Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Indonesia Berhasil Lewati Masa Sulit, Rupiah Menguat, Menkeu Purbaya Pastikan Harga BBM Pertamax Berpotensi Turun

Tommy Waworundeng • Selasa, 23 Juni 2026 | 06:57 WIB
Indonesia Berhasil Lewati Masa Sulit, Rupiah Menguat, Menkeu Purbaya Pastikan Harga Pertamax Berpotensi Turun
Indonesia Berhasil Lewati Masa Sulit, Rupiah Menguat, Menkeu Purbaya Pastikan Harga Pertamax Berpotensi Turun

 

MANADOPOST.ID– Pemerintah optimistis kondisi ekonomi nasional akan semakin kuat setelah berhasil melewati tekanan akibat lonjakan harga minyak dunia dalam beberapa pekan terakhir.

Seiring dengan tren penurunan harga minyak mentah global dan penguatan nilai tukar rupiah, harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non-subsidi, termasuk Pertamax, berpotensi kembali mengalami penurunan.

Saat ini nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menguat dari level tertinggi di kisaran Rp18.049 ke rentang Rp17.690 – Rp17.719 per dolar AS. Penguatan ini terjadi seiring melemahnya indeks dolar AS di pasar global serta membaiknya sentimen pasar terhadap perekonomian domestik

Menteri Keuangan RI, Purbaya Yudhi Sadewa, meyakini melemahnya harga minyak dunia akan memberikan ruang bagi penyesuaian harga BBM non-subsidi ke tingkat yang lebih rendah.

Menurutnya, perkembangan tersebut menjadi sinyal positif bagi perekonomian Indonesia.
"Namun saya yakin dengan potensi menurunnya harga minyak dunia, harga Pertamax dan lain-lain akan turun. Fondasi pertumbuhan ekonomi kita akan semakin kuat," ujar Purbaya, Senin (22/6/2026).

Sebelumnya, pemerintah melalui Pertamina terpaksa menaikkan harga BBM non-subsidi pada 10 Juni 2026 menyusul lonjakan harga minyak dunia akibat meningkatnya ketegangan geopolitik dan kekhawatiran terhadap pasokan energi global. Saat itu, harga Pertamax (RON 92) naik dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter, sedangkan Pertamax Green (RON 95) meningkat dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter.

Meski harga BBM non-subsidi mengalami kenaikan, pemerintah tetap mempertahankan harga Pertalite guna menjaga daya beli masyarakat serta mengendalikan tekanan inflasi.
Purbaya mengakui bahwa lonjakan harga minyak dunia sempat menjadi ujian berat bagi perekonomian nasional. Namun pemerintah dinilai berhasil menjaga stabilitas ekonomi sehingga dampak gejolak global dapat diminimalkan.

"Kita sudah melewati ujian yang sulit. Tinggal memperbaiki kondisi yang sudah ada," katanya.
Menurut Purbaya, berbagai langkah perbaikan ekonomi yang tengah dijalankan pemerintah mulai menunjukkan hasil positif. Selain stabilitas harga yang semakin terjaga, nilai tukar rupiah juga memperlihatkan penguatan sehingga memberikan tambahan ruang bagi pemerintah dalam menjaga ketahanan ekonomi nasional.

Optimisme tersebut diperkuat oleh perkembangan harga minyak dunia yang terus menunjukkan tren penurunan. Pada perdagangan Senin pagi (22/6/2026), harga minyak Brent berada di level US$79,48 per barel atau turun 1,35 persen dibandingkan penutupan sebelumnya sebesar US$80,57 per barel. Sementara harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) tercatat di level US$76,46 per barel, turun 0,18 persen dari posisi sebelumnya US$76,60 per barel.

Penurunan ini memperpanjang tren koreksi yang berlangsung sejak pertengahan Juni. Jika dibandingkan dengan posisi pada 10 Juni 2026, saat harga Brent masih berada di level US$93,10 per barel dan WTI US$90,03 per barel, maka dalam waktu kurang dari dua pekan harga Brent telah turun sekitar 14,6 persen, sedangkan WTI terkoreksi sekitar 15 persen.

Kondisi tersebut diharapkan dapat mengurangi tekanan pada sektor energi nasional dan membuka peluang bagi penyesuaian harga BBM non-subsidi di dalam negeri. Jika tren penurunan harga minyak dunia berlanjut dan penguatan rupiah tetap terjaga, masyarakat serta dunia usaha berpotensi menikmati harga energi yang lebih rendah dalam waktu mendatang.

Pemerintah pun berharap momentum membaiknya kondisi global ini dapat menjadi pendorong baru bagi pertumbuhan ekonomi nasional, sekaligus memperkuat keyakinan bahwa Indonesia mampu menghadapi berbagai tantangan ekonomi dunia dengan tetap menjaga stabilitas dan kesejahteraan masyarakat. (*)

Editor : Tommy Waworundeng
#Menkeu Purbaya