MANADOPOST.ID-Utusan Khusus Presiden Hashim Djojohadikusumo dalam sukacita Paskah Nasional 2026 di Manado, Sulawesi Utara, Rabu (8/4), menegaskan bahwa ia dan kakaknya Presiden RI Prabowo Subianto, merupakan anak dari tokoh Permesta, Prof Sumitro Djojohadikusumo.
"Saya berhak ngomong ini, karena ibu kami adalah dari Langowan, Sulawesi Utara. Saya berhak ngomong begini, karena orang tua kami, Prof Sumitro Djojohadikusumo adalah salah satu pemimpin Permesta," tegasnya lagi.
Pernyataan Hasyim yang menyebut ayahnya sebagai salah satu pemimpin gerakan Permesta, memantik perhatian publik, terutama karena dinilai memiliki benang emas dengan diskusi “Sumitronomics” serta semangat Piagam Permesta 2 Maret.
Isu ini mengemuka dalam ruang redaksi Manado Post, yang belakangan intens mengangkat kembali gagasan ekonomi dan sejarah perjuangan daerah sebagai bagian dari refleksi terhadap arah pembangunan nasional.
Di mana Philip P Pantouw dan Willy H Rawung dalam materi Diskusi Sumitronomics di Manado Post 2 Maret lalu, pada bagian untold story Refleksi Historis “Sumitro dan Piagam Permesta” menulis: “Sebelum Permesta diproklamasikan pada 2 Maret 1957 di Makassar, terjadi pertemuan di Kinilow, Minahasa.
Hadir Dr. Sumitro mantan Menteri Keuangan Indonesia ke-8 (2 Agustus 1955 – 24 Maret 1956), yang di antara para sahabat biasa dipanggil akrab “Tjum”. Mendiskusikan secara detail tentang tuntutan pemerataan pembangunan yang dibiayai dari hasil desentralisasi dan otonomi daerah yang seluas-luasnya.
Serta bentuk pemerintahan daerah dan pusat yang kuat bersatu serta mampu menjalankan sistem yang baru itu, antara lain: pemerintahan yang bersih dan tidak korupsi. Kepada para tokoh politik dan perwira militer profesional itu, Dr. Sumitro memberi pendalaman tentang hal-hal konkrit yang perlu dilaksanakan untuk mewujudkan ‘tuntutan pemerataan pembangunan yang adil antara pusat dan daerah’, serta format pemerintahan yang diperlukan untuk itu. Rumusan dibuat detail dan konkrit dalam bahasa sederhana yang mudah dipahami rakyat.
Maka ketika Piagam Permesta ditandatangani Herman Nicolas (Ventje) Sumual dan 50 tokoh Indonesia Timur di Makassar pada tanggal 2 Maret 1957, ditemukan butir-butir pemikiran Dr. Sumitro.”
Sambutan Hasyim Djojohadikusumo, staf khusus Presiden, pada Paskah Nasional di Manado hari ini 8 April 2026, menegaskan: “Ada Gerakan Permesta. Mungkin ada banyak anak muda, tadi Pak Gugun (staf khusus Menteri Agama) sebut gen Z, gen milenial. Mungkin gen Milenial lupa Permesta itu apa.
Permesta adalah Perjuangan Semesta. Suatu gerakan untuk menegakan otonomi rakyat di daerah. Otonomi daerah yang kemudian 40 tahun…. maaf 20 tahun kemudian tercapai.
Intinya ada aspirasi dari warga di daerah-daerah seperti di Sulut supaya ada keadilan sosial, politik dan ekonomi. Jangan hanya semua berpusat di pulau Jawa saja. Saya berhak omong begini karena ibu kami dari Langowan, Sulawesi Utara. Saya berhak omong begini karena orang tua kami, tadi disebut oleh Pak Gugun, Prof. Dr. Sumitro Djojohadikusumo, adalah salah satu pemimpin Permesta. Dia kelahiran orang Jawa, Raden Mas Sumitro Djojohadikusumo. Tapi dia sangat peduli dengan aspirasi warga di daerah, termasuk daerah istrinya tercinta Dora Sigar Maengkom….”.
