Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Mitos atau Sejarah? Mengungkap Fakta di Balik Kitab Mahabharata

Deiby Rotinsulu • Kamis, 5 September 2024 | 15:35 WIB

Ilustrasi
Ilustrasi
MANADOPOST.ID-Banyak orang percaya bahwa kitab Itihasa dan Purana hanyalah mitos atau cerita khayalan belaka, yang tidak benar-benar terjadi.

Pandangan ini sering menganggap kisah-kisah yang terkandung dalam kitab-kitab tersebut sebagai bagian dari legenda kuno yang sulit dibuktikan kebenarannya. Namun, jika kita melihat arti kata-kata Itihasa dan Purana, ada penjelasan menarik yang dapat mengubah pandangan kita tentang kitab-kitab ini.

Dalam bahasa Sanskerta, Itihasa berarti "seperti itulah kejadiannya," sedangkan Purana berarti "sejarah masa lampau." Ini menunjukkan bahwa kitab-kitab ini tidak hanya bercerita, tetapi juga mencatat peristiwa nyata yang terjadi di masa lalu.

Perhitungan Waktu dalam Kitab Mahabharata
Menurut Prof. Karina Saragavan dalam bukunya yang berjudul The Date of the Mahabharata World and Yugadi (1969), perang besar yang terjadi di Kurukshetra, seperti yang diceritakan dalam Mahabharata, terjadi pada 22 November 367 SM. Penanggalan ini berdasarkan ilmu perbintangan Weda, yang dikenal sebagai Geothestra. Ini berarti bahwa Mahabharata bukan hanya sebuah cerita fiksi, melainkan catatan peristiwa nyata yang terjadi ribuan tahun lalu.

Namun, pandangan ini ditolak oleh beberapa sejarawan Barat. Mereka lebih percaya pada teori invasi Arya yang diperkenalkan oleh Max Muller, yang mengklaim bahwa bangsa Arya datang ke India sekitar 1500 SM dan membawa kitab Rigveda ke subkontinen India. Teori ini kemudian menjadi dasar pandangan bahwa kitab-kitab Weda, termasuk Mahabharata dan Ramayana, hanyalah mitos.

Pengaruh Penjajahan Inggris terhadap Persepsi Kitab Weda
Julukan "mitologi" pada kitab-kitab Weda tidak terlepas dari sejarah penjajahan Inggris di India. Ketika Inggris menjajah India pada abad ke-18, mereka tidak hanya menguasai wilayah, tetapi juga berusaha mengubah keyakinan penduduknya. Misionaris Inggris, seperti Alexander Duff, mendirikan sekolah dan universitas agama di Kalkuta untuk menyebarkan agama Kristen. Dalam upaya mereka, kitab Weda sering disebut sebagai kumpulan tahayul dan hiburan bagi anak-anak.

Para misionaris juga bekerja sama dengan indologis, sekelompok intelektual Barat yang mempelajari budaya dan bahasa India. Mereka menerjemahkan kitab-kitab Weda ke dalam bahasa Inggris dengan tujuan untuk menunjukkan bahwa kitab tersebut hanyalah dongeng yang tidak masuk akal. William Jones, Charles Wilkins, dan Thomas Colebrooke adalah beberapa indologis terkenal yang ikut serta dalam upaya ini.

Teori Arya oleh Max Muller
Salah satu tokoh yang paling berpengaruh dalam membentuk persepsi Barat tentang Weda adalah Max Muller. Muller adalah seorang ahli bahasa Sanskerta asal Jerman yang bekerja untuk East India Company. Dia menciptakan teori invasi Arya, yang mengklaim bahwa bangsa Arya adalah suku berperadaban tinggi yang menaklukkan suku Dravida di India. Teori ini mendasarkan argumennya pada mantra-mantra dalam Rigveda, yang menurut Muller mengisyaratkan pertempuran antara suku Arya dan suku asli India.

Namun, teori ini kemudian dibantah oleh berbagai temuan arkeologi yang menunjukkan bahwa legenda Krishna dan kisah Mahabharata sudah ada jauh sebelum bangsa Arya diperkirakan datang ke India.

Penutup: Sejarah yang Terlupakan
Meskipun teori-teori Barat berusaha mendiskreditkan kitab Weda sebagai mitologi belaka, pandangan ini semakin dipertanyakan dengan adanya bukti-bukti baru. Kitab Itihasa dan Purana mungkin lebih dari sekadar cerita rakyat; mereka adalah rekaman sejarah masa lalu yang perlu ditinjau kembali dengan sudut pandang yang lebih terbuka.

Bagi kita yang tertarik dengan sejarah dan budaya, memahami konteks sebenarnya dari kitab-kitab ini sangat penting. Mereka mungkin menyimpan kebenaran yang selama ini tertutupi oleh penafsiran yang keliru.

Terima kasih sudah membaca. Jangan lupa untuk terus belajar dan mengeksplorasi lebih jauh tentang kekayaan budaya India dan sejarah dunia yang begitu kompleks dan menarik.

Editor : Grand Regar
#mahabrata