MANADOPOST.ID–Fenomena antrean panjang kendaraan berbahan bakar solar di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Kota Bitung, Sulawesi Utara, mendadak berubah dalam beberapa hari terakhir.
Jika biasanya antrean kendaraan diesel mengular hingga keluar area SPBU, kondisi berbeda terlihat pada Sabtu (15/8/2026).
Salah satunya di SPBU Manembo-nembo, Kota Bitung, yang terpantau relatif lengang dibandingkan situasi pada hari-hari sebelumnya.
Fenomena tersebut disebut warga berkaitan dengan mulai berkurangnya aktivitas para tukang tap solar (istilah masyarakat lokal untuk menyebut para pengepul solar), yang melakukan aktivitas pembelian BBM bersubsidi secara berulang dengan tujuan untuk dijual kembali.
Kondisi ini disebut sudah berlangsung sekitar tiga hari. Antrean kendaraan memang masih terlihat, namun jumlahnya jauh lebih sedikit dan didominasi sejumlah kendaraan bertonase besar yang mengisi solar untuk kebutuhan operasional.
Bahkan, di tengah antrean yang relatif sepi tersebut, terlihat sejumlah kendaraan pribadi seperti Land Cruiser VX dan Fortuner.
Situasi ini mendapat respons positif dari masyarakat, khususnya pemilik kendaraan bermesin diesel, yang selama ini harus menghadapi antrean panjang ketika hendak memperoleh solar bersubsidi untuk kebutuhan sehari-hari.
Salah seorang warga yang meminta namanya tidak dipublikasikan, mengaku lega melihat kondisi SPBU yang lebih normal. Dari pengamatannya, kendaraan yang kini terlihat mengisi solar lebih banyak merupakan pengguna yang memang membutuhkan bahan bakar tersebut.
“Dugaan kami, yang bikin antrean panjang ternyata adalah kendaraan dari para tukang tap solar. Karena kalau dilihat, saat ini yang mengisi solar adalah masyarakat pengguna.
Ini pun menjadi kesempatan kami selaku pemilik kendaraan bermesin diesel. Tidak lama mengantre untuk mengisi solar untuk kebutuhan normal sehari-hari," ungkapnya.
Menurut dia, kondisi tersebut memperlihatkan bahwa ketika aktivitas pembelian berulang yang dilakukan oleh pengepul berkurang, akses masyarakat terhadap solar bersubsidi menjadi lebih mudah.
Ia berharap situasi tersebut tidak hanya berlangsung sementara. Sebab, persoalan antrean BBM bersubsidi, khususnya solar, selama ini bukan sekadar menyangkut kenyamanan pengguna kendaraan.
Antrean panjang juga berpotensi menghambat aktivitas ekonomi karena kendaraan angkutan barang, kendaraan usaha maupun kendaraan masyarakat harus menghabiskan waktu berjam-jam untuk mendapatkan bahan bakar.
“Kami berharap situasi normal ini berlangsung selamanya. Jangan beri ruang bagi tukang tap solar.
Kami dukung aparat penegak hukum (APH) untuk memberantas praktik mafia BBM bersubsidi," tegasnya.
Fenomena antrean solar di Kota Bitung sebenarnya bukan persoalan baru. Namun pada waktu-waktu tertentu tiba-tiba menjadi sepi seperti saat ini.
Warga bahkan menyebut kondisi tersebut seperti sebuah siklus. Dalam beberapa waktu, SPBU terus dipadati kendaraan, kemudian ada saatnya kembali lengang. "Tukang tap sedang tiarap kalau lengang seperti ini," tandas dia.
Kondisi itu biasanya juga dipengaruhi momentum tertentu, termasuk ketika terdapat kunjungan tamu kenegaraan maupun pejabat dari tingkat provinsi.
Namun kali ini, perubahan antrean terjadi menjelang peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Bersamaan dengan itu, sorotan publik terhadap praktik mafia solar bersubsidi juga belakangan ini semakin kuat.
Persoalan antrean solar bahkan telah menjadi perhatian luas karena menyangkut kelancaran aktivitas ekonomi di Sulawesi Utara.
Bagi masyarakat pengguna kendaraan diesel, persoalan utamanya sederhana. Mereka berharap bahan bakar bersubsidi benar-benar dapat diakses oleh masyarakat yang memenuhi ketentuan dan membutuhkan bahan bakar tersebut untuk aktivitas sehari-hari.
Antrean panjang yang berlangsung berjam-jam tentu menjadi beban tersendiri.
Bagi pelaku usaha maupun pengemudi kendaraan angkutan, waktu yang seharusnya digunakan untuk bekerja dapat terbuang hanya karena harus mengantre mendapatkan solar.
Karena itu, kondisi SPBU yang lebih lengang dalam beberapa hari terakhir menjadi sesuatu yang disambut positif.
Masyarakat berharap kondisi tersebut bukan sekadar fenomena sementara.
Mereka meminta pengawasan distribusi solar subsidi terus diperketat, sehingga tidak terjadi pembelian berulang yang berpotensi mengurangi kesempatan pengguna riil mendapatkan BBM sesuai kebutuhannya.
Di sisi lain, fenomena ini juga menjadi momentum bagi aparat dan pihak terkait untuk melihat lebih jauh pola distribusi solar bersubsidi di lapangan.
Jika memang ditemukan pelanggaran, masyarakat berharap penindakan dilakukan secara tegas dan konsisten, bukan hanya ketika persoalan antrean menjadi sorotan publik.
Sebab, bagi pengguna kendaraan diesel di Kota Bitung, SPBU yang lengang bukan sekadar pemandangan yang menyenangkan.
Kondisi itu berarti akses terhadap kebutuhan energi untuk bekerja dan menjalankan aktivitas sehari-hari menjadi lebih mudah.
"Jangan biarkan antrean panjang kembali menjadi pemandangan rutin, dan jangan beri ruang bagi mafia solar bersubsidi yang merugikan masyarakat pengguna," tandas warga.(fys)
Editor : Franky Sumaraw