MANADOPOST.ID – Teknologi PRESBYOND® Laser Blended Vision kini tersedia untuk pertama kalinya di Indonesia Timur yakni Kota Makassar, menghadirkan alternatif koreksi bagi masyarakat yang mengalami presbiopia atau penurunan kemampuan melihat dekat akibat proses penuaan alami mata. Kehadiran teknologi ini menambah pilihan penanganan gangguan penglihatan yang semakin banyak dialami kelompok usia di atas 40 tahun.
Presbiopia merupakan kondisi ketika lensa mata kehilangan kemampuan berakomodasi sehingga objek pada jarak dekat menjadi lebih sulit terlihat jelas.
Kondisi ini umumnya mulai dirasakan saat seseorang kesulitan membaca pesan di telepon genggam, melihat dokumen, menggunakan komputer, atau melakukan aktivitas lain yang membutuhkan fokus pada jarak dekat. Seiring meningkatnya harapan hidup dan aktivitas masyarakat usia matang, kebutuhan terhadap solusi penglihatan yang mendukung produktivitas sehari-hari juga semakin relevan.
Secara global, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat presbiopia sebagai salah satu penyebab utama gangguan penglihatan dekat yang belum tertangani. Berbagai penelitian juga menunjukkan jumlah penyandang presbiopia terus meningkat seiring bertambahnya populasi lanjut usia di berbagai negara.
Berbeda dengan prosedur koreksi refraksi yang umumnya ditujukan untuk mengatasi rabun jauh, rabun dekat, atau astigmatisme, PRESBYOND dikembangkan secara khusus untuk membantu mengatasi keterbatasan penglihatan akibat presbiopia. Teknologi ini menggabungkan koreksi refraksi dengan perluasan rentang fokus penglihatan sehingga pengguna dapat memperoleh kenyamanan visual pada jarak jauh, menengah, hingga dekat.
Dokter Spesialis Mata Dr. Andi Akhmad Faisal, SpM, M.Kes, menjelaskan bahwa presbiopia merupakan bagian dari proses penuaan alami mata yang tidak dapat dihindari. Menurutnya, seiring bertambahnya usia, kemampuan lensa mata untuk menyesuaikan fokus akan menurun sehingga seseorang mulai membutuhkan bantuan untuk melihat dekat dengan jelas.
“Pendekatan yang digunakan dalam teknologi ini dirancang untuk membantu mengompensasi penurunan kemampuan fokus tersebut dengan memperluas rentang penglihatan. Tujuannya agar pasien dapat lebih nyaman saat melihat objek pada berbagai jarak, termasuk ketika bekerja di depan layar atau membaca,” ujarnya.
Meski demikian, tidak semua orang dapat langsung menjalani prosedur koreksi presbiopia. Evaluasi menyeluruh tetap diperlukan untuk menilai kondisi kornea, kualitas permukaan mata, ukuran pupil, dominansi mata, hingga kondisi lensa. Pemeriksaan tersebut penting untuk memastikan kesesuaian tindakan dengan kondisi mata dan kebutuhan visual masing-masing pasien.
Kehadiran teknologi koreksi presbiopia di Indonesia Timur menjadi bagian dari perkembangan layanan kesehatan mata yang semakin berorientasi pada kebutuhan individu. Di tengah meningkatnya jumlah masyarakat usia produktif dan lanjut usia, akses terhadap pilihan penanganan yang lebih beragam diharapkan dapat membantu menjaga kualitas penglihatan sekaligus mendukung aktivitas sehari-hari.(AME)
Editor : Amelia Beatrix