MANADOPOST.ID – Gubernur Akademi Militer (Akmil), Rano Tilaar, memberikan kuliah umum di hadapan sekitar 1.500 mahasiswa Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado, Kamis (11/6), di Auditorium Prof. Soemitro Djojohadikoesoemo, Kampus Unsrat.
Kuliah umum yang diprakarsai oleh Majelis Keluarga Besar (MKB) Permesta di bawah kepemimpinan Philip Pantouw tersebut dipandu langsung oleh Rektor Unsrat, Prof Dr Ir Berty Sompie, sebagai moderator.
Mengangkat tema “Dinamika Pembinaan Generasi Muda Indonesia di Tengah Pesatnya Perkembangan Geopolitik Dunia”, Mayjen TNI Rano Tilaar mengajak mahasiswa memahami berbagai dinamika global yang memengaruhi kehidupan bangsa dan negara, sekaligus menekankan pentingnya kesiapan generasi muda menghadapi tantangan masa depan.
Dalam paparannya, Rano Tilaar menjelaskan bahwa geopolitik pada dasarnya tidak dapat dipisahkan dari kepentingan negara. Menurutnya, politik selalu berbicara tentang kepentingan, baik dalam hubungan antarnegara maupun dalam upaya mempertahankan eksistensi suatu bangsa.
Ia mengutip ungkapan klasik Latin, “Si vis pacem, para bellum” yang berarti “Jika ingin damai, bersiaplah untuk perang.” Menurutnya, makna ungkapan tersebut bukan untuk mendorong perang, melainkan mengingatkan bahwa sebuah negara harus memiliki kesiapan, kekuatan, dan strategi agar mampu menjaga keamanan dan kedaulatannya.
Rano Tilaar kemudian mengulas sejumlah teori geopolitik yang berkembang dalam sejarah dunia. Salah satunya adalah pemikiran Friedrich Ratzel yang memperkenalkan konsep Lebensraum atau ruang hidup. Dalam teori tersebut, negara dipandang sebagai organisme yang terus berkembang dan membutuhkan ruang untuk bertumbuh.
Menurutnya, gagasan tersebut kemudian memengaruhi banyak negara besar dalam memperluas wilayah, pengaruh, maupun akses terhadap sumber daya. Dari sinilah lahir berbagai praktik kolonialisme yang dilakukan bangsa-bangsa Eropa terhadap negara-negara di Asia dan Afrika.
Ia mencontohkan bagaimana Inggris pada masa kejayaannya membangun imperium besar yang wilayah jajahannya tersebar di berbagai belahan dunia. Kondisi itu membuat Inggris dikenal sebagai negara yang “mataharinya tidak pernah terbenam” karena luasnya wilayah kolonial yang dimiliki.
Dalam kesempatan tersebut, Rano Tilaar juga mengingatkan bahwa pemikiran tentang superioritas bangsa tertentu sering kali menjadi dasar pembenaran bagi praktik penjajahan dan eksploitasi. Bangsa-bangsa yang dianggap lebih kuat merasa memiliki hak untuk menguasai bangsa lain demi kepentingan ekonomi maupun politik.
Pembahasan kemudian berlanjut pada pengalaman Jepang di Asia, termasuk Indonesia. Ia menjelaskan bahwa Jepang pernah datang dengan propaganda sebagai “saudara tua” dan pemimpin Asia yang membebaskan bangsa-bangsa Asia dari kolonialisme Barat. Namun dalam praktiknya, Jepang tetap menjalankan penjajahan yang menimbulkan penderitaan rakyat melalui kerja paksa dan berbagai bentuk penindasan.
Contoh lain yang disampaikan adalah Nazi Jerman pada masa Perang Dunia II. Menurutnya, ideologi yang menganggap ada bangsa unggul dan bangsa yang lebih rendah telah melahirkan tragedi kemanusiaan besar melalui kamp-kamp konsentrasi dan pembunuhan massal terhadap berbagai kelompok masyarakat.
“Dari sejarah itu kita belajar bahwa geopolitik bukan sekadar teori. Ia memengaruhi keputusan negara, perang, penjajahan, dan bahkan nasib jutaan manusia,” ujarnya.
Rano Tilaar menegaskan bahwa kekuatan suatu bangsa tidak hanya ditentukan oleh persenjataan. Strategi, kepemimpinan, pendidikan, diplomasi, dan kemampuan membaca perubahan dunia menjadi faktor yang jauh lebih penting dalam menentukan masa depan sebuah negara.
Dalam pembahasannya mengenai Tiongkok, ia menguraikan perjalanan negara tersebut dari negara agraris menjadi salah satu kekuatan ekonomi terbesar dunia. Setelah melalui berbagai pergolakan politik dan ekonomi, termasuk masa pemerintahan Mao Zedong, Tiongkok kemudian melakukan transformasi besar pada era Deng Xiaoping dengan membuka ruang bagi pertumbuhan ekonomi berbasis pasar.
Menurutnya, kombinasi antara sistem politik yang tetap berada di bawah kendali Partai Komunis dan keterbukaan ekonomi menjadikan Tiongkok mampu berkembang pesat. Melalui berbagai proyek strategis seperti Belt and Road Initiative (BRI), Tiongkok kini menggunakan kekuatan ekonomi sebagai instrumen geopolitik untuk memperluas pengaruh global.
Ia menjelaskan bahwa persaingan antarnegara saat ini tidak selalu diwujudkan melalui perang terbuka. Pengaruh dapat dibangun melalui investasi, pembangunan infrastruktur, perdagangan, teknologi, hingga penguasaan pasar global.
Dalam konteks hubungan internasional, Rano Tilaar juga menyinggung peran Amerika Serikat dan berbagai kepentingannya di kawasan strategis dunia, termasuk Timur Tengah. Menurutnya, dukungan suatu negara terhadap negara lain umumnya didasarkan pada pertimbangan geopolitik, keamanan, ekonomi, energi, dan kepentingan strategis lainnya.
Karena itu, ia mengajak mahasiswa untuk melihat berbagai konflik internasional secara objektif dan memahami peta kepentingan yang melatarbelakanginya.
Pada bagian akhir kuliah umum, Rano Tilaar menekankan pentingnya menjaga persatuan bangsa Indonesia yang memiliki keberagaman suku, agama, budaya, dan bahasa. Ia menyebut keberagaman tersebut sebagai kekuatan besar yang harus terus dirawat.
Menurutnya, salah satu warisan penting yang ditinggalkan oleh Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, adalah kemampuan mempersatukan bangsa yang sangat majemuk dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.
“Generasi muda harus memahami sejarah, geopolitik, dan posisi strategis Indonesia di tengah perubahan dunia. Indonesia tidak boleh hanya menjadi penonton dalam persaingan global, tetapi harus menjadi bangsa yang siap, cerdas, dan mampu menjaga kedaulatannya,” tegasnya.
Kuliah umum tersebut mendapat antusiasme tinggi dari para mahasiswa yang memadati auditorium. Melalui kegiatan ini, diharapkan lahir generasi muda yang memiliki wawasan kebangsaan yang kuat, memahami dinamika geopolitik global, serta mampu menjadi pemimpin masa depan yang berpijak pada kepentingan nasional Indonesia. (*)