MANADOPOST.ID - Perdana Menteri sekaligus Menteri Luar Negeri Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman bin Jassim Al Thani mengadakan pertemuan penting dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi di sela-sela Konferensi Tingkat Tinggi Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) yang berlangsung di Istanbul.
Pertemuan ini digelar dalam suasana ketegangan yang tengah memuncak di kawasan Timur Tengah, menyusul meningkatnya eskalasi militer antara Israel dan Iran.
Dalam pertemuan tersebut, Sheikh Mohammed secara tegas menyampaikan sikap resmi Qatar yang mengutuk keras agresi militer Israel terhadap wilayah Iran.
Ia menyebut tindakan tersebut sebagai pelanggaran nyata terhadap kedaulatan dan keamanan nasional Iran, sekaligus sebagai pelanggaran serius terhadap prinsip-prinsip hukum internasional.
Kecaman tersebut disampaikan melalui pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri Qatar yang menegaskan solidaritas negara Teluk itu terhadap Iran dalam menghadapi serangan lintas batas.
Lebih dari sekadar kecaman, Sheikh Mohammed juga menekankan pentingnya upaya bersama dari negara-negara kawasan dan komunitas internasional untuk mencegah konflik lebih luas.
Ia menegaskan bahwa kawasan tidak dapat menanggung beban perang regional yang berlarut-larut, dan bahwa ketegangan yang terus meningkat hanya akan membawa penderitaan bagi rakyat sipil serta mengguncang stabilitas kawasan yang sudah rapuh.
Dalam pembicaraan dengan Araghchi, Sheikh Mohammed menyatakan bahwa Qatar kini tengah melakukan berbagai upaya diplomatik secara intensif, bekerja sama dengan sejumlah mitra strategisnya, untuk mendorong dimulainya kembali dialog antara pihak-pihak yang bertikai.
Ia menyampaikan bahwa Doha tetap berkomitmen pada prinsip dialog dan penyelesaian damai, serta siap memainkan peran aktif sebagai penengah dalam konflik yang berkembang.
Pernyataan dan posisi tegas Qatar ini menjadi sinyal penting di tengah semakin sempitnya ruang diplomasi yang tersedia.
Qatar, yang dikenal memiliki hubungan baik dengan berbagai kekuatan regional—termasuk Iran, negara-negara Teluk, serta negara-negara Barat—berupaya menjaga posisinya sebagai aktor penyeimbang yang bisa menjembatani komunikasi dan negosiasi antara pihak-pihak yang berseteru.
Pertemuan antara Sheikh Mohammed dan Abbas Araghchi juga menunjukkan bahwa meski ketegangan meningkat, jalur diplomasi tetap terbuka.
Dalam konteks krisis yang melibatkan Israel dan Iran, serta meningkatnya kekhawatiran akan pecahnya perang besar di kawasan, pertemuan ini dianggap sebagai langkah penting dalam menjaga dialog tetap hidup dan mencegah konflik semakin membesar.
Dengan terus berkoordinasi bersama mitra regional dan internasional, Qatar berupaya mendorong solusi damai yang berakar pada keadilan dan penghormatan terhadap kedaulatan negara.
Sheikh Mohammed menggarisbawahi bahwa hanya melalui dialog terbuka dan itikad baik, perdamaian yang langgeng dapat dicapai di kawasan yang selama bertahun-tahun diwarnai ketegangan dan ketidakstabilan. (tkg)
Editor : Kenjiro Tanos