Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Sejarawan dan Rohaniawan: Tidak ‘Ujug-Ujug’ Pemberian Nama Prof. Sumitro Djojohadikusumo

Tommy Waworundeng • Rabu, 18 Maret 2026 | 21:00 WIB

 

Majelis Kebudayaan Minahasa (MKM) usai pemberian gelar adat Amang Wangko Umbanua kepada Prof Dr Sumitro Djojohadikusumo tahun 1995 di TMII
Majelis Kebudayaan Minahasa (MKM) usai pemberian gelar adat Amang Wangko Umbanua kepada Prof Dr Sumitro Djojohadikusumo tahun 1995 di TMII

MANADOPOST.ID — Rencana penamaan Auditorium Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) menjadi Auditorium Prof. Soemitro Djojohadikusumo menuai beragam respons publik.

Namun, kalangan akademisi, sejarawan, hingga rohaniawan menilai langkah tersebut bukanlah keputusan yang muncul secara tiba-tiba, melainkan memiliki dasar historis yang kuat.

Rektor Universitas Sam Ratulangi Prof. Dr. Ir. Oktovian Berty Alexander Sompie, M.Eng. IPU, ASEAN, menyampaikan rasa syukur atas perhatian masyarakat terhadap kebijakan tersebut.

Menurutnya, reaksi yang muncul justru menunjukkan kuatnya rasa memiliki (sense of belonging) masyarakat terhadap Unsrat.

“Sangat bersyukur dan berterima kasih karena ini justru menjadi bukti kalau Unsrat itu milik semua,” ujar Rektor.

Ia menegaskan, penghargaan kepada tokoh besar seperti Sumitro seharusnya tidak ditunda. “Bila tidak sekarang, kapan lagi kita harus berterima kasih kepada tokoh besar yang telah meletakkan dasar dan mewariskan ide-ide pembangunan yang terus relevan hingga kini,” tambahnya.

Pandangan serupa disampaikan Wakil Sekretaris Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Sulawesi Utara, Roger Kembuan MA. Ia menilai, kiprah Sumitro memiliki jejak sejarah panjang, khususnya di Sulawesi Utara.

Menurut Roger, pengakuan masyarakat terhadap Sumitro bukan hal baru. Pada 1995, melalui Majelis Kebudayaan Minahasa (MKM), Sumitro dianugerahi gelar adat Amang Wangko um Banua.

Bahkan jauh sebelumnya, saat berkunjung sebagai Menteri Ekonomi pada 1969, Sumitro telah mendorong diversifikasi pertanian melalui pengembangan cengkih sebagai alternatif dari monokultur kelapa.

“Pandangan visioner Sumitro dalam mendorong pemerataan kesejahteraan petani lewat komoditas cengkih terbukti pada dekade-dekade berikutnya,” ujar Roger, yang juga pernah menjadi dosen tamu di Louvain University Belgia dan mempresentasikan kajian sejarah di Leiden University Belanda.

Dukungan juga datang dari kalangan rohaniawan. Pendeta Dr. R.A.D. Siwu, yang menyaksikan langsung penganugerahan gelar adat kepada Sumitro pada 1995, menegaskan bahwa kontribusi tokoh tersebut telah berlangsung lama.

“Janganlah momentum baik ini digiring ke narasi seolah-olah tiba-tiba. Mari kita bersama-sama memberi penghargaan tertinggi atas jasa-jasa itu,” tegasnya.

Sementara itu, sejarawan muda Bodewyn Talumewo mengajak publik melihat peran Sumitro dalam konteks sejarah yang lebih luas, termasuk pada masa pergolakan PRRI/Permesta.

Ia menilai Sumitro memiliki keberanian untuk mendorong konsep desentralisasi di tengah sistem pemerintahan yang saat itu sangat tersentralisasi.

Menurut Bodewyn, gagasan tersebut sejalan dengan pemikiran Sam Ratulangi tentang otonomi daerah, yang baru menemukan momentumnya setelah era reformasi 1998.

“Hal ini perlu digali dan disambungkan agar terlihat linieritas pemikiran dan kontribusinya,” ujar Bodewyn yang saat ini tengah menempuh studi magister sejarah di Universitas Hasanuddin, Makassar.

Dengan berbagai pandangan tersebut, rencana penamaan Auditorium Unsrat dinilai bukan sekadar simbol, melainkan bentuk penghargaan atas kontribusi panjang seorang tokoh bangsa yang jejak pemikirannya masih terasa hingga kini. (*)

Editor : Tommy Waworundeng
#Prof Sumitro Djojohadikusumo #Rektor unsrat #Unsrat