MANADOPOST.ID — Di tengah hiruk-pikuk tanggung jawab sebagai wakil rakyat di Senayan, Christiany Eugenia Paruntu (CEP) justru menunjukkan satu fondasi yang tak tergoyahkan yakni menempatkan Tuhan Yesus sebagai pusat dari setiap langkah pengabdian.
Momen itu terlihat begitu hening namun sarat makna saat Anggota DPR RI Komisi VI tersebut mengunjungi Gereja Paroki Bunda Hati Kudus Yesus di Desa Rumengkor, Kabupaten Minahasa.
Sebuah rumah ibadah yang sempat terluka akibat gempa bumi berkekuatan 7,6 magnitudo yang mengguncang Sulawesi Utara beberapa waktu lalu.
Di tengah keheningan, dan suasana yang masih syadu, hadir kekuatan lain yang tak kasat mata dimana iman dan solidaritas hadir.
CEP datang bukan sekadar membawa bantuan, tetapi juga menghadirkan pengharapan.
Bantuan uang tunai dari Fraksi Partai Golkar DPR RI serta paket sembako bagi para lansia dan janda-duda disalurkan dengan penuh empati.
Namun, yang membuat momen itu berbeda bukan hanya aksi sosialnya melainkan apa yang terjadi setelahnya.
Dalam suasana yang sederhana, CEP dengan penuh kerendahan hati meminta waktu sejenak.
Hanya lima menit. Ia berdiri di depan altar, di bawah bayang-bayang salib, lalu menundukkan kepala.
Di sana, Imanuel Ohoiwutun, Pastor Paroki setempat, menumpangkan tangan dan memimpin doa.
Sebuah gestur spiritual yang melampaui formalitas menjadi simbol penyerahan diri seorang pemimpin kepada kehendak Ilahi.
Doa pun mengalir. Keselamatan, kesehatan, kekuatan, serta limpahan kasih karunia bagi CEP dalam setiap tugas pelayanannya.
“Dalam diri Ibu CEP, kami melihat seorang pemimpin yang tidak hanya bekerja dengan pikiran dan tenaga, tetapi juga dengan hati yang tertambat pada Tuhan. Di tengah kesibukan dan tanggung jawab besar, beliau masih menyediakan ruang untuk berdoa dan berserah," imbuh Pastor Imanuel.
Dirinya mengatakan, pelayanan CEP itu bukan hal yang sederhana itu adalah kesaksian iman.
"Kami mendoakan agar Tuhan Yesus senantiasa menyertai setiap langkah pelayanannya, memberi kekuatan, hikmat, dan perlindungan, agar apa yang ia kerjakan sungguh menjadi berkat bagi banyak orang," ucapnya.
Sementara itu, dalam pengharapan CEP mengatakan bahwa jadikan Tuhan Yesus sebagai prioritas adalah jalan menuju keselamatan.
“Saya percaya, setiap langkah pelayanan harus dimulai dengan doa. Tanpa Tuhan, kita bisa kehilangan arah, bahkan dalam niat yang baik sekalipun. Apa yang saya lakukan hari ini bukan semata-mata kewajiban sebagai wakil rakyat, tetapi panggilan iman untuk hadir bagi sesama, terutama mereka yang sedang mengalami kesulitan," katanya.
Bupati Minsel 2 periode itu mengatakan bahwa, gereja ini mungkin sempat runtuh secara fisik, tetapi iman tidak boleh runtuh.
"Justru dari situ kita belajar bahwa kasih Tuhan selalu memulihkan. Saya hanya ingin menjadi alat kecil dalam rencana besar Tuhan untuk menghadirkan pengharapan,” bebernya.
Peristiwa ini bukan sekadar agenda bantuan. Ia menjelma menjadi refleksi mendalam tentang kepemimpinan yang berakar pada spiritualitas bahwa di balik kekuasaan, ada kerendahan hati di balik program, ada doa dan di balik pelayanan, ada kasih.
Di bawah salib itu, seorang pemimpin tidak berdiri sebagai penguasa, melainkan sebagai hamba. Dan dari situlah, makna sejati pengabdian menemukan bentuknya. (ewa)
Editor : Baladewa Setlight