Data Badan Gizi Nasional (BGN), lebih dari 1,1 miliar porsi makanan bergizi telah tersaji bagi masyarakat Indonesia.
Capaian tersebut menjangkau 35,4 juta penerima manfaat, terdiri atas anak sekolah, balita, ibu hamil, dan ibu menyusui.
Hingga Oktober 2025, BGN mencatat keberadaan lebih dari 11.570 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang aktif beroperasi di seluruh wilayah, termasuk daerah 3T (Terdepan, Terpencil, dan Tertinggal).
Di Sulawesi Utara (Sulut), data per 19 Oktober, BGN mencatat sekira 74 SPPG telah beroperasi, tersebar di 12 kabupaten kota.
Kota Manado tercatat memiliki jumlah SPPG terbanyak, yakni 20 unit. Kabupaten Minahasa menyusul dengan 11 unit, Minahasa Utara 10 unit (selengkapnya lihat foto grafis).
"Program ini bukan sekadar tentang makan siang, tetapi investasi jangka panjang untuk mencetak generasi Indonesia yang sehat, cerdas, dan produktif,” ujar Kepala BGN Dadan Hindayana.
Namun, keunggulan MBG tidak berhenti di aspek kesehatan. Pemerintah menegaskan bahwa MBG juga menjadi motor penggerak ekonomi rakyat.
Melalui jaringan SPPG tersebut, lebih dari 394.748 lapangan kerja baru tercipta, mulai dari petani, peternak, hingga penyaji makanan.
Presiden Prabowo bahkan memperkirakan jumlah ini dapat menembus 1,5 juta tenaga kerja baru pada awal 2026.
“Program MBG telah menciptakan pasar baru bagi ekonomi rakyat. Petani dan peternak kini memiliki jaminan penyerapan hasil produksi lokal, dari beras dan telur hingga sayur dan protein hewani,” kata Presiden Prabowo dalam keterangan resminya.
Kementerian UMKM mencatat, sebanyak ribuan UMKM telah terlibat dalam rantai pasok MBG.
Dari total anggaran program, 85 persen dialokasikan untuk pengadaan bahan baku dari sektor pertanian, perikanan, dan perkebunan.
“Kami ingin memastikan minimal 60 persen bahan baku MBG berasal dari produk UMKM. Ini langkah nyata agar manfaat ekonomi dirasakan langsung oleh masyarakat,” ujar Deputi Bidang Usaha Mikro Riza Damanik.
Selain menggeliatkan ekonomi, MBG juga mempercepat pemerataan pembangunan infrastruktur gizi nasional.
Ratusan satuan tugas daerah dibentuk untuk mempercepat pembangunan SPPG di wilayah 3T dengan dukungan Kementerian Dalam Negeri dan Kementerian PUPR.
Untuk menjaga kualitas dan keamanan pangan, Presiden Prabowo juga menginstruksikan peningkatan standar pengolahan makanan di seluruh dapur MBG, termasuk penggunaan teknologi pencuci ultraviolet, filter air bersertifikat, dan kewajiban tenaga masak bersertifikat higienis.
Sementara itu, praktisi kesehatan dr Sunny Rumawung menekankan pentingnya penerapan standar higienitas dalam setiap dapur MBG di Sulut.
Menurutnya, setiap dapur MBG perlu memperketat proses produksi sesuai dengan ketentuan dari Badan Gizi Nasional.
Ia menegaskan bahwa faktor kebersihan menjadi penentu utama keberhasilan program ini.
“Bahan baku harus benar-benar segar dan berkualitas, proses pengolahan harus higienis, dan penyimpanan harus memperhatikan suhu serta sanitasi dapur. Semua itu penting untuk mencegah kontaminasi bakteri,” tegas dr Sunny.
Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa kesalahan kecil dalam pengolahan atau penyimpanan makanan bisa berdampak besar terhadap kesehatan penerima manfaat, khususnya anak-anak usia sekolah yang menjadi sasaran utama program MBG.
“Program MBG ini sangat baik karena membantu pemenuhan gizi masyarakat. Tapi kualitas makanan harus dijaga ketat.
Jangan sampai niat baik pemerintah justru berisiko karena lemahnya pengawasan sanitasi dapur,” ujarnya.
Ia juga mendorong pemerintah daerah dan pengelola MBG untuk rutin melakukan pelatihan dan audit kebersihan dapur.
Hal ini, kata dia, penting agar setiap tenaga pengolah makanan memahami standar gizi, teknik memasak sehat, serta cara menjaga kebersihan alat dan lingkungan kerja.
“Intinya, pencegahan bakteri harus menjadi prioritas utama. Semua dapur MBG harus punya standar operasional yang jelas agar produk makanannya aman, bergizi, dan layak konsumsi,” tutupnya seraya menambahkan, dengan penerapan standar higienitas yang ketat, program ini diharapkan semakin efektif dalam meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat.(tan/fys)
Editor : Franky Sumaraw