MANADOPOST.ID – SpaceX kini bersiap memasuki babak baru yang belum pernah mereka tempuh sebelumnya. Perusahaan yang selama ini dikenal sangat tertutup terhadap pasar modal akhirnya merencanakan penawaran saham perdana (IPO) dalam jumlah sangat besar tahun depan.
Menurut Ars Technica, rencana ini akan membuka peluang SpaceX untuk mengumpulkan dana puluhan miliar dolar, sebuah langkah yang dianggap sebagai perubahan besar dari pendirinya, Elon Musk.
Langkah ini menjadi perhatian dunia karena SpaceX sebelumnya sangat anti untuk go public. Elon Musk selama bertahun-tahun menolak IPO karena tidak ingin perusahaan terbebani tuntutan pasar dan para pemegang saham.
Namun laporan dari Bloomberg menyebut IPO ini bisa menargetkan valuasi hingga 1,5 triliun dolar AS, yang memposisikan SpaceX sejajar dengan perusahaan-perusahaan terbesar di dunia.
Jumlah dana yang diincar SpaceX diperkirakan bisa melampaui 30 miliar dolar AS. Jika benar, ini dapat menyamai bahkan melebihi pencapaian Saudi Aramco, IPO terbesar dalam sejarah yang meraih 29 miliar dolar pada 2019.
Data dari Bloomberg menyatakan bahwa permintaan pasar terhadap perusahaan teknologi luar angkasa sangat tinggi, terutama karena pertumbuhan sektor satelit dan internet global.
Investor melihat SpaceX sebagai pemimpin yang sulit disaingi dalam hal peluncuran roket, komunikasi satelit melalui Starlink, dan proyek-proyek luar angkasa lain. Menurut Ars Technica, SpaceX kini meluncurkan lebih dari 90 persen total massa yang dikirim ke orbit setiap tahun, sebuah angka yang belum pernah dicapai perusahaan swasta lain.
Baca Juga: KEREN BANGET! Elon Musk Minta IKN Nusantara Jadi Titik SpaceX, Nantinya Indonesia ke AS Cuma 2 Jam
Namun yang membuat keputusan ini semakin menarik adalah perubahan pemikiran Elon Musk. Ia selama ini takut bahwa IPO akan mengganggu misi utamanya: membangun kota di Mars. Menurut Ars Technica, Musk selalu melihat tekanan investor sebagai ancaman untuk ambisi tersebut karena fokus mereka lebih kepada keuntungan jangka pendek.
Akan tetapi, kini Musk mulai melihat IPO sebagai cara untuk mempercepat visinya. Ia percaya bahwa perkembangan kecerdasan buatan (AI), robotika, dan teknologi satelit akan saling terhubung dalam waktu dekat. Musk ingin memastikan bahwa SpaceX berperan besar di dalam perubahan besar tersebut.
Salah satu alasan kuat SpaceX membuka diri untuk IPO adalah rencana membangun pusat data berbasis satelit. Pada akhir Oktober, Musk mengatakan melalui platform X bahwa Starlink generasi berikutnya akan difungsikan sebagai pondasi untuk data center di luar angkasa. Konsep ini adalah sesuatu yang belum pernah dilakukan sebelumnya di dunia teknologi.
Menurut Ars Technica, langkah awal dimulai dari memodifikasi satelit Starlink agar bisa menjalankan tugas mirip server raksasa. Namun Musk tidak berhenti di situ. Dalam unggahannya, ia menjelaskan kemungkinan membangun pabrik satelit di Bulan dan menggunakan "mass driver", alat berbasis elektromagnetik, untuk mengirimkan satelit AI ke orbit tanpa roket.
Gagasan ini, menurut Musk, dapat menghasilkan kapasitas energi lebih dari 100 terawatt per tahun hanya untuk proses komputasi AI. Ia percaya langkah ini dapat membantu umat manusia bergerak menuju kategori "Kardashev Type II Civilization", yaitu peradaban yang mampu memanfaatkan energi skala bintang.
Dari sisi bisnis, SpaceX sedang berada dalam kondisi sangat kuat. Proyeksi pendapatan mereka untuk tahun depan berada di kisaran 22–24 miliar dolar AS. Menurut Ars Technica, jumlah itu setara dengan anggaran NASA, namun dengan kemampuan eksekusi yang jauh lebih efisien karena SpaceX merupakan perusahaan swasta.
