Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Dr. Maria Apriliani Gani: Perempuan Cerdas Minahasa yang Kembangkan Terapi Osteoporosis Berbasis Tanaman Obat Lokal

Amelia Beatrix • Rabu, 12 November 2025 | 09:07 WIB

DR. Maria Gani
DR. Maria Gani

MANADOPOST.ID — Dua tahun setelah meraih gelar doktor di usia 24 tahun, Dr. Maria Apriliani Gani terus menorehkan prestasi dan kontribusi luar biasa bagi dunia penelitian farmasi di Indonesia. Perempuan asal Minahasa, Sulawesi Utara, ini kini dikenal sebagai salah satu peneliti muda paling inspiratif yang fokus mengembangkan terapi osteoporosis berbasis tanaman obat lokal di Sekolah Farmasi Institut Teknologi Bandung (ITB).

Maria, yang lahir pada 9 April 1999, mencuri perhatian publik pada 2024 setelah menjadi doktor termuda dan wisudawan terbaik jenjang S3 di Fakultas Farmasi Universitas Airlangga (Unair) dengan IPK sempurna 4.00. Pencapaiannya menjadi simbol kecerdasan dan ketekunan generasi muda Indonesia, khususnya perempuan Kawanua yang berkiprah di bidang sains dan riset.

Riset untuk Masa Depan Kesehatan Tulang Indonesia

Kini, Dr. Maria memusatkan perhatiannya pada penelitian pengembangan model seluler untuk terapi osteoporosis. Ia melihat penyakit pengeroposan tulang ini sebagai ancaman besar bagi masyarakat Indonesia di masa depan.
Menurut data riset yang ia kutip, pada tahun 2050, sekitar sepertiga dari total populasi Indonesia diperkirakan berisiko osteoporosis dengan lebih dari separuh perempuan berusia di atas 70 tahun sudah mengalaminya.

DR. Maria Gani diantara Empat perempuan peneliti Indonesia raih penghargaan L’Oréal–UNESCO For Women in Science 2025 atas kontribusi mereka bagi kemajuan sains.
DR. Maria Gani diantara Empat perempuan peneliti Indonesia raih penghargaan L’Oréal–UNESCO For Women in Science 2025 atas kontribusi mereka bagi kemajuan sains.

Untuk menjawab tantangan tersebut, Maria merancang platform pengujian obat menggunakan metode kultur sel yang meniru kondisi tulang osteoporosis tanpa melibatkan banyak hewan coba. Metode ini dinilai lebih efisien, etis, dan ramah lingkungan.

Tak berhenti di situ, ia juga meneliti potensi tanaman herbal Indonesia seperti jahe dan daun kelor sebagai kandidat terapi alami untuk menjaga kepadatan tulang. “Obat konvensional belum sepenuhnya optimal. Indonesia punya kekayaan hayati luar biasa dan saya ingin membuktikan bahwa bahan alami lokal juga bisa menjadi solusi medis modern,” ujarnya optimistis.

Kiprah Global dan Semangat Mengabdi

Sebelum berkiprah di ITB, Maria telah mengharumkan nama Indonesia melalui berbagai penelitian internasional. Ia menerima beasiswa Peningkatan Kualitas Publikasi Ilmiah (PKPI) dari Kemendikbud-Ristek yang membawanya meneliti di Seoul National University, Korea Selatan. Ia juga dipercaya menjalankan proyek kolaboratif bersama University of Rennes, Prancis, serta memperoleh bantuan mobilitas Séjour Scientifique de Haut Niveau (SSHN) dari Pemerintah Prancis.

Pengalaman riset di luar negeri memperkaya wawasannya. “Saya belajar banyak dari teknologi dan kultur riset internasional. Tapi yang paling penting, saya ingin membawa ilmu itu pulang untuk kemajuan penelitian di Indonesia,” kata Maria.

Kini di usia 26 tahun, Dr. Maria Apriliani Gani menjadi sosok perempuan Kawanua yang membanggakan. Ia menunjukkan bahwa anak muda Indonesia mampu bersaing secara global tanpa melupakan akar budaya dan tanggung jawab sosial.Lewat semangatnya di dunia riset, Maria terus menginspirasi generasi muda untuk berani bermimpi besar dan berkontribusi nyata bagi negeri.

“Ilmu pengetahuan adalah bentuk pengabdian. Selama hasil penelitian saya bisa bermanfaat untuk masyarakat Indonesia, itu sudah menjadi kebanggaan terbesar,” tutupnya.(ame)

Editor : Amelia Beatrix
#ITB #osteoporosis #Penghargaan #peneliti muda #sulawesi utara #Maria Gani #Doktor #Minahasa