Sambutan Hasyim. Adik kandung Presiden Prabowo Subianto, cucu kandung dari Philip Frederik Laurens Sigar (1885–1946) dan Cornelie Emilia Maengkom (1888–1946) adalah testimoni sekaligus konfirmasi akan peran intelektual salah seorang pemimpin yang menginspirasi Piagam Pemesta, Dr. Sumitro Djojhadikusumo.
Patut pula dicatat ucapan Hasyim, “Saya berhak omong begini karena ibu kami dari Langowan, Sulawesi Utara. Saya berhak omong begini karena orang tua kami, Prof. Dr. Sumitro Djojohadikusumo adalah salah satu pemimpin Permesta.”
Hashim mengingatkan masyarakat bumi nyiur melambai terkait Perjuangan Rakyat Semesta (Permesta).
Dalam sambutannya dihadapan tokoh nasional, forkopimda dan puluhan ribu jemaat gereja-gereja di Sulut yang hadir di Pohon Kasih Manado, dirinya mengingatkan terkait perjuangan para pendahulu untuk mensejahterakan masyarakat.
"Karena kita sudah tahu, sejarah Indonesia banyak kejadian-kejadian. Di Aceh, di Papua, tapi juga disini, di Minahasa ada gerakan Permesta. Mungkin Gen Z dan Milenia lupa Permesta itu apa. Permesta itu adalah Perjuangan Rakyat Semesta," katanya.
Menurutnya yang merupakan adik kandung dari Presiden Prabowo Subianto, Permesta itu merupakan gerakan yang menuntut otonomi daerah. "Ini adalah gerakan yang ingin menegakkan otonomi rakyat di daerah. Otonomi daerah," tegasnya menambahkan walaupun otonomi daerah baru tercapai 20 tahun setelah gerakan Permesta terjadi.
"Otonomi daerah, 20 tahun kemudian, tercapai. Tapi pada intinya, ada aspirasi warga di daerah seperti di Sulawesi Utara, supaya ada keadilan sosial politik dan ekonomi," ungkapnya. "Jangan hanya semua terpusat di pulau Jawa saja," sambungnya.
Dirinya menegaskan hal ini, karena menurutnya dia merupakan anak dari tokoh Permesta, Prof Sumitro Djojohadikusumo. "Saya berhak ngomong ini, karena ibu kami adalah dari Langowan, Sulawesi Utara. Saya berhak ngomong begini, karena orang tua kami, Prof Sumitro Djojohadikusumo adalah salah satu pemimpin Permesta," tegasnya lagi.
"Ia adalah orang kelahiran Jawa, Raden Mas Sumitro Djojohadikusumo. Tapi dia sangat peduli dengan aspirasi warga di daerah, termasuk warga di daerah istrinya tercinta, Dora Sigar Maengkom," tambahnya.
Diketahui pernyataan Hashim ini, sejalan dengan Diskusi Panel yang berlangsung di Grha Pena Manado Post, 2 Maret 2026 lalu. Pasalnya di tanggal tersebut, dimaknai dalam ulang tahun ke 69 Piagam Permesta. Maka ide-ide yang melatarbelakangi pergerakan Permesta yang telah ada dari 1957, dibahas tuntas dalam Diskusi Panel tersebut.
Dengan tema Soemitronomics dan Prabowonomics menuju Indonesia Emas 2045. Menghadirkan para intelektual, sejarawan, budayawan, guru besar dan pengusaha di Sulawesi Utara.
Pasalnya piagam Permesta yang diproklamasikan pada tahun 1957 di Makassar merupakan tonggak sejarah koreksi daerah terhadap kebijakan pembangunan nasional. Semangatnya menekankan pemerataan, keadilan ekonomi dan penguatan daerah, sebagai pilar kemajuan bangsa.
Maka dijabarkan jelas dalam diskusi panel ini, bahwa sejalan dengan itu, pemikiran Sumitro Djojohadikusumo tentang Ekonomi Benteng atau Sumitronomics dan visi ekonomi Presiden Prabowo Subianto yang dikenal Prabowonomics, menjadi benang emas untuk memutus rantai kemiskinan dan mewujudkan Visi Indonesia Maju Untuk Indonesia Emas 2045.
Halnya ditegaskan Ketua Majelis Keluarga Besar (MKB) Permesta Philip Pantouw. Dirinya menegaskan bahwa Sumitro adalah Semangat dan Prabowo dalam Gerakan. Menurutnya tema ini dikemukakan, bukan sekedar gambaran, bahwa Prof Sumitro adalah tokoh nasional yang akan melanjutkan Indonesia menuju Indonesia emas.
