Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Sulut Ranking 1 Antrean Solar, Tontonan Wisatawan Dunia

C
Penulis: Clavel Lukas❯
Antrean Solar di salah satu SPBU. Dok MP
Antrean Solar di salah satu SPBU. Dok MP

Advertisement

Apakah sudah saatnya pemerintah berhenti sekadar berbicara tentang pengembangan pariwisata dan mulai mewujudkan rencana-rencananya menjadi tindakan nyata?

Bagaimana mungkin Sulawesi Utara ditetapkan sebagai destinasi pariwisata prioritas jika kondisi di lapangan justru menunjukkan hal yang sebaliknya?

Krisis bahan bakar solar di Sulawesi Utara—bahkan hingga Toraja—telah menjadi ancaman serius bagi sektor pariwisata dan pembangunan ekonomi. 

Advertisement

Antrean panjang yang mencapai 50 truk atau lebih di SPBU, maraknya penjualan solar di pasar gelap, serta waktu tunggu lebih dari dua jam hanya untuk mungkin mendapatkan solar, kini telah menjadi pemandangan yang biasa.

Pariwisata tidak dapat berjalan dengan sendirinya. Sopir, operator tur, hotel, restoran, dan pelaku usaha lokal semuanya bergantung pada infrastruktur yang andal. 

Antrean Solar di salah satu SPBU. Dok MP
Antrean Solar di salah satu SPBU. Dok MP

Advertisement

Bagaimana kita dapat mengharapkan seorang sopir yang baru saja menyelesaikan perjalanan wisata darat selama 8 hingga 10 jam bersama wisatawan, kemudian harus menghabiskan dua atau tiga jam lagi mengantre bahan bakar—tanpa jaminan bahwa solar tersebut benar-benar tersedia?

Menurut berbagai sumber yang dapat dipercaya, masalah seperti ini tidak terjadi di Bali, Jakarta, bahkan Makassar. 

Mengapa Sulawesi Utara harus diperlakukan berbeda?

Dampak dari Krisis Ini: 
•    Meningkatnya risiko kebakaran akibat penyimpanan dan pengangkutan bahan bakar yang tidak sesuai standar. 
•    Kemacetan lalu lintas yang parah di sekitar SPBU. 
•    Meningkatnya polusi udara akibat ratusan truk yang dibiarkan menyala dalam keadaan diam di satu lokasi. 
•    Kesan pertama yang sangat buruk bagi wisatawan, yang bertanya-tanya mengapa sebuah destinasi kelas dunia masih harus menghadapi kelangkaan bahan bakar yang mengingatkan pada masa lalu. 
•    Potensi kerusakan mesin kendaraan karena para sopir terpaksa membeli bahan bakar dengan kualitas yang meragukan dari penjual di pinggir jalan. 
•    Meningkatnya biaya operasional bagi pelaku usaha pariwisata dan penyedia jasa transportasi. 
•    Rusaknya reputasi Sulawesi Utara sebagai destinasi pariwisata yang sedang berkembang. 

Sulawesi Utara tidak akan pernah dapat menjadi destinasi pariwisata yang diakui secara internasional selama kebutuhan dasar seperti ketersediaan bahan bakar masih tidak dapat diandalkan.

Advertisement
Editor : Clavel Lukas
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Manado PostIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Antrean BBM di Manado Kembali Normal, Richard Sualang Apresiasi Kerja Sama Semua Pihak

Antrean BBM di Manado Kembali Normal, Richard Sualang Apresiasi Kerja Sama Semua Pihak

Penyaluran BBM di sejumlah SPBU di Kota Manado kembali normal sejak Minggu 18 Oktober. Wakil Wali Kota Richard Sualang apresiasi semua pihak

Kapolres Bitung Kerahkan Satlantas Kawal Distribusi BBM Subsidi Hingga SPBU Tujuan

Kapolres Bitung Kerahkan Satlantas Kawal Distribusi BBM Subsidi Hingga SPBU Tujuan

Sebagai bentuk komitmen Polri dalam menjaga ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) bagi masyarakat, Kapolres Bitung AKBP Arie Sulistyo

Antrean Mengular di Manado dan Bitung, Warga Desak SPBU Beroperasi 24 Jam

Antrean Mengular di Manado dan Bitung, Warga Desak SPBU Beroperasi 24 Jam

Kebijakan operasional Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) selama 24 jam di Bali untuk mengatasi antrean pengisian bahan bakar minyak

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer