Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Apakah Benar Mengkonsumsi Micin Bisa Merusak Otak? Simak Penjelasannya

Fandy Gerungan • Kamis, 19 September 2024 | 16:24 WIB
Ilustrasi micin
Ilustrasi micin

MANADOPOST.ID--Jajan adalah salah satu bagian yang tak terpisahkan dalam hidup kita. Setiap orang pasti pernah memakan atau bahkan menyukai jajanan asin yang menggunakan bumbu penyedap yang umum kita sebut sebagai micin.

Namun, sering kali kita mendengar peringatan seperti "jangan kebanyakan makan micin, nanti otak kamu lemot." Tapi, benarkah konsumsi micin dapat mengganggu fungsi otak? Mari kita simak penjelasan berikut untuk mengetahui kebenarannya.

Sebelum membahas lebih jauh tentang efek micin pada otak, ada baiknya kita berkenalan terlebih dahulu dengan micin. Monosodium Glutamat (MSG) adalah penyedap rasa yang memberikan rasa spesifik, yaitu Umami. Di Indonesia, rata-rata individu mengonsumsi MSG sebesar 0,6 gram per hari.

Secara global, China daratan menyumbang 53,5% dari konsumsi MSG dunia, diikuti oleh Asia Tenggara dan Oceania (26%), Afrika (4%), Amerika Utara (3%), Eropa Barat, Amerika Tengah, dan Selatan (2%), serta negara lainnya (3%).

MSG ditemukan pada tahun 1908 oleh Kikunae Ikeda sebagai rasa dasar kelima setelah manis, asam, asin, dan pahit. MSG juga ditemukan dalam produk makanan berprotein tinggi seperti daging, ikan, keju tertentu, serta sayuran seperti tomat, jamur, dan brokoli.

Proses produksinya melibatkan fermentasi bahan nabati seperti tebu, singkong, atau jagung, diikuti dengan netralisasi untuk menghasilkan MSG.

Dalam tubuh, glutamat, yang merupakan komponen utama MSG, memainkan banyak peran penting dalam fungsi otak. Glutamat bertindak sebagai neurotransmitter, yaitu zat kimia yang merangsang sel-sel saraf untuk mengirimkan sinyal.

Beberapa penelitian pada tikus menunjukkan bahwa MSG dalam dosis tinggi dapat menyebabkan kematian sel otak dengan merangsang sel-sel saraf secara berlebihan, yang akhirnya mengakibatkan kerusakan neuron.

Kondisi ini terjadi jika glutamat berlebih tidak termetabolisme dengan baik dalam pencernaan, sehingga memasuki pembuluh darah dan akhirnya mencapai otak.

Glutamat bisa masuk ke struktur otak seperti hipotalamus dan hippocampus, yang berperan dalam memori dan fungsi belajar. Penurunan fungsi kognitif pada tikus yang diberi MSG dosis tinggi dapat disebabkan oleh kerusakan neuron di hippocampus.

Namun, perlu diingat bahwa hasil penelitian tentang efek MSG pada otak menunjukkan hasil yang saling bertentangan. Sebagian penelitian menunjukkan peningkatan kadar glutamat di otak tikus akibat konsumsi MSG, sementara yang lain menunjukkan tidak ada perubahan signifikan. Perbedaan ini mungkin disebabkan oleh variasi dosis yang diberikan dalam penelitian tersebut.

Menurut Joint FAO/WHO Expert Committee on Food Additives (JECFA), asupan harian yang dapat diterima untuk MSG adalah sebanyak 30 mg per kg berat badan per hari.

Jumlah ini jauh lebih tinggi daripada konsumsi MSG sehari-hari yang biasa kita lakukan. Penelitian menunjukkan bahwa setelah dicerna, MSG sepenuhnya dimetabolisme di usus.

Dari sana, MSG berfungsi sebagai sumber energi, diubah menjadi asam amino lain, atau digunakan dalam produksi berbagai senyawa bioaktif. Oleh karena itu, sangat jarang MSG mampu sampai ke bagian otak yang berisiko.

Konsumsi micin tidak serta-merta mengganggu fungsi otak secara jangka panjang, asalkan tidak melebihi batas konsumsi yang dianjurkan.

Efek negatif pada otak lebih mungkin terjadi jika mengonsumsi MSG dalam dosis yang sangat tinggi, yang tentunya jauh lebih dari yang biasa kita konsumsi sehari-hari. (*)

Sumber: Youtube Neuron

Editor : Clavel Lukas
#micin #otak