MANADOPOST.ID - Jika sebagian besar dunia merayakan Valentine’s Day dengan bunga dan cokelat, di China ada tren yang justru menolak segala bentuk romansa pada 14 Februari.
Fenomena ini dikenal sebagai Anti-Valentine’s Day, sebuah gerakan yang berkembang sebagai bentuk penolakan terhadap norma sosial yang mengagungkan cinta romantis.
Asal-Usul Anti-Valentine di China
Konsep Anti-Valentine di China bisa dikaitkan dengan beberapa faktor, termasuk tekanan sosial untuk menikah, materialisme dalam hubungan, dan gerakan 'single pride' yang semakin berkembang di kalangan anak muda.
Beberapa orang yang merayakan Anti-Valentine melihat hari ini sebagai momen untuk merayakan kebebasan dari hubungan romantis yang penuh tuntutan.
Selain itu, China juga memiliki Single’s Day (11 November) yang jauh lebih populer. Dibandingkan merayakan cinta dengan pasangan, banyak orang memilih untuk menikmati waktu sendiri atau menghabiskan uang untuk self-reward.
Bagaimana Anti-Valentine Dirayakan?
Tidak seperti Valentine’s Day yang dipenuhi dengan makan malam romantis, Anti-Valentine’s Day justru sering diisi dengan:
- Pesta Jomblo: Banyak klub atau restoran menawarkan promo khusus bagi mereka yang datang sendiri.
- Makan Mie Hitam: Tradisi yang diadopsi dari Korea Selatan, di mana orang lajang makan mie kedelai hitam sebagai simbol "kesendirian".
- Menertawakan Romansa: Beberapa komunitas online membuat meme dan konten yang mengkritik budaya Valentine yang dianggap terlalu kapitalistik.
Anti-Valentine: Bentuk Perlawanan atau Hanya Tren?
Bagi sebagian orang, Anti-Valentine adalah cara untuk menentang norma bahwa seseorang harus memiliki pasangan untuk merasa bahagia. Namun, bagi yang lain, ini hanyalah tren sementara yang memberikan alasan untuk merayakan kebebasan hidup tanpa tekanan romansa. (*)
Editor : Tanya Rompas