Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Sempat Gagal Jadi Polwan, Pertiwi Bangkit dan Melangkah Optimis Sebagai SIPSS Polri

Gregorius Mokalu • Rabu, 17 Desember 2025 | 09:06 WIB

Pertiwi Talumantak
Pertiwi Talumantak

MANADOPOST.ID– Di balik senyum tenang Pertiwi Talumantak, tersimpan perjalanan panjang tentang kegigihan, iman, dan panggilan untuk mengabdi.

Perempuan asal Manado, Sulawesi Utara, ini kini berdiri di salah satu titik terpenting dalam hidupnya: sebagai calon siswa Sekolah Inspektur Polisi Sumber Sarjana (SIPSS) Polri.

Di usia 26 tahun, Pertiwi—lulusan magister hukum—tak datang ke titik ini dengan jalan yang lurus. Ia pernah gagal saat mencoba seleksi polisi wanita melalui jalur Bintara.

Namun kegagalan itu tak memadamkan cita-citanya. Justru sebaliknya, ia menjadi pijakan untuk melangkah lebih jauh.
Anak pendeta Julius Talumantak ini mengaku, keinginannya menjadi polwan berakar dari pengalaman akademisnya.

Saat menyusun skripsi berjudul Penegakan Hukum di Pulau-Pulau Terluar Indonesia untuk Keutuhan Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, Pertiwi mulai merasakan panggilan yang lebih besar dari sekadar teori hukum.


Proses penelitian itu membuka matanya tentang pentingnya kehadiran negara di garis terluar, sekaligus menghadirkan wajah penegakan hukum yang manusiawi.

Dari sanalah impian itu tumbuh—menjadi aparat penegak hukum yang tidak hanya tegas, tetapi juga membawa cinta kasih di tengah masyarakat.


“Tidak sia-sia mencoba lagi lewat SIPSS. Puji Tuhan saya bisa sampai di tingkat pusat. Motivasi ikut seleksi polisi itu karena setiap hari bisa berinteraksi dengan masyarakat, berada di garis depan penegakan hukum,” ujarnya, seperti dikutip dari rilis Itwasum Polri beberapa waktu lalu.

Tumbuh besar di lingkungan gereja membentuk karakter Pertiwi. Nilai kasih, dialog, dan perdamaian tertanam kuat dalam kesehariannya.

Ia percaya, banyak persoalan sosial dapat diselesaikan dengan komunikasi, bukan kekerasan.


Ia pun tak sendiri dalam perjuangan ini. Dukungan keluarga menjadi energi yang terus menguatkannya.

“Orang tua selalu mendukung. Saya juga sudah mempersiapkan banyak hal, termasuk latihan fisik,” tuturnya mantap.


Sebagai anak pendeta, sisi spiritual Pertiwi terbentuk sejak dini.

Gereja bukan hanya ruang ibadah, tetapi juga tempat ia mengasah bakat dan melayani.

Ia aktif sebagai pembawa pujian sekaligus anggota paduan suara di GMIM DAME Tosuraya.

Prestasinya di bidang olah vokal terbilang gemilang. Bersama tim paduan suara, ia meraih medali emas di ajang Asia-Pacific Choir Games (APCG) serta International Choir Competition di Bali dan Singapura.

Di tingkat jemaat, ia pernah menjadi juara pertama Bintang Vokalia Jemaat Pniel Tuna.

Pada 2023, namanya kembali tercatat sebagai peraih medali emas Festival Seni Pemuda Gereja (FSPG).


Kemampuan vokalnya semakin terasah sejak bersekolah di SMA Eben Haezar Manado pada 2013.

Lulus SMA, Pertiwi melanjutkan pendidikan ke Fakultas Hukum Universitas Sam Ratulangi.

Di bangku kuliah, ruang ekspresinya semakin luas. Selain hukum dan musik, ia mengembangkan bakat seni tari.


Bahkan, ia pernah mewakili Sulawesi Utara sebagai penari teatrikal tokoh Pahlawan Nasional Maria Walanda Maramis—sebuah peran yang kian menegaskan komitmennya pada nilai perjuangan dan pengabdian.


Kini, langkah Pertiwi Talumantak menuju SIPSS Polri bukan sekadar tentang seragam dan pangkat.

Ia membawa harapan untuk menjadi wajah penegakan hukum yang tegas, humanis, dan berakar pada kasih—sebuah perpaduan antara iman, ilmu, dan pengabdian untuk negeri. (*)

 

Editor : Gregorius Mokalu
#Sekolah #SUMBER #Polisi #Pertiwi Tumalantak #sarjana #inspektur