Pite', Sepenggal Obituari

Tommy Waworundeng • Dipublikasikan Sabtu, 19 September 2026 | 20:36 WIB
Pitres Sombowadile
Pitres Sombowadile

 

Oleh Katamsi Ginano

MANADOPOST.ID-Saya tidak ingat persis waktunya, tetapi sekitar akhir 1980-an atau awal 1990-an.

Ketika itu Suhendro Boroma (kelak memimpin salah satu jaringan media raksasa, Jawa Pos Group), Lily Djenaan (aktivitas perempuan dan lalu menjadi istrinya Suhendro), almarhum Haruna Marsaoly, Asripan Nani (kemudian membangun karir sebagai salah satu birokrat papan atas Sulawesi Utara), saya, dan banyak nama lainnya rutin berkumpul, diskusi, dan bual-bual. Jika tak silap, Suhendro kemudian menamakan kelompok yang sungguh cair ini sebagai Titian.

Tempat Titian bertemu bisa di mana saja. Di rumahnya Lily Djenaan di Tuminting (ayahnya, Profesor Djenaan, selalu menyambut dengan anggukan dan lalu diam), di Jalan Roda, di Sekretariat Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) di Gedung Serimpi, di Sekretariat Majalah Inovasi Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado--tempat saya mengasah hobi menulis, atau di tempat kost-nya Suhendro di Kleak. 

Satu hari, dalam diskusi di Kantor Majalah Inovasi, hadir anak muda Sangihe cerewet, pintar bahasa Inggris, punya banyak referensi yang (ketika itu) terasa ajaib, dan yang terpenting: dia lucu. Namanya Pitres Sombowadile, disapa akrab dengan Pite', mahasiswa Institut Teknologi Minaesa. Fakultas dan jurusannya? Entahlah. Siapa yang peduli.

Di Titian, siapa pun diterima sepanjang datang membawa otak, referensi sahih, dan mulut.

Mengingat Titian bukanlah kelompok rigid--anggotanya datang dan pergi sesuka hati--, hari itu Pite' otomatis jadi anggota. Saya tidak tahu dan tidak pernah bertanya pada Suhendro, Lily, atau kawan-kawan yang lain. Tapi demikianlah saya menafsir organisasi yang tidak pernah diformalkan itu dan keanggotannya.

Belakangan, saya lebih banyak runtang-runtung dengan Pite'. Aktivitas kami yang sangat banyak beririsan membuat saya dan Pite' lebih mudah bertemu dibanding dengan Suhendro dan lain-lain yang kian sibuk dengan pekerjaan mereka.

Dari keseharian pergaulan itu, saya menemukan banyak hal unik dari Pite'. Dia ternyata salah satu pelawak yang sempat membangun grup populer, Kuda Zaina. Anggotanya, seingat saya, selain Pite', ada Martinus Barole (teman seangkatan di Unsrat tapi beda fakultas), Sion (yang kemudian lebih populer sebagai anggota grup lawak Gideon), dan Muklis. Mereka sungguh lucu, terlebih Pite' dan Martinus yang memang punya bakat alamiah ditunjang referensi sekolahan.

Walau demikian, sepanjang pergaulan kami Pite' tak pernah membicarakan karir komedinya. Saya pernah menyinggung grup lawaknya--apalagi saya juga kenal pribadi dengan Martinus Barole dan segala ulahnya yang sering mengundang ngakak. Respons Pite hanya ah-uh-ah. Titik.

Iverdixon Tunungki, penyair dan dramawan Sulut yang dua tahun terakhir cukup akrab dengan Pite' punya jawaban: Barangkali karena melawak bukanlah sesuatu yang sejalan dengan reputasi yang belakang dia bangun. Pemikir, jurnalis, sastrawan, sejarawan, dan penyair.

Sebagai wartawan, sejak kami kenal, saya tahu Pite' pernah bergiat di Manado Post sebelum era media ini menjadi anak usaha Jawa Pos, kemudian Majalah Fakta, Majalah Narwastu, Tabloid Kabar, dan terakhir saya dengar dengan Majalah Sasahara. 

Tabloid Kabar-lah puncak perkariban personal dan profesional kami. Tabloid yang terbit di era 1999 hingga awal 2000-an ini didirikan atas dukungan dr. Bert Supit (tokoh sosial kemasyarakatan yang sangat luar biasa), didukung dana lembaga internasional, yang diniatkan menjadi wahana membangun demokrasi dan kesadaran masyarakat. Saat Kabar didirikan negeri ini masih gempita dengan reformasi dan keterbukaan. 

