Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Mengenal Suku Uighur, Warisan Budaya yang Bertahan di Tengah Tantangan di Xinjiang, China

Nur Fadilah • Senin, 15 Juli 2024 | 12:12 WIB

Ilustrasi suku uighur. Foto: Pixabay
Ilustrasi suku uighur. Foto: Pixabay

MANADOPOST.ID
-Xinjiang, sebuah wilayah otonom di barat laut China, merupakan rumah bagi berbagai kelompok etnis, salah satunya adalah suku Uighur.

Suku Uighur adalah kelompok etnis Turkic yang mayoritas menganut agama Islam.

Mereka memiliki sejarah panjang dan budaya yang kaya, yang mencerminkan perpaduan unik antara warisan Turkic dan pengaruh Islam.

Suku Uighur memiliki sejarah yang panjang yang dapat ditelusuri hingga abad ke-3. Mereka adalah bagian dari jaringan perdagangan Jalur Sutra yang terkenal, yang menghubungkan China dengan Timur Tengah dan Eropa.

Baca Juga: Usai Bakobong Harus Mengucap Syukur, Gubernur Sulut Ikut Rayakan Pengucapan Bersama Masyarakat Minsel

Kota-kota di Xinjiang seperti Kashgar dan Urumqi menjadi pusat perdagangan dan budaya yang ramai, di mana pedagang dan penjelajah dari berbagai belahan dunia berinteraksi.

Budaya Uighur kaya dengan musik, tarian, dan seni. Musik tradisional Uighur, yang dikenal sebagai "muqam," adalah bentuk seni yang kompleks dan memikat, sering kali melibatkan instrumen seperti dutar (alat musik petik) dan ghijak (biola).

Tarian Uighur, dengan gerakan yang lincah dan kostum berwarna-warni, adalah bagian integral dari perayaan dan upacara mereka.

Selain itu, masakan Uighur, yang terkenal dengan penggunaan daging domba, rempah-rempah, dan roti naan, menawarkan cita rasa yang menggugah selera. Salah satu hidangan terkenal adalah "laghman," mi buatan tangan yang disajikan dengan saus daging dan sayuran yang pedas.

Namun, di balik kekayaan budaya dan sejarah, suku Uighur menghadapi berbagai tantangan. Selama beberapa tahun terakhir, perhatian dunia tertuju pada situasi hak asasi manusia di Xinjiang.

Laporan menunjukkan bahwa pemerintah China telah menerapkan berbagai kebijakan yang ketat terhadap suku Uighur, termasuk pengawasan ketat, penahanan massal, dan upaya untuk mengasimilasi budaya Uighur ke dalam budaya mayoritas Han.

Pemerintah China mengklaim bahwa kebijakan tersebut bertujuan untuk mengatasi ekstremisme dan menjaga stabilitas wilayah.

Namun, organisasi hak asasi manusia dan berbagai negara menyuarakan keprihatinan mengenai pelanggaran hak asasi manusia yang terjadi.

Masa depan suku Uighur di Xinjiang masih menjadi pertanyaan besar. Meskipun banyak tantangan yang dihadapi, suku Uighur terus mempertahankan identitas dan budaya mereka.

Dukungan internasional dan dialog yang konstruktif mungkin dapat membantu menemukan solusi yang adil dan damai untuk situasi yang kompleks ini.

Dalam menghadapi masa depan yang tidak pasti, suku Uighur tetap menjadi simbol ketahanan dan kebanggaan budaya yang tak tergoyahkan.

Warisan mereka yang kaya terus hidup dalam musik, tarian, masakan, dan tradisi yang telah diwariskan dari generasi ke generasi, mencerminkan semangat dan jiwa dari suku Uighur.(*)

Editor : Nur Fadilah
#suku uighur #China