Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Viral Video 7 Anjing di China Ternyata Hoaks, Ini Fakta Sebenarnya

Kenjiro Tanos • Kamis, 26 Maret 2026 | 19:41 WIB

Photo
Photo

MANADOPOST.ID - Sebuah video yang telah ditonton puluhan juta kali di media sosial memperlihatkan tujuh anjing berjalan bersama di pinggir jalan tol di Provinsi Jilin, China.

Video ini langsung mencuri perhatian warganet dan memicu berbagai cerita haru yang menyebar luas.

Dalam narasi yang viral, ketujuh anjing tersebut disebut-sebut berhasil kabur dari penangkapan untuk dijadikan makanan, lalu melakukan perjalanan jauh pulang ke rumah.

Kisah ini semakin dramatis dengan adanya karakter seperti golden retriever, German shepherd yang terluka, hingga seekor corgi kecil yang dianggap sebagai “pemimpin” rombongan.

Namun, fakta sebenarnya jauh berbeda.

Media pemerintah China membantah cerita tersebut. Video aslinya memang nyata, tetapi narasi tentang pelarian dan perjalanan pulang hanyalah karangan warganet.

Video itu direkam pada 15 Maret oleh seorang pengendara yang melintas di daerah terpencil di Jilin.

Ia sempat berspekulasi bahwa anjing-anjing tersebut mungkin kabur dari kendaraan pengangkut, namun kemudian mengklarifikasi bahwa ia tidak melihat kejadian tersebut secara langsung.

Video ini kemudian viral di platform seperti Douyin dan Weibo, ditonton lebih dari 90 juta kali, sebelum menyebar ke TikTok, X, dan Instagram.

Berbagai teori bermunculan, mulai dari dugaan anjing-anjing itu dicuri hingga anggapan bahwa mereka saling melindungi anggota yang terluka.

Kenyataannya, ketujuh anjing tersebut adalah milik warga desa yang tinggal beberapa kilometer dari lokasi video.

Menurut pemiliknya, anjing German shepherd sedang dalam masa birahi, sehingga menarik perhatian anjing lain untuk berkumpul.

Di desa tersebut, anjing memang biasa dibiarkan berkeliaran bebas dan sering menghilang selama satu hingga dua hari saat masa birahi.

Kini, semua anjing tersebut telah kembali ke rumah masing-masing, dan German shepherd tersebut sudah diikat sementara waktu.

Fenomena ini menunjukkan bagaimana informasi yang salah dapat dengan cepat menyebar setelah sebuah konten viral.

Kisah-kisah yang menyentuh emosi, seperti video hewan, sering kali dimanfaatkan atau dilebih-lebihkan demi menarik perhatian.

Pakar media digital menyebut, konten seperti ini mudah viral karena menyentuh sisi emosional manusia dan menjadi “pelarian” dari berita negatif.

Namun, di sisi lain, hal ini juga mendorong kreator untuk membuat atau memodifikasi cerita demi mendapatkan klik dan interaksi.

Bahkan, banyak konten turunan berbasis AI bermunculan, seperti poster film, trailer palsu, hingga gambar pertemuan haru dengan pemilik—yang semuanya tidak nyata.

Meski terlihat sepele, penyebaran narasi palsu ini tetap berbahaya.

Salah satunya karena memicu stereotip negatif, seperti anggapan bahwa anjing-anjing tersebut akan dijadikan makanan, yang dapat memperkuat prasangka terhadap masyarakat China.

Para ahli mengingatkan, jika masyarakat terbiasa menerima konten ringan tanpa verifikasi, kemampuan berpikir kritis juga bisa menurun, termasuk saat menghadapi isu yang lebih serius.

Di era kecerdasan buatan saat ini, batas antara fakta dan fiksi semakin kabur. Bahkan konten sederhana sekalipun bisa menyesatkan dan membuat publik sulit membedakan mana yang benar.

Situasi ini dinilai berbahaya karena dapat merusak kepercayaan terhadap informasi secara keseluruhan. (tkg)

Editor : Kenjiro Tanos
#anjing viral #China #video Viral