Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Masyarakat Desa Komangaan Dilatih Persiapan Lahan dan Penanaman untuk Menghadapi Perubahan Iklim

Ayurahmi Rais • Jumat, 26 Desember 2025 | 15:55 WIB
Photo
Photo

MANADOPOST.ID- Dalam rangka meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat desa dalam menghadapi perubahan iklim, Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara melalui Dinas Kehutanan Daerah (Dishutda) dan Yayasan Aku Rimba Indonesia (YAKU) menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek) Persiapan Lahan dan Penanaman di Balai Desa Komangaan pada Jumat, (26/12).

Kegiatan yang diikuti oleh 28 peserta, terdiri dari 8 petani perempuan dan 20 petani laki-laki ini, bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan para pemilik lahan tentang tata cara persiapan lahan dan penanaman Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL) seluas 50 hektar di Desa Komangaan.

Penganggung Jawab Pelaksanaan Kegiatan Program Irfan Saputra menyampaikan, program ini telah menerima usulan jenis bibit dari warga dan sedang dalam proses pengadaan. "Bibit yang diusulkan oleh warga terdiri dari Durian, Alpukat, dan Cempaka, dan diperkirakan akan tiba di Komangaan pada minggu ke-3 Januari," bebernya. 

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Bidang Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Rehabilitasi Hutan dan Lahan Dishutda Sulut Muji Rahayu menjelaskan, pentingnya meningkatkan tutupan lahan dalam rangka pencegahan bencana.

"Tentu kita sama-sama mendengar dan belajar dari bencana yang telah terjadi bahwa tutupan lahan sangat penting," jelasnya sembari mengajak warga untuk memperbaiki tutupan lahan di desa.

Rahayu juga memaparkan tata cara persiapan lahan dan penanaman. Yang meliputi pembuatan lubang tanam, penyiangan, pendangiran, dan teknik penanaman agar bibit tidak mudah mati.

"Mula-mula, kami sarankan untuk menyiangi lokasi penanaman, dan menancapkan ajir yang tingginya 1-meter sedalam 25 cm ke dalam tanah sebagai penanda tanaman yang baru ditanam," jelasnya. 

Selanjutnya, Rahayu memandu peserta untuk mulai menggali lubang tanam ukuran 30 cm x 30 cm. "Tanah bagian atas atau topsoil, sekitar 10 cm dari permukaan, dipisahkan dengan tanah bagian dalam," paparnya. 

Setelah mendiamkan lubang tanam selama seminggu, lubang tanam siap untuk ditanami.  Rahayu mengingatkan peserta untuk terlebih dahulu memadatkan tanah dalam polybag dan melepas poliybag bibit. "Selepih itu, bibit dimasukkan dalam lubang tanam dalam posisi tegak lurus," tambahnya. 

Kemudian, topsoil yang telah dicampur dengan pupuk kandang, dimasukkan paling awal di lubang tanam. Diikuti oleh tanah bagian dalam hingga lubang tanam tertutup rapat. Tahapan terakhir yaitu mendangir atau menggemburkan tanah sekeliling bibit dengan diameter 1 meter.

Dengan dilaksanakannya pelatihan ini, jumlah kematian bibit dalam RHL diharapkan dapat berkurang. Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya untuk meningkatkan ketahanan masyarakat Sulawesi Utara terhadap perubahan iklim dan mengembangkan praktek penghidupan adaptif masyarakat desa hutan.

Editor : Ayurahmi Rais