MANADOPOST.ID — Fenomena anak pejabat dan konglomerat pamer harta di media sosial ternyata bukan hanya terjadi di Indonesia.
Belakangan, Filipina juga diguncang isu serupa.
Warganet di negeri itu ramai-ramai mengecam para “nepo baby” —sebutan untuk anak-anak pejabat dan kontraktor swasta—yang hobi memamerkan gaya hidup mewah di tengah isu korupsi proyek negara.
Kemarahan publik mencuat setelah Presiden Ferdinand Marcos Jr. memerintahkan lifestyle check terhadap semua pejabat, usai mengungkap adanya proyek pengendalian banjir senilai lebih dari ₱545 miliar (setara ratusan triliun rupiah) yang ternyata cacat atau bahkan fiktif.
Dari lebih dari 2.000 proyek, setidaknya 15 perusahaan diketahui bermasalah, namun justru mereka yang paling banyak mengantongi kontrak.
Tak butuh waktu lama, publik pun menelusuri akun-akun media sosial anak pejabat dan pemilik perusahaan itu.
Hasilnya bikin geram: Instagram dan TikTok mereka penuh foto dengan tas Chanel, Fendi, YSL, hingga Celine, sepatu branded, dan liburan mewah.
Salah satu unggahan yang jadi sorotan adalah potret putri seorang kontraktor mengenakan scarf, jaket, sepatu, dan tas dengan total harga mencapai ₱680.170 atau setara gaji buruh minimum di Metro Manila selama 31 bulan.
Nama Claudine Co, yang dikenal sebagai salah satu figur sosialita muda dan putri dari keluarga kontraktor berpengaruh, ikut terseret dalam percakapan publik.
Unggahan gaya hidup mewahnya yang semula dipuji, kini justru dianggap mencolok di tengah isu proyek banjir bermasalah.
Tagar berisi sindiran terhadap dirinya pun ramai beredar, menjadikannya simbol betapa tajamnya kemarahan rakyat kepada anak-anak elit politik dan bisnis.
Gelombang kritik membuat sebagian besar akun media sosial mereka buru-buru ditutup.
Namun jejak digital keburu viral: kolase harga outfit mereka beredar luas di jagat maya, jadi bukti nyata betapa timpangnya realitas rakyat dengan gaya hidup anak pejabat.
Tak hanya para kontraktor, keluarga dinasti politik Filipina juga ikut terseret.
Anak-anak mereka tak luput dari sorotan dan kritik publik karena gaya hidup yang dianggap terlalu hedonis dan jauh dari realita rakyat biasa. (tkg)
Editor : Kenjiro Tanos