"Kita harus mendukung kenyataan sejarah ini. Terjadi ketidakpuasan bahwa pemikiran beliau, betentangan dengan pemerintah saat itu (orde lama). Sedangan paham Sumitro adalah menuju pasar terbuka, untuk mencapai Indonesia Emas," katanya menambahkan pemikiran yang sama dilakukan Tiongkok sehingga bisa berkembang sampai saat ini. "Ternyata pemikiran Prof Sumitro benar," tegasnya.
Lanjutnya bahwa konsepsi Permesta adalah pokok pikiran Prof Sumitro yang tertuang dalam piagam Permesta. "Jadi Permesta adalah langkah pertama untuk mewujudkan konsep pemikirannya. Ini benang emas. Pertama Permesta hanya melakukan tindakan politik yang dituangkan dalam piagam Permesta. Diajukan ke bung Karno namun tidak ditanggapi serius. Malah langsung ditanggapi dengan penyerangan di Manado," terangnya.
"Permesta hanya mengadakan pembelaan diri. Permesta bukan pemberontak. 69 tahun Permesta di distorsi dengan tidak kesesuaian," terangnya.
Maka sekali lagi ditegaskan Pantouw. "Sehingga kita kenal Prabowonomics adalah tiruan pikiran yang diambil dari ide bapaknya. Ini menjabarkan apa yang diupayakan oleh Permesta dahulu. Ini harus diluruskan pandangan keliru. Saatnya kita meluruskan apa yang sebenarnya, pemesta tidak memberontak," terangnya.
Apa yang diperjuangkan dalam piagam Permesta, akan dilanjutkan Presiden Prabowo. "Saatnya kita bangga. Kita bisa bersyukur bisa mendapatkan kesenangan untuk meluruskan Permesta. Hidup Permesta! tegasnya lagi.
Ditambahkan Ketua Perhimpunan Tou Minahasa dalam Willy Rawung dalam refleksi historis Sumitronomics yang disusunnya bersama Philip Pantouw, ada beberapa garis besar. Yakni program Benteng tahun 1950-1957, Piagam Semesta tanggal 2 Maret 1957, Trilogi Pembangunan pada 1968-1998 dan Prabowonomics di 2024-2045.
Menurutnya Sumitronomics yang bertumpu pada tiga pilar utama. Yakni pertumbuhan ekonomi tinggi, pemerataan manfaat pembangunan dan stabilitas nasional yang dinamis.
"Saya tidak terlibat langsung (Permesta). Kami menuliskan ini dengan sumber yang resmi. Tidak ada yang kami karang, kami kutip kalimat langsung. Dan namanya tulisan ada kekurangan, maka diskusi ini untuk melihat perspektif untuk diskusi. Agar menambah pemahaman kami. Yang ditujukan untuk generasi muda atau yang menangkap salah dari sudut pandang lain," tegasnya.
Maka Prabowonomics merupakan konsep pemikiran Dr Sumitro yang tercermin dalam rangkaian Program Benteng, Piagam Permesta serta Trilogi Pembangunan Orde Baru. "Kita memahami bahwa Prabowonomics yang merupakan Program Asta Cita Prabowo Subianto-Gibran menuju Indonesia Emas tahun 2045 tidak lain adalah titisan Sumitronomics yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi masa kini," ungkapnya.
"Pertumbuhan ekonomi tinggi, kedaulatan ekonomi, intervensi negara dalam sektor vital, serta sinergi fiskal dan investasi untuk pemerataan. Konsep Prabowononics bagaikan kemuncak untaian benang emas dalam Sumitronomics. Hilirisasi untuk memberi nilai tambah, MBG, Sekolah Rakyat, Sekolah Garuda, Koperasi Desa Merah Putih, Desa Nelayan, Swasembada Beras, Ketahanan Pangan, pemberantasan korupsi, Danantara, Cek Kesehatan Gratis (CKG) bagi seluruh masyarakat dan lainnya. Prabowonomics memotong mata rantai kemiskinan ekstrem rakyat Indonesia," tegasnya dikutip dalam refleksi histori Sumitronomics. (*)
Editor : Tommy Waworundeng