Meski memiliki pendapatan besar, Musk merasa itu belum cukup untuk mencapai rencana-rencana besar mengenai AI dan Mars. Karena itu, dana tambahan dari IPO dianggap dapat mempercepat berbagai proyek penting dalam waktu singkat. Menurut para analis, dana ini bisa digunakan untuk mendesain satelit baru, membangun fasilitas peluncuran, dan memperbesar produksi Starship.
Abhi Tripathi, mantan pegawai SpaceX yang kini bekerja di UC Berkeley, mengatakan bahwa rencana IPO mulai terasa masuk akal saat Musk menyadari potensi Starlink sebagai jaringan data center terdistribusi. Tripathi menyebut keputusan Musk sangat dipengaruhi kompetisi ketat di dunia AI, sehingga memiliki dana raksasa menjadi strategi penting untuk menang.
Menurut Tripathi kepada Ars Technica, persaingan AI bukan hanya soal software, tetapi juga infrastruktur fisik seperti server, satelit, dan kapasitas komputasi. Ia menambahkan bahwa memiliki “war chest” bernilai puluhan miliar dolar memungkinkan Musk bergerak lebih cepat dibanding pesaing-pesaing teknologi lainnya.
Banyak yang bertanya apakah dengan langkah ini Musk mulai mengabaikan visinya tentang Mars. Namun menurut Ars Technica, Musk justru melihat AI sebagai alat yang dapat membantu kolonisasi Mars. Ia percaya robot-robot seperti Optimus nantinya bisa dikirim lebih dulu ke Mars untuk membangun fasilitas sebelum manusia tiba.
Musk juga menyadari bahwa untuk mengirim satu juta ton bahan ke Mars, dibutuhkan sekitar 10.000 peluncuran Starship. Jika tiap peluncuran menghabiskan 100 juta dolar, maka totalnya bisa mencapai 1 triliun dolar AS. Jumlah dana sebesar itu tidak mungkin datang hanya dari penjualan layanan satelit dan peluncuran.
Selain itu, Musk merasa ada jendela waktu yang terbatas untuk membuat koloni manusia di Mars. Menurutnya, berbagai hal tak terduga bisa mengganggu—seperti krisis ekonomi global, pandemi, atau ancaman asteroid besar. Dengan IPO, ia berharap bisa mengumpulkan sumber daya selagi kondisi dunia masih memungkinkan.
Meski demikian, keputusan ini bukan tanpa risiko. Jika hype AI ternyata meledak dan pasar tidak lagi tertarik beberapa tahun ke depan, SpaceX bisa kehilangan nilai besar karena terlalu banyak investasi pada satelit AI. Para pemegang saham juga mungkin keberatan jika perusahaan fokus pada Mars daripada keuntungan.
Namun Musk dikenal sebagai sosok yang berani mengambil risiko ekstrem. Menurut Ars Technica, keputusan untuk membawa SpaceX ke IPO adalah langkah yang sangat sejalan dengan gaya kepemimpinannya—berani, agresif, dan bertujuan besar.
Keinginan Musk untuk “menang” dalam persaingan AI dan menjadikan manusia sebagai spesies multiplanet tampaknya menjadi alasan utama keputusan ini. Ia ingin memanfaatkan momentum saat ini untuk membawa SpaceX ke level yang belum pernah dibayangkan sebelumnya.
Dengan semua ambisi besar itu, IPO SpaceX tahun depan diprediksi akan menjadi salah satu peristiwa paling penting dalam sejarah industri teknologi dan eksplorasi luar angkasa. Para analis memperkirakan bahwa minat investor akan sangat tinggi karena SpaceX adalah perusahaan yang mendominasi langit dan mungkin segera menguasai ruang angkasa.
Tekanan publik, perubahan model bisnis, dan dorongan besar untuk menguasai AI semua berkumpul menjadi satu alasan kuat di balik keputusan Musk. Apa pun hasilnya, langkah ini akan membawa SpaceX ke era baru yang penuh tantangan dan potensi revolusioner.
(rm)
Editor : Jasinta Bolang