Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Tubuh Saya Ringkih, Namun Otak Tetap Gigih!

Tanya Rompas • Jumat, 19 Desember 2025 | 11:23 WIB
Photo
Photo

TUBUH ini digempur berlapis-lapis intervensi medis: obat steroid dosis tinggi, tusukan jarum suntik, kemoterapi, radioterapi (penyinaran), serta rutinitas bolak-balik rumah sakit yang menguras energi. Perlahan, tubuh terasa ringkih.

Efek terapi mulai nyata. Lisan kerap kelu. Jari kanan kaku. Rambut rontok. Tubuh mudah goyah. Buang air besar pun sering tersendat. Gejala-gejala ini bukan keluhan dramatis, melainkan fakta klinis yang lazim menyertai terapi agresif kanker otak.

Namun di tengah keterbatasan fisik itu, saya menyadari memiliki coping mechanism yang telah dibangun jauh hari. Sebuah modal biologis sekaligus psikologis: hobi membaca.

Dari sinilah saya mulai memahami konsep yang dalam neurosains dikenal sebagai brain reserve—cadangan fungsional otak.

Para pakar neurosains menggunakan istilah brain reserve untuk menjelaskan kapasitas otak yang tersimpan, jaringan, koneksi, dan strategi kognitif yang memungkinkan seseorang tetap berfungsi, meski sebagian struktur otak mengalami kerusakan.

Bagaimana mekanisme ini bekerja dalam tubuh yang sedang sakit?

Otak adalah pusat komando metabolisme—the general of the war.

Ia mengatur respons stres, rangsangan untuk bahagia, mengabaikan hal-hal perlu. Misalnya, "siksaan" kemo, mampu saya abaikan.

Saya berjuang agar tak terjadi mental burnout (kelelahan mental).

Otak, meski terkena kanker, masih mampu mengatur irama hidup tubuh.

Ia menahan agar sistem imun tidak jatuh. Ia menjaga agar hormon stres tidak liar. Ia memastikan energi dipakai untuk bertahan, bukan dihamburkan oleh kepanikan biologis dan psikologis.

Saya belajar bahwa kesembuhan bukanlah garis lurus tanpa gejala.

Ia adalah proses negosiasi halus antara otak, tubuh, dan makna hidup.

Selama metabolisme masih berdiri, selama otak masih mampu beradaptasi, dan selama hati tidak menyerah pada putus asa, maka perjuangan ini belum selesai.

Pengakuan Penyintas Kanker Otak Ganas, Endi Biaro.

Editor : Tanya Rompas