Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Ekonomi Indonesia Tetap Tumbuh di Tengah Tekanan Global

Jasinta Bolang • Senin, 17 November 2025 | 12:45 WIB

Photo
Photo

MANADOPOST.ID — Ekonomi Indonesia menunjukkan performa yang tangguh meski menghadapi tantangan global yang cukup berat. Pemerintah terus meluncurkan stimulus agar daya beli masyarakat tetap kuat.

Bank Dunia menyebut ekonomi Indonesia tetap tahan banting, didukung oleh kebijakan makro yang bijak dan buffer finansial yang cukup besar.

Di kuartal ketiga 2025, BPS mencatat pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia sebesar 5,04 persen secara year-on-year.

Pertumbuhan ini terutama disokong oleh konsumsi rumah tangga yang terus menggeliat, seiring kenaikan transaksi daring lewat e-retail dan dompet digital.

Sektor pariwisata dalam negeri juga ramai, dengan jumlah perjalanan wisatawan domestik naik 21,84 persen dibanding tahun sebelumnya.

Namun, inflasi tetap menjadi perhatian. Menurut Otoritas Jasa Keuangan (OJK), inflasi pokok (core) pada Oktober 2025 tercatat 2,36 persen (yoy), sementara inflasi komponen bahan pangan bergejolak mencapai 6,59 persen.

Baca Juga: BRI, Pegadaian, dan PNM Perkuat Sinergi Holding UMi dengan Pembiayaan Rp632 Triliun dan Jaringan Layanan Masif

Sejalan dengan itu, untuk menjaga stabilitas sistem keuangan, Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) menekankan sinergi kebijakan antara fiskal dan moneter.

Bank Indonesia memproyeksikan bahwa pertumbuhan ekonomi pada paruh kedua 2025 bisa berada di kisaran 4,6–5,4 persen, dengan dukungan dari permintaan dalam negeri dan ekspor.

Satu program utama pemerintah adalah Danantara, dana kekayaan negara (sovereign wealth fund) senilai US$ 20 miliar. Fokusnya antara lain di energi terbarukan, manufaktur, dan infrastruktur.

Terkait utang global, ketidakpastian makin besar. Banyak negara menanggung beban utang publik yang melonjak, yang bisa mengancam stabilitas finansial dunia.

Di level internasional, PBB memperkirakan pertumbuhan ekonomi dunia pada 2025 hanya sekitar 2,8 persen, sebagian karena konflik dan tekanan inflasi.

Masuknya Indonesia ke BRICS sebagai anggota penuh juga menjadi langkah strategis. Keanggotaan ini memperkuat posisi diplomasi ekonomi negara di panggung global.

Selain itu, Indonesia baru mencapai kesepakatan dagang dengan Amerika Serikat. Di dalam deal itu, ekspor Indonesia ke AS akan terkena tarif 19 persen, sementara produk AS bisa masuk ke Indonesia tanpa bea.

Bagian menariknya: Indonesia juga berkomitmen membeli US$ 15 miliar energi dari AS, US$ 4,5 miliar produk agrikultur AS, dan 50 pesawat Boeing.

Dari sisi fiskal, pemerintah menyiapkan paket stimulus 30 triliun rupiah untuk 35 juta rumah tangga lewat uang tunai.

Program magang berbayar juga diperluas: dari semula 20.000 orang, kini menjadi 100.000 sarjana, dengan anggaran sekitar 1,4 triliun rupiah.

Ada juga subsidi pajak untuk tiket pesawat kelas ekonomi: pemerintah menanggung 6 persen dari PPN 11 persen pada periode liburan akhir tahun.

Sektor perumahan digadang-gadang sebagai motor pertumbuhan ekonomi jangka panjang. Bank Dunia menilai bahwa reformasi di sektor ini bisa membuka lapangan kerja dan meningkatkan investasi.

Dalam laporan Indonesia Economic Prospects (IEP), Bank Dunia menyarankan agar pemerintah memperkuat reformasi struktural agar produktivitas naik dan ekonomi lebih inklusif.

Tapi risiko eksternal tetap mengintai: fluktuasi harga komoditas dan perang dagang bisa melemahkan ekspor Indonesia di masa depan.

Secara keseluruhan, ekonomi nasional sedang berada di persimpangan: ada potensi besar untuk tumbuh tinggi dengan reformasi dan stimulus tepat sasaran, tetapi juga tantangan besar dari sisi inflasi dan ketidakpastian global.

(ra)

Editor : Jasinta Bolang
#BRICS #Ekonomi #bisnis #stimulus #Indonesia #global