Viral Pernyataan Wakil Presiden ke-10 dan 12 Republik Indonesia Jusuf Kalla, Ini Tanggapan Bijak Pdt Dr Gilbert Lumoindong
Filip Kapantow• Rabu, 15 April 2026 | 11:43 WIB
Pdt Dr Gilbert Lumoindong
MANADOPOST.ID - Pendeta Dr Gilbert Lumoindong angkat bicara terkait kehebohan di media sosial mengenai potongan video pernyataan Wakil Presiden ke-10 dan 12 RI Jusuf Kalla yang sempat memicu perdebatan di tengah masyarakat.
Dalam penjelasannya, Gilbert mengingatkan umat agar tidak mudah terpancing emosi hanya karena melihat potongan video singkat yang belum tentu menggambarkan konteks sebenarnya.
Ia menekankan pentingnya memegang prinsip Alkitab dalam Kitab Yakobus 1:19, yakni “cepat mendengar, tetapi lambat berkata-kata dan lambat untuk marah.”
"Setelah menyaksikan video lengkapnya, pernyataan Jusuf Kalla justru berbicara mengenai upaya perdamaian dan kerukunan antarumat beragama," ungkap Pdt Gilbert.
Mantan wakil presiden itu disebut sedang menceritakan pengalamannya turun langsung untuk meredam konflik berdarah yang pernah terjadi di Ambon dan Poso.
Dalam kisah tersebut, Jusuf Kalla dikatakan mengumpulkan pihak-pihak yang bertikai dan menegaskan bahwa tidak ada agama, baik Kristen maupun Islam, yang mengajarkan pembunuhan terhadap orang tidak bersalah sebagai jalan menuju surga.
Sebaliknya, tindakan seperti itu justru disebut akan membawa seseorang kepada hukuman.
Gilbert juga mengingatkan umat Kristen agar tidak mudah terprovokasi oleh pihak-pihak yang sengaja memotong video untuk memecah belah persatuan bangsa.
"Ajaran kekristenan selalu mengedepankan kasih dan prinsip untuk tidak melakukan kepada orang lain apa yang tidak ingin dilakukan kepada diri sendiri," tegasnya.
Terkait pasal penistaan agama, Gilbert menyatakan sependapat dengan Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) bahwa aturan tersebut sangat rentan dipelintir dan berpotensi disalahgunakan. Karena itu, ia menilai pasal tersebut sebaiknya dihapuskan.
Sebagai jalan keluar jika terjadi gesekan atau perbedaan pandangan antarumat beragama, Gilbert menyarankan agar persoalan diselesaikan melalui dialog lembaga resmi seperti Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam, Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Kristen, maupun forum antarorganisasi keagamaan seperti Majelis Ulama Indonesia dan PGI.
"Saya mengajak seluruh masyarakat untuk menjaga ketenangan dan keutuhan bangsa, terlebih di tengah situasi ekonomi yang sedang tidak baik. Masyarakat tidak mudah terbawa emosi dan sedikit-sedikit melapor ke polisi hanya karena persoalan yang berawal dari potongan video provokatif," kuncinya. (mpd)