MANADOPOST.ID- Pihak pengusaha baik hotel, restoran dan kafe (Horeka) di Kota Manado diminta untuk bekerja sama dengan bank sampah.
Apa laga diketahui, Horeka banya menghasilkan sampah anorganik, atau dalam hal ini sampah kering, plastik-plastik, botol, plastik kemasan.
Kepala Bidang (Kabid) Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 Dinas Lingkungan Hidup Kota Manado Lieke Kembuan mengatakan, akhir tahun 2025 lalu, pihaknya telah melaksanakan sosialisasi kepada semua pelaku usaha dalam hal ini Horeka.
"Jadi kami sarankan Horeka ini kerjasama dengan bank sampah. Karena bank sampah pasti mau mengambil itu.
Apalagi pasca Nataru, botol-botol plastik diharapkan jangan lagi buang di TPA. Tapi digabung saja ke bank sampah atau donasikan ke petugas kebersihan. Karena itu bisa ada nilainya," ujar Lieke.
Soal sampah seperti saset-saset kopi, sekarang pihaknya sudah ada TAKE. Atau kelompok pengelola mandiri yang ada di Tongkaina, Tematik.
"Itu bantuan dari PT Pelindo Manado berupa mesin yang nanti akan menjadi paving. Nah, diharapkan ketika jadi paving, Pelindo ambil lagi barang tersebut.
Mereka mungkin beli lagi kalau sudah jadi paving. Nah, sekarang ini mungkin masih kurang stok, dan karena masyarakat belum mau pergi drop plastik-plastik kresek ini.
Jadi masih dicari, dan mereka kumpul yang kresek-kresek. Kalau botol mungkin orang sudah familiar mau beli atau tabung," terangnya.
Selain itu juga, ada sebuah kelompok di Buha yang tergabung dalam Bank Sampah, menjadi biji plastik. Sampah didaur ulang jadi biji plastik.
"Ternyata di Kota Manado juga sudah ada. Ini dimiliki pribadi atau mandiri. Mereka pengelola sampah botol yang ambil-ambil ke masyarakat. Tapi juga ternyata kresek-kresek yang sisa-sisa plastik kecil, mereka bisa ubah jadi biji plastik," tuturnya.
Biji plastik tersebut, lanjutnya, bisa dikatakan mahal. Sebab, jikalau dijual ulang bisa jadi gantungan baju, kursi, tali, tali rafia, gayung dan lainnya.
"Itu yang yang kemungkinan dijual lagi. Ini sudah ada pabrik seperti itu di Manado. Kemudian ada juga yang di seputaran Sumompo yang bisa jadi panel atap seng.
Itu semua dari sampah-sampah plastik kresek, plastik-plastik yang hanya dibuang-buang, tapu ternyata bisa jadi panel hanya dengan mesin masih skala kecil," jelasnya.
Semua itu, telah diberdayakan oleh Pemkot Manado sehingga sampah plastik sudah ada ranahnya sendiri, organik ada yang kelola sendiri untuk kompos.
"Supaya sampah yang mau masuk ke TPA regional, kurang residu. Tidak semua jenis sampah seperti plastik-plastik.
Karena memang nantinya sampah yang masuk ke Ilo-Ilo tak bisa ada unsur plastik, kayu, kaca dan limba B3.
Hanya sampah yang sudab tidak bermanfaat saja. Supaya umur atau usia pakai TPA itu panjang. Jadi kalau di Ilo-Ilo, yidak akan diterima sampah-sampah begitu.
Oleh karena itu, mau tidak mau kita semua harus belajar memilah sampah yang organik dan anorganik," pungkasnya. (Livrando Kambey)
Editor : Tanya Rompas