150 Usaha Sudah Terhubung E-Commerce, Digitalisasi Buka Jalan UMKM Sulut ke Pasar Global

Ayurahmi Rais • Dipublikasikan Minggu, 23 Agustus 2026 | 17:31 WIB
Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2026
Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2026

 

MANADO — Transformasi digital mulai membuka jalan lebih luas bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) Sulawesi Utara (Sulut) untuk memperluas pasar, meningkatkan efisiensi, hingga memperoleh akses pembiayaan.

Hingga Juli 2026, lebih dari 150 UMKM binaan Bank Indonesia (BI) Sulut telah terhubung dengan platform e-commerce dan menggunakan sistem pencatatan keuangan digital, sementara penggunaan QRIS telah menjangkau 388 ribu merchant dengan 95,36 persen di antaranya merupakan UMKM.

Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa digitalisasi tidak lagi sekadar menjadi pilihan bagi pelaku usaha, tetapi telah menjadi bagian penting dalam memperkuat daya saing UMKM.

 

Melalui pemanfaatan teknologi, pelaku usaha tidak hanya dapat menjangkau konsumen yang lebih luas, tetapi juga memiliki tata kelola keuangan yang lebih tertib dan kesiapan yang lebih baik untuk mengakses pembiayaan.

Transformasi digital tersebut menjadi salah satu fokus Bank Indonesia dalam mendorong UMKM agar mampu beradaptasi dengan perkembangan ekonomi digital dan naik kelas. Hal ini disampaikan Deputi Gubernur Bank Indonesia Filianingsih Hendarta saat membuka Innovation Talk Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2026 bertema “Akselerasi Transformasi Digital UMKM: Integrasi Inovasi Digital Menuju UMKM Naik Level” di Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta, 21 Agustus 2026.

Filianingsih mengatakan BI mendorong UMKM melakukan transformasi digital melalui tiga strategi utama, yakni e-farming, e-commerce, dan e-financing. Ketiganya diarahkan untuk menjawab kebutuhan pelaku usaha mulai dari peningkatan produktivitas, perluasan pasar, hingga penguatan pengelolaan keuangan dan akses pembiayaan.

Pada sektor pertanian, strategi e-farming diterapkan melalui pemanfaatan teknologi digital untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas. Di Sulut, hingga 2026 terdapat enam kelompok tani yang tergabung dalam Petani Unggulan Sulawesi Utara (PATUA) yang telah mengadopsi digital farming melalui penggunaan smart greenhouse dan drone sprayer.

Teknologi tersebut dimanfaatkan untuk komoditas rica atau cabai, bawang merah, dan padi. Penggunaannya membantu petani mengatur pemakaian pupuk dan bahan produksi secara lebih tepat sehingga biaya produksi dapat ditekan sekaligus meningkatkan produktivitas dan daya saing.

Sementara itu, pada sektor UMKM, strategi e-commerce diwujudkan melalui onboarding pelaku usaha ke platform digital. Hingga Juli 2026, lebih dari 150 UMKM binaan BI Sulut telah terdigitalisasi melalui integrasi dengan e-commerce dan penggunaan Sistem Informasi Aplikasi Pencatatan Informasi Keuangan (SIAPIK).

Pemanfaatan e-commerce memberikan peluang bagi produk UMKM untuk menjangkau konsumen di luar wilayah Sulut, termasuk pasar nasional dan global. Di saat yang sama, penggunaan SIAPIK membantu pelaku usaha melakukan pencatatan keuangan secara lebih tertib dan transparan. Kondisi tersebut menjadi modal penting bagi UMKM untuk meningkatkan kredibilitas usaha sekaligus memperkuat kesiapan dalam mengakses pembiayaan dari lembaga keuangan, baik bank maupun nonbank.

Digitalisasi juga semakin terlihat dalam aktivitas transaksi sehari-hari melalui penggunaan QRIS. Hingga Juli 2026, QRIS telah digunakan oleh 388 ribu merchant di Sulut, dengan 95,36 persen di antaranya merupakan UMKM. Nilai transaksi UMKM melalui QRIS bahkan telah mencapai Rp3,5 triliun.

Besarnya penggunaan QRIS menunjukkan semakin kuatnya penerimaan pembayaran digital di kalangan pelaku usaha. Bagi UMKM, pembayaran digital tidak hanya memberikan kemudahan dan pilihan transaksi bagi konsumen, tetapi juga membuat aktivitas usaha semakin terhubung dengan ekosistem ekonomi dan keuangan digital.

BI menilai penguatan digitalisasi tersebut perlu diikuti dengan ekosistem inovasi yang mampu menghasilkan solusi sesuai kebutuhan pelaku usaha. Karena itu, BI terus mengembangkan Pusat Inovasi Digital Indonesia (PIDI) sebagai ruang yang menghubungkan talenta, inovator, industri, pemerintah, dan mitra strategis untuk menghasilkan solusi digital yang dapat diterapkan di sektor riil, termasuk UMKM.

Filianingsih menekankan pentingnya membangun ekosistem inovasi digital yang saling menguatkan agar transformasi teknologi tidak berhenti pada penggunaan aplikasi atau platform, tetapi benar-benar menghasilkan peningkatan produktivitas dan daya saing.

“Dengan talenta yang berdaya, inovasi yang implementatif, dan ekosistem yang saling menguatkan, kami optimis UMKM Indonesia akan terus bertransformasi, bertumbuh, dan naik kelas, serta mendukung pertumbuhan ekonomi yang semakin inklusif dan berkelanjutan,” ujar Filianingsih.

Bagi Sulut, perkembangan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat fondasi UMKM agar semakin adaptif terhadap perubahan pola konsumsi dan perkembangan ekonomi digital. Dengan pasar yang semakin terbuka, pencatatan usaha yang lebih baik, pembayaran digital yang semakin luas, serta peluang pembiayaan yang semakin terbuka, digitalisasi diharapkan dapat mempercepat proses UMKM untuk naik kelas.

BI Sulut akan terus memperkuat sinergi dengan pemerintah daerah, perbankan, lembaga keuangan, pelaku usaha, komunitas, akademisi, dan pemangku kepentingan lainnya untuk mempercepat transformasi tersebut. Dengan semangat Mapalus atau gotong royong, digitalisasi diharapkan tidak hanya meningkatkan kemampuan UMKM bertahan di tengah perubahan, tetapi juga menjadikan pelaku usaha semakin inovatif dan berdaya saing serta mampu berkontribusi lebih besar terhadap pertumbuhan ekonomi.

Editor : Ayurahmi Rais
KKI 2026 150 UMKM Sulut Terhubung E Commerce Digitalisasi UMKM UMKM Sulut Bank Indonesia Sulut