Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Ferry Liando: Kalah Kompetisi Pemilu Kerap Pemicu Konflik Masyarakat

Reza Abdilah • Kamis, 4 September 2025 | 23:54 WIB
Dr Ferry Liando saat menjadi narasumber dalam kegiatan bersama Kesbangpol Kota Manado, kemarin.
Dr Ferry Liando saat menjadi narasumber dalam kegiatan bersama Kesbangpol Kota Manado, kemarin.

 

MANADOPOST.ID- Dekan Fisip Unsrat Dr Ferry Daud Liando kembali menegaskan pendapatnya terkait dengan Pemilu dan Pilkada. Menurutnya bahwa kompetisi tersebut sering menjadi salah satu pemicu terjadinya konflik sosial kemasyarakatan selama ini.

Sebab katanya, pihak yang kalah kerap belum sepenuhnya menerima apa yang dialami. Terlebih sebagian diketahui bahwa kemenangan pihak lawan tidak melalui prosedur kompetisi yang benar.

Hal ini ditegaskan Liando saat menjadi narasumber di “Pemberdayaan Ormas Kepemudaan dalam mencegah Intoleransi di Kota Manado” yang dilaksanakan Kesbangpol Manado, Kamis (4/9) kemarin hotel Grand Puri.

Lanjut Liando, meski tahapan Pemilu dan Pilkada sudah selesai, namun perbedaan masih menganga dan masih berjarak satu sama lain. "Sakit hati atas kekalahan, masih sulit terlupakan. Sehingga ada gesekan sedikit langsung direspon dan berekasi berlebihan. Pelakunya bukan hanya oleh kelompok pendukung pihak yang kalah, namun juga kerap dilakukan oleh pihak pendukung yang jagoannya menang. Ada pihak yang menghasut rasa kebencian antar sesama hanya karena belum move on atas hasil yang diperoleh," katanya saat merespon pertanyaan salah satu peserta.

Liando juga merinci beberapa faktor-faktor penyebab mengapa dalam tataran elit, semangat toleransi begitu terawat. Namun di tataran masyarakat ada kelompok-kelompok masyarakat yang berupaya menghasut dan terpengaruh. "Selain kompetisi dalam pemilu dan pilkada yang belum meredah, penyebab lain adalah pertama tingkat kesulitan ekonomi masyarakat akibat kebijakan-kebijakan negara yang cenderung belum berpihak. Masih banyak masyarakat yang belum bisa hidup secara wajar karena himpitan ekonomi. Anak-anak sulit bersekolah, pelayanan kesehatan yang belum adil, sulit mendapatkan pekerjaan dan memicu pengangguran. Sehingga dihasut sedikit langsung memicu gejolak," ungkapnya.

Kedua kata Liando, perilaku elit politik yang cenderung memperkaya diri, baik dalam tindakan korupsi maupun kebijakan-kebijakan yang hanya memperkaya diri sendiri, sementara rakyat makin sulit untuk bertahan hidup. Ketiga penggunaan teknologi yang makin bebas, vulgar dan tanpa pengendalian kerap menjadi pemicu.

"Terdapat berita-berita hoax, pemicu kebencian dan adu domba begitu bebas dalam konsumsi publik lewat pemberitaan dan penayangan. Banyak yang terhasut, terprovokasi sehingga sesama rakyat saling berhadap-hadapan," terangnya menambahkan keempat pengaruh pihak-pihak orang besar yang selama ini merasa diperlakukan secara tidak adil baik dalam keputusan hukum atupun keseimbangan dalam bisnis.

"Merasa diperlakukan secara tidak adil, maka lewat pengaruh yang mereka miliki kerap menghasut rakyat kecil untuk melakukan berbagai keonaran, memancing kericuhan sampai harapan dan kepentingan mereka bisa diraih," tegasnya.

Sementara kelima adalah kecenderungan intervensi pihak asing memungkinkan terjadi polarisasi anatara masyrakat dengan elit. "Kebijakan ekonomi ataupun politik yang dipilih negara belum tentu akan memuasakan semua negara lain. Pihak-pihak asing yang merasa terancam dengan kebijakan negara, bisa saja berupaya menganggu stabilitas politik dan kemananan sampai akhirnya kompromi bisa terjadi. Kita bisa belajar dari pengalaman negara lain yang hancur oleh karena intervensi pihak asing," tegasnya lagi.(rez)

Editor : Reza Abdilah
#kompetisi #pemilu #Pilkada DKI Jakarta 2024