MANADOPOST.ID – Empat perempuan peneliti Indonesia berhasil meraih penghargaan bergengsi L’Oréal–UNESCO For Women in Science (FWIS) 2025, program yang selama lebih dari dua dekade konsisten mendukung kiprah perempuan di dunia sains. Tahun ini, program tersebut kembali menegaskan komitmen L’Oréal Indonesia dan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI untuk menghadirkan sains yang berdampak nyata bagi masyarakat.
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Prof. Stella Christie, menegaskan pentingnya peran perempuan dalam penelitian dan inovasi.
“Perempuan memiliki kemampuan yang sama dengan laki-laki dalam bidang sains dan matematika. Meningkatkan partisipasi perempuan di bidang ini bukan sekadar soal kesetaraan, tetapi juga soal ekonomi — karena negara akan merugi jika tidak memanfaatkan potensi terbaik bangsanya,” ujarnya.
Prof. Stella juga mendorong perempuan peneliti untuk terus percaya diri, berani mengambil peluang, dan tidak mudah menyerah dalam mewujudkan impian ilmiahnya.
Sains, Kolaborasi, dan Kebermanfaatan
Menurut laporan UNESCO 2025, sebanyak 43,5% peneliti di Indonesia adalah perempuan. Angka ini menunjukkan kemajuan signifikan, namun masih perlu dukungan berkelanjutan. Melalui FWIS, L’Oréal memberikan dukungan berupa pendanaan riset sebesar Rp400 juta untuk tiap penerima, membuka akses jejaring global, dan menciptakan ruang kolaborasi antarpeneliti perempuan.
Presiden Direktur L’Oréal Indonesia, Benjamin Rachow, menyampaikan bahwa sains dan inovasi adalah fondasi dari semangat L’Oréal.
“Kami percaya sains mampu menghadirkan keindahan dan perubahan positif bagi dunia. Melalui FWIS, kami ingin perempuan peneliti Indonesia memiliki ruang untuk bersinar dan berkontribusi bagi masyarakat,” katanya.
Program FWIS tahun ini mencatat peningkatan partisipasi luar biasa—lebih dari dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya, dengan mayoritas peserta merupakan peneliti muda di bawah usia 40 tahun.
Ketua Dewan Juri FWIS 2025, Prof. dr. Herawati Sudoyo, menyebutkan bahwa antusiasme tinggi menunjukkan semangat kolaboratif yang semakin kuat di kalangan perempuan peneliti.
“Dari hampir 150 proposal yang masuk, banyak yang menonjol karena potensi kolaborasi dan kebermanfaatannya bagi bangsa. Tanpa kolaborasi, penelitian hampir mustahil terlaksana,” ungkapnya.
Empat Ilmuwan Perempuan dengan Inovasi Berdampak
Empat penerima penghargaan FWIS 2025 menampilkan penelitian yang inspiratif dan berakar pada kebutuhan nyata masyarakat Indonesia, mulai dari bidang bioteknologi, kesehatan, hingga keberlanjutan lingkungan.
-
Dr. Maria Apriliani Gani – Institut Teknologi Bandung
Mengembangkan model seluler untuk terapi osteoporosis berbasis tanaman obat lokal. Pendekatannya yang ramah lingkungan tanpa animal testing berpotensi memperkuat saintifikasi jamu dan meningkatkan kesehatan tulang perempuan lanjut usia. -
Dr.rer.nat. Lutviasari Nuraini – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)
Menciptakan material implan mampu luruh berbasis magnesium (Mg–Zn–Nd) untuk regenerasi tulang. Penelitiannya mendukung kemandirian produksi implan nasional serta hilirisasi sumber daya alam Indonesia. -
Anak Agung Dewi Megawati, Ph.D. – Universitas Warmadewa
Mengembangkan terapi mRNA antivirus spektrum luas untuk mengatasi penyakit yang ditularkan nyamuk, termasuk dengue. Kolaborasinya dengan UC Davis (AS) diharapkan memperkuat kapasitas bioteknologi medis Indonesia. -
Helen Julian, Ph.D. – Institut Teknologi Bandung
Mengolah limbah cair kelapa sawit menjadi bioenergi dan bahan pangan melalui sistem Membrane Photobioreactor–Nanofiltration (MPBR–NF). Inovasi ini sejalan dengan prinsip ekonomi sirkular dan bio-based economy, sekaligus mendukung industri hijau nasional.
Kolaborasi Global dan Apresiasi Prancis
Duta Besar Prancis untuk Indonesia, Timor Leste, dan ASEAN, H.E. Fabien Penone, turut memberikan apresiasi kepada para ilmuwan perempuan penerima penghargaan FWIS 2025.
“Sains dan keberagaman berjalan beriringan. Program ini telah membantu banyak perempuan menembus batas dan menjadi pemimpin di bidangnya. Kesetaraan gender adalah fondasi dari masyarakat yang berkelanjutan,” ujarnya.
Selama lebih dari 22 tahun hadir di Indonesia, program L’Oréal–UNESCO For Women in Science telah mendukung 79 perempuan peneliti dari berbagai disiplin ilmu. Tak hanya itu, para alumni FWIS kini menjadi mentor bagi lebih dari 1.400 peneliti muda, memperkuat masa depan sains Indonesia melalui jejaring dan kolaborasi berkelanjutan.
Melanie Masriel, Chief of Corporate Affairs, Engagement, and Sustainability PT L’Oréal Indonesia, menegaskan bahwa FWIS bukan sekadar ajang penghargaan.
“Ini adalah ruang tumbuh bersama. Para alumni aktif berkolaborasi, berbagi ide, dan membangun jaringan lintas sektor. Dari sinilah lahir penelitian yang lebih aplikatif, berdampak, dan berkelanjutan,” ujarnya.
Melalui program L’Oréal for the Future, L’Oréal Indonesia terus mendorong inovasi yang bertanggung jawab terhadap lingkungan dan masyarakat.(ame)
Editor : Amelia Beatrix