Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Imposter Syndrome atau Ketidakadilan? Inilah Kebenaran yang Jarang Dibahas

Jasinta Bolang • Rabu, 19 Februari 2025 | 21:56 WIB

Ilona Maher
Ilona Maher

MANADOPOST.ID - Istilah imposter syndrome sudah lama menjadi perbincangan, terutama di kalangan perempuan profesional. Perasaan ragu akan kemampuan diri sendiri sering dianggap sebagai sesuatu yang wajar, tetapi apakah benar perempuan lebih sering mengalami imposter syndrome? Atau ini hanyalah mitos yang semakin memperkuat bias terhadap perempuan? Atlet Olimpiade 2024, Ilona Maher, memberikan jawaban tegas atas pertanyaan ini: “Saya tidak memilikinya.”

Pernyataannya memicu diskusi lebih luas tentang bagaimana perempuan menghadapi tantangan di dunia kerja yang masih dipenuhi ketidakadilan sistemik.

Imposter Syndrome dan Perempuan: Masalah Nyata atau Rekayasa?

Ilona Maher dengan lugas menolak konsep imposter syndrome ketika ditanya tentangnya. “Saya merasa pantas mendapatkan apa yang saya raih. Saya bekerja sangat keras,” ujarnya.

Sikap percaya dirinya bertolak belakang dengan narasi yang selama ini melekat pada perempuan: merasa tidak cukup baik, tidak cukup pintar, atau tidak cukup pantas berada di posisi tertentu.

Imposter syndrome pertama kali diperkenalkan dalam penelitian tahun 1978 terhadap perempuan sukses. Sejak itu, istilah ini berkembang dan sering digunakan untuk menjelaskan perasaan kurang percaya diri yang dirasakan banyak orang.

Namun, ironisnya, perempuanlah yang lebih sering mendapat label ini, seolah-olah keraguan mereka adalah masalah internal, bukan dampak dari sistem yang tidak adil.

Di dunia kerja, perempuan masih menghadapi berbagai tantangan seperti kesempatan promosi yang terbatas, kesenjangan gaji, serta bias dan hambatan yang menghalangi mereka untuk berkembang.

Dengan kondisi ini, banyak perempuan sebenarnya lebih dari sekadar memenuhi syarat—mereka justru jauh lebih siap dan lebih berkualitas dibandingkan yang mendapatkan kesempatan lebih besar.

Mengapa Narasi Imposter Syndrome Masih Bertahan?

Seiring berjalannya waktu, banyak pihak mulai mempertanyakan apakah imposter syndrome benar-benar merupakan kelemahan yang dimiliki perempuan, atau hanya sekadar mitos yang melanggengkan ketidaksetaraan gender.

Sebuah artikel di Harvard Business Review pada 2021 menegaskan bahwa kita harus berhenti menyalahkan perempuan atas perasaan imposter syndrome mereka. Sebaliknya, kita harus melihat akar permasalahan: sistem yang secara struktural tidak mendukung perempuan untuk maju.

Artikel itu juga menyoroti bagaimana kita sering menyamakan kepercayaan diri dengan kompetensi. Namun, dalam sistem yang lebih banyak menguntungkan laki-laki, kepercayaan diri sering kali hanyalah hasil dari privilege, bukan cerminan kemampuan sebenarnya.

Bahkan, pertanyaan tentang imposter syndrome sering kali hanya ditujukan kepada perempuan. Maher dengan tajam menyatakan di Instagram, “Apakah mereka bertanya kepada pemain NFL atau politisi laki-laki apakah mereka mengalami imposter syndrome? Mungkin tidak.”

Saatnya Berhenti Menyalahkan Perempuan

Kisah banyak perempuan yang merasa kurang dihargai di dunia kerja adalah bukti nyata bahwa permasalahan utama bukanlah imposter syndrome, tetapi sistem yang tidak memberikan kesempatan yang adil.

Jika kita melihat realitasnya, bukan perempuan yang harus mempertanyakan apakah mereka pantas berada di suatu posisi, melainkan mereka yang selama ini diuntungkan oleh sistem. Jika ada yang seharusnya merasa seperti ‘imposter’, maka mereka adalah orang-orang yang memperoleh keistimewaan tanpa usaha yang sepadan.

Perempuan tidak perlu lagi bertanya, “Bagaimana saya bisa sampai di sini?” Sebaliknya, pertanyaan yang lebih relevan adalah, “Mengapa saya belum mencapai lebih dari ini, padahal saya telah bekerja lebih keras dan lebih kompeten?”

 

Narasi imposter syndrome yang selama ini dibebankan pada perempuan perlu ditinjau ulang. Alih-alih terus-menerus mempertanyakan diri sendiri, perempuan seharusnya mulai menyadari bahwa mereka memang pantas berada di posisi yang mereka capai. Saatnya berhenti menyalahkan diri sendiri dan mulai menuntut sistem yang lebih adil.

Kini, semakin banyak perempuan yang menolak imposter syndrome dan menyadari bahwa mereka tidak sekadar cukup baik, tetapi jauh lebih layak daripada yang diberikan kepada mereka. Inilah saatnya mengubah narasi: bukan perempuan yang harus berubah, tetapi sistem yang harus diperbaiki. (*)

Editor : Tanya Rompas
#dunia kerja #gaya hidup #ketidakadilan #Imposter Syndrome #Karier perempuan #perempuan berdaya #kesetaraan gender #sistem