Bisakah Sulut jadi Pelopor Wisata Kesehatan di Indonesia?
Filip Kapantow• Selasa, 18 November 2025 | 22:31 WIB
Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK
Oleh
Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK
MANADOPOST.ID - Sulawesi Utara memiliki modal yang tidak dimiliki banyak wilayah lain di Indonesia, laut yang indah, udara bersih, ritme hidup yang menenangkan, dan tatanan religius Kristiani yang menyatukan komunitas. Dan ini semua adalah fakta berdasar data. Di tahun 2024 saja, Bunaken, Likupang dan sekitarnya menerima lebih dari 30 ribu wisatawan. Bahkan jumlah wisatawan mancanegara yang masuk lewat Bandara Sam Ratulangi mencapai 4.000 lebih pengunjung. Dan statistik kunjungan wisatawan domestik tentu juga jauh lebih besar dan terus meningkat setiap tahunnya.
Karena fondasi pariwisata Sulut sudah terbentuk, inilah saatnya kita mengajukan pertanyaan yang lebih visioner, bagaimana jika kekuatan alam terutama kelautan, keramah-tamahan budaya, dan konektivitas nasional dan internasional ini tidak hanya menjadi magnet wisata, tetapi juga fondasi ekonomi kesehatan masa depan? Dunia saat ini sedang bergerak menuju tren wisata berbasis pemulihan, kesehatan mental, dan layanan medis terpadu, dan Sulawesi Utara, dengan modal alam dan sosial yang tak dimiliki banyak daerah lain, sebenarnya berada dalam posisi strategis untuk mengambil peluang itu.
Pertanyaannya bukan lagi apakah wisatawan mau datang, tetapi apakah kita berani mengarahkan kedatangan itu menjadi wisata kesehatan yang terencana, terukur, dan memberi nilai tambah jangka panjang bagi masyarakat Sulut. Jawaban strategisnya tentu saja bisa, tetapi hanya jika Sulut berani melakukan repositioning yang tegas dan uni.
Karena fakta pertama yang harus diakui adalah pemerintah pusat telah menetapkan Bali dan Batam sebagai zona prioritas wisata medis nasional. Artinya Sulut tidak bisa sekadar masuk gelanggang dengan pendekatan “kami juga punya rumah sakit bagus”. Kompetisi semacam itu hanya akan menempatkan Sulut sebagai pengikut, bukan pelopor. Reputasi negara tetangga, Malaysia, Thailand, dan Korea dibangun melalui diferensiasi yang sangat jelas. Malaysia unggul pada fertilitas dan orthopaedi, Thailand kuat pada bedah estetika dan rehabilitasi, Korea pada layanan berbasis teknologi tinggi.
Jika Sulawesi Utara ingin menjadi pelopor, maka provinsi ini harus menemukan nilai proposisi berbeda yang tidak dimainkan daerah lain. Dan ini sebenarnya telah tersedia di depan mata, yaitu dengan memanfaatkan keunggulan kelautan dan maritim Sulut. Ini bisa dilakukan dengan memadukan layanan kesehatan dengan pemulihan berbasis alam laut, pegunungan, dan ketenangan sosial budaya.
Dalam sebuah konferensi kesehatan global, Asia Pacific Medical Health Landscape 2025 di bulan Oktober lalu, saya menghadiri sebuah sesi pleno tentang tren perjalanan wisata kesehatan pascapandemi, dimana layanan mental health retreat, program rehabilitasi pascastroke, dan pemulihan kesehatan berbasis lingkungan alam menjadi fokus investasi global. Kota-kota besar dan negara maju menawarkan teknologi, tetapi sangat sedikit yang menawarkan kombinasi kualitas medis dan suasana alam yang menenangkan. Disinilah Sulut bisa unggul secara alami. Sulut harus menjadikan laut sebagai instrumen pemulihan kesehatan yang terukur secara ilmiah.
Langkah pertama yang paling taktis adalah membangun satu proyek percontohan sederhana, cukup satu dulu, yang berbasis pemulihan kesehatan laut (marine-based wellness recovery). Misalnya, pilot project di Likupang atau Bunaken berupa program rehabilitasi ringan berbasis aktivitas laut berkendali, guided snorkeling, marine float therapy, terapi pernapasan di tepi pantai, dan sesi konseling mental dengan latar alam laut. Ini sudah menjadi salah satu sumber devisa di banyak negara Amerika Latin.
Namun, karena ini adalah suatu model pendekatan kesehatan, maka wajib ada pembuktian ilmiah. Perlu mulai membuat blueprint atau model pendekatan wisata kesehatan berbasis maritim yang memenuhi kaidah kedokteran namun juga dikembangkan menjadi sebuah prototipe bisnis.
