MANADOPOST.ID - Nepal kini memasuki babak baru setelah gelombang protes besar-besaran yang digerakkan anak muda menggulingkan perdana menteri sebelumnya.
Pada Minggu (14/9), Sushila Karki, mantan ketua mahkamah agung berusia 73 tahun, resmi mulai bekerja sebagai perdana menteri interim dengan janji utama: menindaklanjuti tuntutan rakyat untuk mengakhiri korupsi.
Gelombang unjuk rasa bermula awal pekan lalu ketika pemerintah memberlakukan larangan media sosial.
Kebijakan itu justru menyulut kemarahan generasi muda yang sudah lama resah dengan kondisi ekonomi.
Demonstrasi cepat meluas, bahkan berujung pada pembakaran gedung parlemen dan sejumlah kantor pemerintahan.
“Kita harus bekerja sesuai dengan cara berpikir generasi Gen Z,” ujar Karki dalam pernyataan publik pertamanya sejak dilantik pada Jumat lalu melansir South China Morning Post.
Ia menegaskan, enam bulan ke depan pemerintahannya akan fokus mengembalikan stabilitas dan mempersiapkan pemilu yang dijadwalkan berlangsung setelah masa transisi.
Tuntutan utama para demonstran jelas: hentikan korupsi, perbaiki tata kelola pemerintahan, dan wujudkan kesetaraan ekonomi.
Sebuah pesan yang menggema di tengah data Bank Dunia yang mencatat satu dari lima pemuda Nepal berusia 15–24 tahun masih menganggur, sementara pendapatan per kapita negara hanya sekitar US$1.447.
“Apa yang mereka minta adalah masa depan tanpa korupsi, dengan pemerintahan yang baik dan keadilan ekonomi,” tegas Karki.
“Kita semua harus bertekad untuk mewujudkannya.”
Masyarakat kini menanti langkah konkret dari pemimpin sementara ini, di tengah harapan besar generasi muda yang disebut-sebut sebagai kekuatan politik baru Nepal. (tkg)
Editor : Kenjiro Tanos