Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Sulut Kaya Kelapa, Rantai Pasok Masih Jadi Masalah

ALengkong • Sabtu, 25 April 2026 | 19:36 WIB
Potensi Besar Sulut yang Belum Maksimal
Potensi Besar Sulut yang Belum Maksimal
mpmeta

 

Manadopost.id - Institut Pertanian Bogor menggelar diskusi multipihak untuk memperkuat sistem rantai pasok kelapa sekaligus mendorong model kemitraan berkelanjutan antara petani dan industri.

Diskusi yang dikemas dalam Focus Group Discussion (FGD) ini mengangkat tema penguatan kapasitas rantai pasok dan kerja sama pentahelix guna mendukung hilirisasi komoditas kelapa nasional.

Perwakilan industri dari PT Sasa Inti menegaskan bahwa penguatan rantai pasok harus dirancang secara komprehensif agar mampu menjawab tantangan pasar sekaligus memberikan nilai tambah yang adil bagi petani.

Forum tersebut turut membahas penyusunan model kemitraan antara petani dan industri serta peluang dukungan pendanaan dari Badan Pengelola Dana Perkebunan untuk komoditas kelapa.

Wilayah Kabupaten Minahasa Selatan disebut sebagai salah satu sentra produksi kelapa nasional dengan luas perkebunan sekitar 47.164 hektare dan produksi mencapai 42.209 ton per tahun.

Namun demikian, meningkatnya aktivitas industri pengolahan di daerah sentra produksi memicu persaingan bahan baku yang berdampak pada ketidakstabilan pasokan dan fluktuasi harga di tingkat petani.

Pihak industri menilai kemitraan jangka panjang menjadi langkah penting untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas hasil panen sekaligus menjaga keberlanjutan pasokan bahan baku.

Dari sisi akademisi, para pakar menekankan bahwa penguatan rantai pasok kelapa harus berbasis data dan riset agar kebijakan serta implementasi di lapangan berjalan lebih efektif.

Kolaborasi antara akademisi dan industri juga dinilai mampu meningkatkan daya saing komoditas kelapa sekaligus mendorong kesejahteraan petani secara berkelanjutan.

FGD ini melibatkan berbagai pemangku kepentingan mulai dari akademisi, pemerintah pusat dan daerah, pelaku industri, kelompok petani, hingga asosiasi terkait dalam upaya memperkuat ekosistem kelapa nasional.

 

Di buat oleh: Y.M.G

Editor : ALengkong
#kabar minahasa #minahasa selatan #Minahasa