Model wisata kesehatan berbasis bukti berarti setiap aktivitas pemulihan yang ditawarkan kepada wisatawan, mulai dari terapi pernapasan di pantai, guided snorkeling, hingga sesi konseling dengan latar alam, harus dapat diukur dampak kesehatannya secara ilmiah. Ini bukan sekadar paket relaksasi atau kegiatan rekreatif, tetapi intervensi yang diuji secara metodologis oleh akademisi kedokteran, psikologi, dan kesehatan masyarakat. Artinya, sebelum dijual sebagai produk wisata, seluruh intervensi perlu diuji dalam studi kecil, membuktikan bahwa aktivitas laut menurunkan tekanan darah, atau seberapa besar dampak terapi apung atau latihan fisik di atas pasir di sekitar pantai Likupang meningkatkan kualitas tidur dan menurunkan kecemasan.
Data studi klinis ini harus dipublikasikan di jurnal ilmiah terindeks. Dengan cara ini, model wisata kesehatan maritim di Sulut memiliki landasan ilmiah yang kuat dan dapat diterima oleh komunitas medis nasional dan internasional. Saya ingat di tahun 90-an, Profesor Posangi dan tim di Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran Unsrat telah menginisiasi studi kedokteran kelautan sejenis ini. Jadi infrastruktur dan sumberdaya ilmiah Sulut sejujurnya sudah tersedia.
Namun di saat yang sama, model ini tetap harus dirancang sebagai prototipe bisnis yang bisa dijual, direplikasi, dan diperluas. Artinya, setelah bukti ilmiah awal diperoleh, pemerintah, universitas, dan dunia usaha perlu membangun blueprint yang menjelaskan alur layanan, standar keselamatan, harga paket, peran rumah sakit, peran hotel dan resor, kebutuhan SDM, serta mekanisme pelaksanaan kegiatan. Blueprint ini harus memadukan dua hal sekaligus, clinical pathway (alur medis yang aman) dan business pathway (alur layanan yang menarik bagi wisatawan). Fakultas Ekonomi Unsrat atau Fakultas Ekonomi Manajemen Universtias Klabat telah memiliki beberapa kajian terkait pembuatan prototipe sejenis. Harusnya lebih mampu laksana mendapatkan model wisaya kesehatan maritim yang terbukti klinis dan bisnis.
Dengan begitu, Sulut dapat membangun sebuah produk wisata kesehatan yang bukan hanya indah secara naratif, tetapi teruji secara ilmiah dan layak secara ekonomi, sebuah prototipe yang bisa menjadi model rujukan nasional untuk wisata kesehatan berbasis laut.
Disini peran pemerintah provinsi menjadi penentu, tanpa keputusan politik yang jelas, prototipe ini hanya akan berhenti sebagai wacana akademis. Langkah pertama yang paling sederhana tetapi sangat strategis adalah membentuk Tim Percepatan Wisata Kesehatan Berbasis Laut yang beranggotakan dinas kesehatan, dinas pariwisata, dinas kelautan, Bappeda, perwakilan universitas, asosiasi rumah sakit, dan pelaku hotel/resor di lokasi pilot. Tim ini diberi mandat waktu yang tegas, misalnya 6 hingga 12 bulan untuk menyiapkan paket pilot lengkap, seperti penetapan lokasi (Likupang atau Bunaken), rumah sakit dan hotel mitra, standar operasional, simulasi klinis, simulasi bisnis, hingga skema pembiayaan awal. Tentu perlu anggaran, namun banyak perusahaan atau bahkan lembaga donor riset yang akan tertarik dengan proposisi ini.
Langkah berikutnya adalah mengintegrasikan prototipe ini ke dalam dokumen perencanaan resmi, agar tidak menjadi proyek satu kali jalan. Pemerintah perlu memfasilitasi MoU tripartit antara pemerintah daerah, universitas, dan konsorsium dunia usaha untuk menjamin keberlanjutan riset untuk monitoring klinis dan kepuasan pengunjung.
Setelah satu siklus pilot berjalan dan hasil ilmiah awal tersedia, pemerintah harus berani melangkah ke tahap berikut yaitu mengajukan skema dukungan dari pemerintah pusat, menjadikan prototipe ini sebagai proyek nasional, dan mengundang investasi yang lebih besar dengan membawa data, bukan hanya cerita. Ini jalur konkret agar Sulut menjadi laboratorium hidup wisata kesehatan berbasis laut yang diakui di tingkat Indonesia, bahkan Asia Pasifik.
Jika Sulut berani mengambil posisi ini, maka masa depan wisata medis Indonesia bukan hanya milik Bali atau Batam, tapi bisa dipimpin dari Manado, dari Minahasa, dari Likupang dari sebuah wilayah yang selama ini kita kenal sebagai surga wisata yang nantinya akan dikenal dunia sebagai surga pemulihan kesehatan. Dan pada saat itu terjadi, orang tidak lagi berkata “Mari jo diving ke Manado,” tetapi akan berujar, “Torang ke Manado jo supaya sehat.” (mpd)
Penulis Kolom Pakar Kesehatan:
Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK
Lulusan Fak. Kedokteran Unsrat, Pendiri Health Collaborative Center (HCC), Direktur Eksekutif Indonesia Health Development Center (IHDC)