Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Dan Mogot Layak Dianugerahi Gelar Pahlawan Nasional,  Terungkap Dalam Diskusi Gubernur Akmil Mayjen TNI  Rano Tilaar, MKBP dan Unsrat

Tommy Waworundeng • Senin, 22 Juni 2026 | 20:56 WIB
Dan Mogot Layak Dianugerahi Gelar Pahlawan Nasional,  Terungkap Dalam Diskusi Gubernur Akmil Mayjen TNI  Rano Tilaar, MKBP dan Unsrat
Dan Mogot Layak Dianugerahi Gelar Pahlawan Nasional,  Terungkap Dalam Diskusi Gubernur Akmil Mayjen TNI  Rano Tilaar, MKBP dan Unsrat

 

MANADOPOST.ID– Usai berdiskusi dengan Gubernur Akademi Militer Mayor Jenderal TNI Rano Tilaar,  Majelis Keluarga Besar Permesta (MKBP) bersama Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) akan usulkan  Mayor Daan Mogot dianugerahi gelar Pahlawan Nasional atas jasa dan pengorbanannya dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Dukungan terhadap pengusulan tersebut menguat setelah Gubernur Akademi Militer, Rano Tilaar, menegaskan bahwa Daan Mogot merupakan salah satu tokoh militer yang memiliki catatan kepahlawanan luar biasa dan gugur secara heroik di medan pertempuran.

Gubernur Akmil menyampaikan hal itu saat berdiskusi dengan Rektor Unsrat Prof Dr Ir Berty Sompie, Ketua Umum Majelis Keluarga Besar Permesta Philip Pantouw, Sekretaris MKBP Dr Elisa Regar, dan wakil ketua MKBP Tommy Waworundeng.

Dalam diskusi tersebut, Mayjen TNI Rano Tilaar menjelaskan,  tidak banyak pahlawan bangsa yang benar-benar gugur dalam pertempuran saat menjalankan tugas negara. Karena itu, pengorbanan Daan Mogot memiliki nilai sejarah yang sangat tinggi dalam perjalanan bangsa Indonesia mempertahankan kemerdekaannya.

“Daan Mogot adalah salah satu sosok yang benar-benar gugur dalam pertempuran. Pengorbanannya sangat heroik dan layak mendapatkan penghargaan tertinggi dari negara,” ujar Rano Tilaar.

Daan Mogot dikenal sebagai tentara PETA sekaligus instruktur PETA termuda. Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, ia dipercaya menjadi Gubernur Akademi Militer Tangerang pada usia yang masih sangat muda.

Peristiwa yang mengantarkan namanya ke dalam sejarah perjuangan bangsa terjadi pada 25 Januari 1946 dalam Pertempuran Lengkong di Tangerang. Saat itu, pasukan Sekutu yang datang bersama NICA berupaya mengembalikan kekuasaan kolonial Belanda di Indonesia setelah Jepang menyerah pada akhir Perang Dunia II.

Sebelum proses pelucutan senjata tentara Jepang dilakukan oleh Sekutu, Mayor Daan Mogot bersama para taruna Akademi Militer Tangerang mengambil inisiatif untuk melucuti persenjataan Jepang di Lengkong.

Senjata-senjata tersebut direncanakan digunakan untuk memperkuat pertahanan Republik Indonesia yang baru berdiri.

Pada awalnya proses pelucutan senjata berlangsung lancar. Namun situasi berubah ketika terjadi letusan senjata yang diduga berasal dari seorang prajurit India yang bersimpati kepada perjuangan Indonesia.

Tentara Jepang mengira mereka sedang dijebak sehingga merebut kembali senjata yang telah diserahkan.

Baku tembak pun tidak terhindarkan. Pertempuran berlangsung tidak seimbang karena tentara Jepang merupakan pasukan profesional yang berpengalaman di PD II,  sementara para taruna Akademi Militer masih berada dalam tahap pendidikan.

Ketika pertempuran pecah, Daan Mogot sedang melakukan perundingan dengan komandan Jepang. Mendengar suara tembakan, ia berusaha keluar untuk menghentikan konflik. Namun, ia justru tertembak dan gugur bersama puluhan taruna lainnya dalam peristiwa yang kemudian dikenal sebagai Pertempuran Lengkong.

Di antara korban yang gugur terdapat dua kakak beradik, yaitu Letnan Subianto Joyohadikusumo dan Kadet Sujono Joyohadikusumo. Keduanya gugur bersama Daan Mogot dalam menjalankan tugas mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.

Nama kedua tokoh tersebut kemudian diabadikan dalam keluarga Djojohadikusumo melalui nama Prabowo Subianto dan adiknya, Hashim Sujono Djojohadikusumo. Di lingkungan Akademi Militer, nama Letnan Subianto Joyohadikusumo juga diabadikan sebagai nama rumah sakit di kompleks Akmil.

Rano Tilaar menilai edukasi mengenai nilai-nilai kepahlawanan para pejuang yang gugur dalam Peristiwa Lengkong masih sangat minim. Bahkan banyak generasi muda yang mengenal nama Daan Mogot hanya sebagai nama jalan di Jakarta tanpa mengetahui sosok dan perjuangannya.

Ia mengaku selama menjabat Komandan Korem 052/Wijayakrama yang membawahi wilayah Tangerang, setiap tanggal 25 Januari selalu dilaksanakan upacara penghormatan di Taman Makam Taruna tempat Daan Mogot dan para taruna Lengkong dimakamkan. Dalam beberapa kesempatan, Prabowo Subianto yang saat itu menjabat Menteri Pertahanan juga turut hadir.

Karena itu, MKBP dan Unsrat memandang sudah saatnya pemerintah memberikan penghargaan yang layak kepada Daan Mogot melalui penganugerahan gelar Pahlawan Nasional.

“Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa para pahlawannya,” demikian pesan yang kembali diingatkan dalam upaya memperjuangkan pengakuan negara terhadap jasa Mayor Daan Mogot.

MKBP dan Unsrat berharap seluruh elemen masyarakat Indonesia dapat bersama-sama mendukung usulan tersebut, sehingga perjuangan, pengorbanan, dan keteladanan Mayor Daan Mogot beserta para taruna yang gugur dalam Pertempuran Lengkong dapat terus dikenang dan diwariskan kepada generasi penerus bangsa. (*)

Editor : Tommy Waworundeng
#Gubernur Akmil #Rano Tilaar #Unsrat