MANADOPOST.ID--Pernah tidak kalian penasaran, bagaimana caranya para astronom tahu umur alam semesta?. Kalau kalian mencarinya di Google, jawabannya pasti muncul: sekitar 13,8 miliar tahun. Tapi bagaiamana angka sebesar itu bisa didapatkan?.
Apakah ada tim sensus yang datang mengumpulkan data?. Jelas, tidak ada yang melakukan survei langsung ke bintang-bintang, tapi para astronom punya dua cara untuk menghitung umur alam semesta, seperti yang dikutip dalam youtube kok bisa? (03/10).
1. Melihat Bintang Tertua
Logikanya sederhana: kalau kita bisa mengetahui usia bintang tertua, maka kita bisa memperkirakan umur alam semesta. Tapi, sayangnya, menebak umur bintang nggak semudah menebak umur kakek-kakek dari kerutan wajahnya~ Bintang tidak menua dengan cara yang bisa kita lihat secara langsung.
Maka, untuk mengetahui usianya, para astronom tidak melihat satu bintang saja, tapi mempelajari keseluruhan kelompok tetangganya, yang biasanya berisi jutaan bintang.
Bintang-bintang yang lahir bersamaan dalam satu kelompok besar sering kali memiliki usia yang hampir sama. Dari situ, para astronom mencari bintang yang paling besar dan paling terang. Kenapa? Karena beratnya memberi petunjuk tentang seberapa banyak bahan bakar yang dimiliki bintang tersebut.
Seberapa terang bintang menunjukkan seberapa cepat bahan bakar itu habis. Ini mirip seperti saat kita mengukur jarak yang sudah ditempuh oleh mobil berdasarkan sisa bensin dan seberapa boros mobil tersebut menggunakannya.
2. Mengukur Laju Pengembangan Alam Semesta
Alam semesta itu mengembang—semakin besar setiap waktu. Bayangkan adonan kue yang mengembang di oven, di mana setiap kismis di dalamnya adalah galaksi. Karena alam semesta mengembang, jika kita putar balik waktu, alam semesta akan mengecil sampai ke titik awalnya.
Para ilmuwan menghitung laju pengembangan ini menggunakan sesuatu yang disebut Konstanta Hubble. Hubble sendiri, ilmuwan terkenal yang pertama kali mengusulkan pengembangan alam semesta, awalnya salah dalam menilai konstanta ini.
Namun, setelah penelitian lebih lanjut, para astronom berhasil memperbaiki angka ini, hingga menghasilkan estimasi yang lebih akurat tentang usia alam semesta, yaitu 13,8 miliar tahun.
Seberapa Besar Angka Itu?
Mungkin kita sering dengar angka 13,8 miliar tahun, tapi pernahkah kalian benar-benar menyadari sebesar apa angka itu? Ini ibarat sejarah alam semesta yang panjang banget. Untuk memberikan gambaran, coba bayangkan titik-titik yang mewakili 10 juta tahun setiap satu titik.
Bayangkan, galaksi Bima Sakti terbentuk miliaran tahun setelah alam semesta lahir, dan butuh lebih banyak waktu lagi sampai tata surya kita muncul. Manusia modern? Mereka baru ada dalam 200 ribu tahun terakhir—sangat dekat dengan akhir dari garis waktu.
Ilmuwan pernah mengira alam semesta berumur 2 miliar, 7 miliar, bahkan 20 miliar tahun. Tapi itulah sains—penuh dengan revisi dan penemuan baru. Kita mungkin bisa salah di satu titik, tapi sains selalu berkembang, dan kita nggak pernah berhenti mencari jawaban yang lebih akurat.
Nah, sekarang kita tahu dengan cukup pasti umur alam semesta. Tapi, pertanyaan baru muncul: apakah kita juga bisa mengetahui berapa lama lagi alam semesta akan bertahan? Mungkinkah kita bisa menghitung sisa usia alam semesta?. (*)
Editor : Clavel Lukas