Suka atau tidak, rekam jejak yang sangat mencorong dari Pite' adalah Tabloid Kabar. Dan kebanyakan catatan dan publikasi tentang tabloid ini sama sekali tidak menyinggung nama Iverdixon Tinungki. Padahal benih Kabar sesungguhnya mulai berkecambah di teras Kantor Lembaga Bantuan Hukum-Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (LBH-YLBHI) Manado di Pakowa. Ide yang saya dan Iver rumuskan sederhana: media cetak umum yang hanya selembar tetapi kritis dan mendidik.

Ide kecil itu bergulir, menyenggol banyak orang (terutama Pite'), dan berlabuh sebagai Kabar. Melibatkan jurnalis dan aktivitas senior yang di masanya adalah sosok signifikan di Sulut. Ada Soewiryo Ismail, Kamajaya Al Katuuk, dan Reiner Ointoe.  

Di Kabar sejatinya Pite' mengurus hal hal-ihwal bisnis dan usaha. Saya bertanggung jawab terhadap redaksi yang penuh debat dan pertengkaran (mengingat kembali periode ini, saya sungguh mengangeni situasi seperti itu) dengan Suwiryo dan Reiner. Hasilnya, periode awal Kabar--hingga hampir dua tahun usianya--, media ini menjadi salah satu rujukan yang bisa membuat ''gatal'' nama besar seperti Manado Post. Sekalipun Kabar dan Manado Post terang-benderang bukan saingan.

Mempersandingkan Kabar dan Manado Post seperti mengadu kelinci dan gajah.

Lalu datang hari perpisahan. Saya memutuskan mufaraqah dari Kabar, melanjutkan petualangan sendiri. Iver juga pamit. Generasi awal Kabar satu per satu menyusul. Yang tersisa Pite' yang memimpin perusahaan dan redaksi sekaligus, juga generasi kedua hasil rekrutannya.

Beberapa waktu kemudian saya dengar Kabar berhenti terbit.

Sesekali Pite' dan saya masih saling berkontak. Apalagi dia banyak bergelut dengan isu-isu di Mongondow, termasuk menjadi konsultan politik dan tim sukses. Juga menulis buku yang membahas sejarah Mongondow. Persilangan jalan kami setelah Tabloid Kabar rasanya seperti permen Nano Nano. Kaya rasa dan cita. Sering berbeda pendapat, berhadap-hadapan karena memang berdiri di sisi berbeda, tanpa kehilangan respek dan persahabatan.

Hidup terus berjalan. Setidaknya lebih lima tahun terakhir kami kian larut dalam dunia masing-masing. Tak pernah lagi saling berkontak kendati saya masih menyimpan dua nomor telepon selularnya di address book.

Saya berkhimat di bidang yang saya pilih dan tekuni, Pite' menggemuruh dengan aktivitasnya. Dia masuk jajaran penyair abad 21 dari Sulut, menulis beberapa buku (terakhir tentang Gereja Masehi Injili Talaud), dan banyak hal lain yang saya ikuti dari kejauhan dengan kekaguman terhadap energinya yang melimpah. Kebanyakan dari media sosial dan grup WhatsApp.

Hingga Jumat, 18 September 2026, pukul 09.58 WIB, saya menerima kabar: Pite' berpulang ke Rahmatullah. 

Pit, seluruh nostalgi dari masa kita berkeliaran di Kampus Unsrat, Bendar Manado, berbagi makan siang di kost saya di Bahu, diskusi-diskusi, debat, saling ejek, pertengkaran, dan juga lelucon-lelucon yang pernah dipertukarkan, datang seperti angin kencang yang membawa hujan hingga menjelang pagi di Sentul City. 

Tadi malam dan pagi ini, saya sungguh-sungguh tafakur dan mendoakanmu.

Kesedihan adalah milik kami yang hidup. Beristirahatlah dengan tenang. Semua kenangan tentangmu pada akhirnya memang indah. Apa pun dan bagaimana pun itu.***

Bukit Golf Hijau, Sentul City, 19 September 2026.-

Editor : Tommy Waworundeng
Suhendro Boroma Manado Post