Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Yahudi Bebas Ibadah di Manado, Tapi Kota Ini Malah ‘Tersingkir’ dari 10 Besar Daftar Kota Paling Toleran di Indonesia 

Tommy Waworundeng • Jumat, 24 April 2026 | 07:37 WIB
Kota Manado kota paling toleran.
Kota Manado kota paling toleran.

 

MANADOPOST.ID– Ada yang terasa janggal sekaligus menggelitik. Di saat banyak kota di dunia masih bergulat dengan isu kebebasan beragama, Manado justru dikenal sebagai tempat di mana semua umat bebas beribadah, bahkan umat Yahudi pun bebas beribadah.

Bahkan, tak sedikit yang menyebut hanya dua tempat di dunia yang “ramah total”: Manado dan Amerika. Karena bangsa Yahudi yang paling dibenci di dunia dan ditolak di mana mana, tapi hanya di Amerika dan Manado umat Yahudi ini bebas beribadah.

Tetapi mengejutkan, Manado malah tidak masuk 10 besar kota paling toleran di Indonesia versi SETARA Institute terbaru.

Yahudi Bebas Ibadah di Manado, Tapi Kota Ini Malah ‘Tersingkir’ dari 10 Besar Daftar Kota Paling Toleran di Indonesia. Berikut grafis daftar  kota paling toleran di Indonesia
Yahudi Bebas Ibadah di Manado, Tapi Kota Ini Malah ‘Tersingkir’ dari 10 Besar Daftar Kota Paling Toleran di Indonesia. Berikut grafis daftar kota paling toleran di Indonesia

 

Warga pun bingung.
“Ini kita terlalu toleran sampai tidak terdeteksi, atau indikatornya yang butuh kacamata baru?” celetuk seorang warga dengan nada setengah serius, setengah ngakak.

Di warung kopi, diskusi langsung naik level. Dari yang awalnya bahas rica-rica, mendadak berubah jadi forum evaluasi nasional. Ada yang nyeletuk, “Jangan-jangan karena kita sudah terlalu damai, jadi tidak viral. Yang ribut-ribut malah dapat poin?”

Sementara itu, menurut SETARA Institute, penilaian kota toleran bukan sekadar rasa damai di hati, tapi ada delapan indikator “resmi” yang cukup serius: mulai dari dokumen RPJMD, kebijakan pemerintah, jumlah peristiwa intoleransi, sampai dinamika masyarakat sipil dan laporan pelanggaran kebebasan beragama.

Singkatnya, toleransi tidak cukup hanya hidup rukun—harus juga “terdata, terdokumentasi, dan terukur.”

Nah, di sinilah warga mulai mengernyit.
“Kalau torang hidup rukun tapi tidak lapor-lapor, berarti tidak masuk hitungan?” kata warga lain, kali ini sambil menyeruput kopi dengan tatapan filosofis.

Fakta bahwa Manado dikenal terbuka—bahkan terhadap komunitas kecil seperti umat Yahudi—justru membuat sebagian warga merasa hasil ini seperti ironi. Kota dengan semboyan Torang Samua Basudara kini harus menerima kenyataan bahwa persaudaraan saja belum cukup tanpa indikator administratif.
Di media sosial, reaksi pun beragam. Ada yang menyindir, ada yang reflektif, dan ada juga yang tetap santai:
“Tidak apa-apa tidak masuk 10 besar, yang penting masih masuk hati… eh maksudnya tetap rukun.”
Meski bernada ringan, pesan yang muncul cukup dalam:
Mungkin ini saatnya Manado tidak hanya hidup dalam toleransi, tapi juga “mendokumentasikan” toleransi itu—biar tidak cuma terasa, tapi juga terbaca dalam angka.
Atau seperti kata netizen:
“Selama ini torang baku sayang diam-diam, ternyata survei maunya torang baku lapor juga.”(*)

Editor : Tommy Waworundeng
#Daftar Kota Toleransi di Indonesia #yahudi #MANADO