Kegiatan bergengsi ini digelar secara hybrid, menghadirkan peserta dari berbagai daerah di Indonesia, baik secara luring maupun daring melalui Zoom dan kanal YouTube.
Ketua Panitia PIT HATHI ke-42, Sugeng Harianto, menyampaikan bahwa kegiatan tahun ini mengusung tema “Inovasi Teknologi Pengelolaan Sumber Daya Air Berkelanjutan Menuju Swasembada Air, Pangan, dan Energi.
Tema tersebut, kata Sugeng, sejalan dengan Asta Cita Pemerintahan Presiden Prabowo–Gibran, khususnya cita kedua yang menekankan pentingnya kemandirian bangsa dalam bidang pangan, energi, dan air.
“Tema ini diangkat untuk mendukung visi nasional menuju swasembada air, pangan, dan energi. Kami berharap melalui forum ini lahir berbagai gagasan dan inovasi yang dapat memperkuat pengelolaan sumber daya air di Indonesia secara berkelanjutan,” ujar Sugeng dalam sambutannya.
Acara dibuka secara resmi oleh Dirjen Sumber Daya Air Kementerian PUPR Dr. Dwi Purwantoro, ST., MT., yang hadir mewakili Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Ir. Doddy Hangodo, MPE.
Turut hadir Wakil Gubernur Sulawesi Utara Dr. J. Victor Mailangkay, SH., MH., mewakili Gubernur Sulut Mayjen (Purn) Yulius Silvanus, SE, serta Ketua Umum HATHI Ir. Bob Arthur Lombogia, M.Si, dan Rektor Unsrat Prof. Dr. Ir. Oktovian B.A. Sompie, M.Eng., IPU., ASEAN Eng.
Selain jajaran Forkopimda Sulawesi Utara, kegiatan ini juga dihadiri oleh para pejabat Kementerian PUPR, kepala daerah dan perwakilan se-Sulut, akademisi, serta pengurus cabang HATHI dari seluruh Indonesia.
Dalam laporannya, Sugeng mengungkapkan bahwa kegiatan PIT HATHI ke-42 diikuti oleh 1.281 peserta dari berbagai latar belakang profesi. Terdiri atas praktisi/swasta sebanyak 13 orang (1%), praktisi pemerintah 31 orang (2,4%), unsur PUPR 1.084 orang (84,6%), akademisi dan mahasiswa 118 orang (9,2%), serta peserta lain 35 orang (2,7%).
Dari jumlah tersebut, 170 peserta hadir secara langsung di lokasi, sementara sisanya mengikuti melalui siaran daring. Keterbatasan kapasitas ruangan di Aula Fakultas Teknik yang hanya menampung 140 orang diatasi dengan menyediakan monitor layar lebar di area lobi.
Kegiatan ilmiah ini juga mencatat antusiasme tinggi dari kalangan akademik dan profesional, dengan 204 makalahyang diterima panitia, di mana 177 makalah dipresentasikan, 10 di antaranya secara langsung (offline).
PIT HATHI ke-42 menampilkan tiga pembicara utama (keynote speaker) dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Institut Pertanian Bogor (IPB), dan Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) selaku tuan rumah.
Kegiatan diskusi ilmiah dibagi dalam lima kelompok subtema, yaitu: Teknologi Konservasi Sumber Daya Air yang Efektif. Kecerdasan Buatan (AI) dalam Pendayagunaan SDA yang Efisien. Internet of Things (IoT) untuk Pengendalian Daya Rusak Air dan Mitigasi Bencana Alam. Peran Masyarakat dan Pejuang Air dalam Membangun Budaya Peduli Air. Peran Data dan Informasi SDA untuk Komunikasi dan Edukasi yang Efektif.
Dalam kesempatan itu, Ketua Panitia menyampaikan apresiasi kepada berbagai pihak yang berperan dalam suksesnya penyelenggaraan acara tersebut.
“Kami menghaturkan terima kasih kepada Ketua dan pimpinan HATHI Pusat, Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara, Rektor dan civitas akademika Fakultas Teknik Unsrat, serta para sponsor yang telah memberikan dukungan penuh,” ucap Sugeng.
PIT HATHI ke-42 di Manado berlangsung selama satu hari penuh dan diharapkan menjadi wadah kolaborasi strategis antara pemerintah, akademisi, dan praktisi untuk memperkuat pengelolaan sumber daya air nasional.
Menutup laporannya, Sugeng menyampaikan pantun bernuansa lokal yang mengundang senyum hadirin:
Kuliner khas Manado tinutuan, paling enak pakai sayur gedi. Inovasi teknologi SDA berkelanjutan, untuk menuju swasembada air, pangan, dan energi.
Pantai di Likupang pasirnya putih, kalau tarsius ada di Tangkoko.
Mari bersama sukseskan HATHI, torang baku dapa di kota Manado.
Sementara itu, Ketua Umum HATHI Ir. Bob Lombogia, M.Si menegaskan bahwa pengelolaan sumber daya air menjadi kunci utama dalam mewujudkan kemandirian pangan dan energi sesuai program Presiden Prabowo Subianto.
“Swasembada air adalah fondasi utama untuk mencapai swasembada pangan dan energi. Tanpa pengelolaan air yang baik, pertanian, irigasi, dan ketahanan pangan tidak akan optimal,” tegas Bob Lombogia.
Menurutnya, dengan dukungan riset, teknologi, dan kolaborasi lintas sektor, provinsi ini bisa menjadi model pengelolaan air berkelanjutan bagi daerah lain di Indonesia.
“Sulawesi Utara punya kombinasi ideal antara potensi alam, semangat akademisi, dan dukungan pemerintah daerah. HATHI ingin menjadikan momentum PIT ke-42 ini sebagai titik awal kolaborasi nyata untuk swasembada air yang menopang ketahanan pangan nasional,” tambahnya.(gnr)
Editor : Grand Regar