MANADOPOST.ID – Gubernur Akademi Militer (Akmil), Rano Tilaar, menegaskan pentingnya pemahaman geopolitik bagi generasi muda Indonesia dalam menghadapi dinamika global yang semakin kompleks. Hal tersebut disampaikannya dalam kuliah umum yang dihadiri ribuan mahasiswa di Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado.
Dalam pemaparannya, Mayjen TNI Rano Tilaar menjelaskan bahwa geopolitik pada dasarnya berbicara tentang kepentingan negara, termasuk bagaimana sebuah bangsa menentukan kawan dan lawan serta menjaga posisi strategisnya di tengah persaingan global.
Menurutnya, prinsip dasar geopolitik adalah bahwa negara yang menginginkan perdamaian harus memiliki kesiapan menghadapi konflik. Kesiapan tersebut tidak hanya berupa kekuatan militer, tetapi juga kemampuan menyusun strategi, diplomasi yang kuat, serta kualitas sumber daya manusia yang unggul.
Ia menjelaskan bahwa banyak pemikiran geopolitik dunia dipengaruhi konsep "Lebensraum" atau ruang hidup, yakni pandangan bahwa negara-negara kuat cenderung mencari perluasan ruang, sumber daya, dan pengaruh. Dari cara pandang inilah lahir berbagai bentuk kolonialisme yang pernah menimpa bangsa-bangsa di Asia dan Afrika.
Rano Tilaar mengulas sejumlah contoh sejarah dunia, termasuk ekspansi Jepang di Asia yang menggunakan narasi sebagai "saudara tua Asia", namun tetap membawa kepentingan kekuasaan dan penjajahan. Ia juga menyinggung Nazi Jerman sebagai contoh ekstrem ketika ideologi bangsa unggul melahirkan berbagai tindakan kekerasan, kamp konsentrasi, hingga pemusnahan manusia.
"Bangsa yang tidak siap secara ilmu pengetahuan, kepemimpinan, dan strategi akan mudah ditekan oleh bangsa lain," tegasnya.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa kekuatan militer memang penting, tetapi keberhasilan sebuah negara lebih banyak ditentukan oleh kemampuan membaca situasi, menyusun strategi, membangun diplomasi, serta meningkatkan kualitas pendidikan masyarakatnya.
Dalam konteks perkembangan global saat ini, Mayjen Rano Tilaar menyoroti kebangkitan Cina sebagai salah satu kekuatan dunia. Ia menjelaskan bahwa Cina berhasil bertransformasi dari negara agraris menjadi negara industri melalui proses panjang yang penuh tantangan dan pengorbanan. Cina kemudian beradaptasi menjadi negara yang sering disebut sebagai "komunis kapitalis", di mana sistem politik tetap dikendalikan Partai Komunis, sementara sektor ekonomi dibuka untuk mekanisme pasar dan investasi.
Ia juga menyinggung program Belt and Road Initiative (BRI) sebagai instrumen geopolitik Cina untuk memperluas pengaruh melalui pembangunan infrastruktur, perdagangan, dan konektivitas antarnegara.
Di sisi lain, Amerika Serikat juga menjalankan strategi geopolitiknya melalui jaringan aliansi internasional, kekuatan ekonomi, militer, serta dukungan terhadap negara-negara yang dianggap memiliki posisi strategis, termasuk Israel.
Terkait konflik di Timur Tengah, Rano Tilaar mengingatkan bahwa persoalan tersebut tidak bisa dipandang semata-mata sebagai konflik agama. Menurutnya, konflik di kawasan itu harus dipahami dalam kerangka geopolitik yang melibatkan berbagai kepentingan negara dan kekuatan global.
Bagi Indonesia, ia menilai penting untuk belajar dari pengalaman bangsa-bangsa besar agar tidak hanya menjadi objek dalam perebutan pengaruh dunia. Indonesia harus mampu memperkuat kapasitas nasional dan menentukan arah kepentingannya sendiri.
Ia menegaskan bahwa salah satu modal terbesar bangsa Indonesia adalah persatuan dalam keberagaman. Perbedaan suku, agama, budaya, dan latar belakang harus menjadi kekuatan untuk memperkokoh bangsa, bukan menjadi sumber perpecahan.
Pada akhir kuliah umumnya, Mayjen TNI Rano Tilaar mengajak generasi muda, khususnya mahasiswa sebagai calon pemimpin masa depan, untuk memahami sejarah, geopolitik, serta kepentingan nasional. Dengan bekal tersebut, Indonesia diharapkan mampu menghadapi berbagai tantangan global secara lebih siap dan mandiri.
"Intinya, dunia bergerak karena kepentingan. Indonesia harus kuat dalam strategi, ilmu pengetahuan, kepemimpinan, dan persatuan agar tidak mudah dikendalikan oleh kekuatan luar," pungkasnya. (*)
Editor : Tommy Waworundeng