Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Sering Dianggap Masuk Angin, Ternyata Gejala Ini Bisa Berujung Serangan Jantung

Amelia Beatrix • Kamis, 11 Juni 2026 | 16:28 WIB
dr. Febtusia Puspitasari, Sp.JP, FIHA, FAsCC, FESC, dokter spesialis jantung dan pembuluh darah yang berafiliasi dengan PERKI, menjelaskan bahwa Angin Duduk yang sering dianggap ringan dan coba diatasi dengan kerokan sebenarnya merupakan gejala khas angina pektoris.
dr. Febtusia Puspitasari, Sp.JP, FIHA, FAsCC, FESC, dokter spesialis jantung dan pembuluh darah yang berafiliasi dengan PERKI, menjelaskan bahwa Angin Duduk yang sering dianggap ringan dan coba diatasi dengan kerokan sebenarnya merupakan gejala khas angina pektoris.

MANADOPOST.ID – Melalui sesi edukasi media yang digelar di Jakarta menjelang World Heart Day,  pihak Daewoong Pharmaceutical Indonesia bekerja sama dengan Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) menyoroti masih rendahnya kesadaran masyarakat dalam mengenali gejala nyeri dada sebagai sinyal penyakit kardiovaskular. Akibatnya, banyak pasien terlambat mendapatkan penanganan medis yang dapat menyelamatkan nyawa.

Data One ACS Registry yang melibatkan 14 rumah sakit di Indonesia menunjukkan bahwa dari pasien infark miokard akut pada periode Juli 2018 hingga Juni 2019, sebanyak 34,8 persen tidak memperoleh terapi reperfusi untuk membuka sumbatan pembuluh darah jantung. Sementara itu, hanya 21,8 persen pasien yang mendapatkan penanganan dalam waktu tiga jam sejak gejala muncul. Temuan ini mengindikasikan masih banyak masyarakat yang belum mengenali tanda bahaya serangan jantung sejak dini.

Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah yang berafiliasi dengan PERKI, dr. Febtusia Puspitasari, Sp.JP, FIHA, FAsCC, FESC, menjelaskan bahwa angin duduk umumnya ditandai nyeri atau rasa tertekan di bagian tengah dada yang dapat menjalar ke rahang, bahu, atau lengan. Gejala tersebut tidak boleh dianggap sepele maupun hanya diatasi dengan kerokan karena bisa menjadi pertanda angina tidak stabil atau bahkan serangan jantung akut.

Menurutnya, keterlambatan diagnosis dan pengobatan dapat meningkatkan risiko komplikasi berat hingga kematian mendadak. Karena itu, masyarakat dianjurkan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami nyeri dada yang tidak biasa.

Selain mengenali gejala sejak dini, upaya pencegahan juga perlu dilakukan dengan mengendalikan faktor risiko penyakit kardiovaskular. Salah satunya melalui pengelolaan kadar kolesterol jahat atau LDL-C secara ketat hingga mencapai target yang direkomendasikan. Pendekatan terapi kombinasi statin dan ezetimibe dinilai dapat membantu pasien yang belum mencapai target kolesterol dengan terapi konvensional.

Perwakilan Daewoong Pharmaceutical menegaskan komitmen perusahaan untuk terus mendukung peningkatan kualitas kesehatan masyarakat Indonesia melalui edukasi berbasis sains dan kolaborasi dengan tenaga medis. Melalui kerja sama dengan PERKI, Daewoong berharap semakin banyak masyarakat yang memahami bahwa angin duduk bukan sekadar masuk angin, melainkan sinyal peringatan penting yang memerlukan perhatian dan penanganan medis segera.(AME)

Editor : Amelia Beatrix
#statin dan ezetimibe #PERKI #Daewoong