Promosi Digital Penggerak Pemberdayaan Perempuan: Membangun Pariwisata Inklusif di Kota Tomohon

Reza Abdilah • Dipublikasikan Rabu, 19 Agustus 2026 | 10:40 WIB
Dr Lingkan Easter Tulung
Dr Lingkan Easter Tulung

 

Oleh: 
Dr. Lingkan Easter Tulung. S.Sos. M.Pub. Pol
Dosen Ilmu Komunokasi FISIP Unsrat

MANADOPOST.ID- Destinasi wisata yang ramai hari ini biasanya bukan sekadar soal alam yang indah atau budaya yang kaya. Ada faktor lain yang menentukan: seberapa erat destinasi itu menjalin hubungan dengan wisatawan lewat media digital. Media sosial kini bukan lagi etalase promosi, melainkan ruang tempat pemerintah, pelaku usaha, komunitas lokal, dan wisatawan saling bertemu membentuk citra sebuah tempat. Foto pemandangan, cerita budaya, kuliner, florikultura, hingga pengalaman autentik wisatawan menyatu membangun persepsi tentang Kota Tomohon. Semakin kuat citra itu tertanam, semakin besar dorongan wisatawan untuk datang, bahkan kembali lagi, dan loyalitas semacam ini yang menjadi tumpuan keberlanjutan pariwisata.

Bagi Kota Tomohon, tantangan ini terasa nyata. Selama bertahun-tahun, lonjakan kunjungan wisatawan hampir selalu terpusat pada penyelenggaraan Tomohon International Flower Festival (TIFF), yang telah menjadi ikon pariwisata daerah. Padahal, Tomohon menyimpan potensi wisata alam, budaya, kuliner, dan florikultura yang layak dinikmati sepanjang tahun. Ketika promosi digital lebih banyak terfokus pada satu agenda besar, manfaat ekonomi pariwisata pun mengikuti pola yang sama: ramai saat festival, lalu melambat begitu acara usai. Persoalan utamanya bukan sekadar mendatangkan lebih banyak wisatawan, melainkan menyebarkan kunjungan secara lebih merata sepanjang tahun agar manfaat ekonominya dirasakan masyarakat secara berkelanjutan.

Di balik geliat industri pariwisata itu, ada peran perempuan yang sering luput dari sorotan namun sesungguhnya sangat menentukan. UN Tourism mencatat sekitar 54% tenaga kerja sektor pariwisata dunia adalah perempuan, dan di Indonesia angkanya mencapai 54,22%. Mereka hadir sebagai pelaku UMKM, pengelola homestay, pengusaha kuliner, pengrajin, hingga pemandu wisata. Kota Tomohon belum memiliki data resmi soal jumlah pelaku usaha pariwisata berdasarkan jenis kelamin, tetapi keterlibatan perempuan terlihat langsung dalam denyut pariwisata kota ini: mengelola usaha bunga dan florist, menyajikan kuliner khas, memproduksi kerajinan tangan, menyediakan homestay, serta menjual cenderamata. Kehadiran mereka membuktikan bahwa perempuan bukan sekadar menjalankan usaha, tetapi juga menghadirkan keramahan, kreativitas, dan identitas budaya yang membentuk karakter destinasi.

Peran itu semakin terasa penting ketika dikaitkan dengan tren kunjungan wisatawan yang terus meningkat. Data Dinas Pariwisata Kota Tomohon menunjukkan jumlah kunjungan naik dari 517.059 pada 2023, menjadi 555.204 pada 2024, dan mencapai 566.438 pada 2025. Namun, angka yang terus bertambah itu belum tentu berarti manfaat ekonominya sudah merata. Wawancara dengan seorang perempuan penjual bunga di Kota Tomohon memperlihatkan sisi lain dari cerita ini: usaha bunga adalah tulang punggung ekonomi keluarganya, tetapi penjualan hanya benar-benar ramai pada hari raya keagamaan, terutama Natal, dan selama TIFF berlangsung. Pengalaman ini menggambarkan tantangan seasonality, yaitu kondisi ketika pendapatan sangat bergantung pada momentum tertentu, dan bertambahnya jumlah wisatawan belum sepenuhnya berbanding lurus dengan kesejahteraan yang berkelanjutan.

Karena itu, promosi digital lewat media sosial perlu diarahkan untuk memperkenalkan ragam atraksi wisata sepanjang tahun, membangun narasi yang menonjolkan keberagaman pengalaman wisata di Tomohon, serta mengajak wisatawan berkunjung pada berbagai musim. Strategi ini memperkuat citra destinasi sekaligus meningkatkan kepuasan wisatawan, dan di titik inilah kepuasan memainkan peran yang menentukan. 

Wisatawan yang puas, baik dari segi pelayanan, kualitas produk, maupun kemudahan mengakses informasi wisata, cenderung membangun kepercayaan terhadap destinasi, dan kepercayaan itulah yang tumbuh menjadi loyalitas. Wisatawan yang loyal tidak hanya berpotensi kembali berkunjung, tetapi juga merekomendasikan destinasi kepada orang lain, sehingga promosi dari mulut ke mulut maupun ulasan digital ikut memperkuat citra Tomohon tanpa selalu bergantung pada anggaran promosi besar. Ketika pola kunjungan lebih merata dan loyalitas wisatawan terjaga, permintaan terhadap produk dan jasa wisata tumbuh lebih konsisten, membuka peluang bagi perempuan pelaku usaha memperluas pasar dan memperkuat ketahanan ekonomi keluarga.
Karena itu, pembangunan pariwisata Kota Tomohon perlu mengintegrasikan pemasaran digital dengan prinsip Gender Equality, Disability, and Social Inclusion (GEDSI). 

Pemerintah daerah perlu memperkuat literasi digital perempuan pelaku UMKM dan menyusun kalender promosi destinasi yang berkelanjutan, tidak hanya berpusat pada TIFF. Secara konkret, pemerintah bersama lembaga terkait perlu menyelenggarakan pelatihan digital marketing dan social commerce bagi perempuan pelaku usaha, mulai dari membuat konten menarik hingga memanfaatkan fitur belanja daring di platform seperti Instagram dan TikTok. Pendampingan juga perlu diarahkan pada penggunaan QRIS sebagai metode pembayaran digital, agar transaksi lebih mudah, cepat, dan tercatat baik, sekaligus membuka peluang pendataan usaha yang akurat. Pendaftaran usaha ke Google Bisnisku (Google Business Profile) juga penting didorong, agar usaha yang dikelola perempuan lebih mudah ditemukan lewat pencarian daring dan Google Maps, lengkap dengan ulasan yang memperkuat kepercayaan calon pengunjung. 

Pemerintah juga perlu menyusun sistem pendataan pelaku usaha pariwisata yang terpilah berdasarkan jenis kelamin, agar kebijakan pemberdayaan dirancang berdasarkan bukti akurat, sejalan dengan SDG 5 tentang kesetaraan gender. Dengan menjadikan promosi digital sebagai penggerak pembangunan inklusif, Kota Tomohon berpeluang meningkatkan daya saing destinasinya sekaligus memastikan manfaat ekonomi pariwisata dirasakan lebih merata, terutama oleh perempuan yang selama ini menjadi bagian penting dari keberlanjutan sektor pariwisata.(*) 

 

 

 

 

Editor : Reza Abdilah
digital Pariwisata pemberdayaan Tomohon promosi