda, untuk tidak lagi merasa rendah diri atau minder terhadap sejarah Permesta. “Kita sebagai pejuang dan anak cucu Permesta harus jalan dengan dada membusung. Karena Permesta berjuang demi kemakmuran bangsa. Jangan sampai kita lupa bahwa cita-cita Permesta adalah cita-cita mulia,” tutupnya.
Philip Pantouw sendiri tampil menjadi pembicara, didampingi pejuang Permesta Lefrand Kumontoy, Dr Elisa Regar, dan moderator pengurus Permesta.
Acara ini mengangkat tema “Jejak Peristiwa Sejarah PERMESTA di Tanah Minahasa 1957–1961”. Dijadikan momentum refleksi atas perjuangan lokal yang menjadi bagian penting dari dinamika sejarah nasional Indonesia.
Kegiatan ini dihadiri oleh berbagai tokoh masyarakat, sejarawan, akademisi, serta keluarga pejuang PERMESTA. Hadir juga mantan Walikota Manado Wempie Frederik.
Dalam suasana penuh penghormatan, para peserta mendiskusikan latar belakang, dinamika, dan dampak gerakan PERMESTA yang dimulai pada tahun 1957 sebagai respons terhadap ketimpangan pembangunan dan sentralisasi kekuasaan di era pasca-kemerdekaan.
Logo PERMESTA dengan lambang khasnya turut terpampang di backdrop utama, menggambarkan semangat perjuangan yang masih dikenang hingga kini.
Acara ini juga menjadi ajang untuk mempererat kembali semangat kebangsaan dan menghargai kontribusi sejarah lokal dalam membentuk identitas nasional.
Lefrand Kumontoy menekankan bahwa kegiatan ini bukan untuk menghidupkan kembali perlawanan bersenjata, melainkan untuk memaknai sejarah sebagai bagian dari proses pembelajaran dan rekonsiliasi bangsa.
Dengan semangat historis yang kuat, masyarakat Minahasa berharap nilai-nilai perjuangan yang terkandung dalam peristiwa PERMESTA dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda dalam membangun Indonesia yang lebih adil dan inklusif.
Di akhir diskusi, Philip Pantouw diberi mnadat oleh para Pejuang Permesta yang masih hidup sebagai mandattaris, menjadi Ketua Tim Formatur DPP Permesta. (*)