Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Monash University Hadirkan. AI untuk Bukti Kesehatan Terkini di Asia Tenggara dan Pasifik Barat

Amelia Beatrix • Rabu, 10 Desember 2025 | 22:32 WIB

Photo
Photo

MANADOPOST.ID - Dokter, pasien, dan pemerintah di Asia Tenggara serta Pasifik Barat sering kali mengandalkan panduan klinis yang sudah usang, meningkatkan risiko hasil kesehatan yang bisa dihindari. Untuk menjawab tantangan ini, Monash University bersama mitra regional memanfaatkan Kecerdasan Buatan (AI) untuk memberikan akses hampir real-time ke riset dan bukti ilmiah terbaru di bidang kesehatan.

Platform berbasis AI ini dinilai krusial dalam keadaan darurat kesehatan, seperti wabah penyakit atau krisis medis lainnya. Monash University kini menyusun peta jalan teknologi untuk mengembangkan platform yang menghubungkan tenaga kesehatan, pembuat kebijakan, dan komunitas terkait dengan riset terbaru.

Selama 2025, Monash menggelar dua lokakarya bersama WHO dan Cochrane, melibatkan lebih dari 70 perwakilan sektor kesehatan dari Australia, Tiongkok, India, Indonesia, Malaysia, Selandia Baru, Filipina, Korea Selatan, Swiss, dan Thailand. Kegiatan ini bertujuan mengidentifikasi kebutuhan, hambatan, dan faktor pendukung untuk menghadirkan bukti riset kesehatan yang diperbarui secara berkesinambungan bagi pengambil keputusan.

Hasil lokakarya tertuang dalam laporan ilmiah terbaru bertajuk Co-designing a Living Evidence Architecture: Understanding the needs of South-East Asia and the Western Pacific. Laporan ini menekankan pentingnya platform AI terkoordinasi secara regional untuk meningkatkan akses terhadap riset kesehatan terkini.

Inisiatif ini dipimpin oleh Australian Living Evidence Collaboration (ALEC) Monash, bekerja sama dengan Fakultas Seni, Desain, dan Arsitektur (MADA) serta Fakultas Teknologi Informasi (FIT) di kampus pusat Monash, Australia, dan Monash University Indonesia.

Profesor Tari Turner, Direktur ALEC, menyebut living evidence sebagai infrastruktur baru pengetahuan kesehatan yang mampu berkembang seiring pemahaman dan adaptasi terhadap kondisi lokal. “Melalui kolaborasi dan perancangan bersama, bukti ilmiah dapat diakses dan berdampak global,” ujarnya.

Profesor Indah Suci Widyahening dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia menegaskan pentingnya akses bukti kesehatan yang mutakhir. “Panduan yang tepat waktu membantu memberikan rekomendasi relevan, meningkatkan hasil kesehatan, dan mengurangi biaya yang tidak perlu,” katanya.

Associate Professor Leah Heiss, pemimpin co-design dari MADA, menambahkan bahwa penelitian regional ini menempatkan Australia di garis depan dalam merancang ulang penggunaan bukti ilmiah untuk meningkatkan health outcome.

Associate Professor Grace Wangge dari Monash Indonesia menekankan bahwa inisiatif ini akan menyoroti praktik medis terbaik dari Asia Tenggara yang sering kali kurang dimanfaatkan dalam praktik klinis sehari-hari.

Profesor John Grundy dari FIT Monash Australia menekankan pentingnya AI yang dikembangkan secara lokal dan etis. “Langkah selanjutnya adalah menyusun peta jalan teknologi yang mencerminkan kebutuhan dan nilai lokal serta mendorong pengambilan keputusan yang transparan dan adil,” jelasnya.

Setelah peta jalan selesai, tim proyek akan mencari pendanaan untuk pengembangan, pengujian, dan penerapan platform AI di seluruh Asia Tenggara dan Pasifik Barat. Didanai oleh Monash University 2025 Incubator Program, inisiatif ini menjadi fondasi Living Evidence Architecture (LEA) regional, mempercepat penerjemahan hasil riset kesehatan ke kebijakan dan praktik lintas negara.(ame)

Editor : Amelia Beatrix
#penelitian #monash university #Kesehatan #Platform AI