mpmeta
Manadopost.id - Produk olahan sabut kelapa asal Kabupaten Minahasa Selatan, Sulawesi Utara, berhasil menembus pasar internasional melalui ekspor perdana ke Guangzhou, China.
Ekspor yang dilakukan pada Selasa tersebut mengirimkan dua kontainer berisi coco fiber, husk chip, dan peat blok dengan nilai transaksi mencapai Rp98,68 juta.
Produk tersebut diolah melalui Rumah Produksi Bersama (RPB) Minahasa Selatan yang menjadi pusat pengolahan terintegrasi bagi pelaku UMKM setempat.
Asisten Deputi Produksi dan Digitalisasi Usaha Kecil Kementerian UMKM, Ali, menyebut capaian ini sebagai bukti transformasi sumber daya lokal menjadi produk bernilai tambah tinggi.
Ia menegaskan bahwa ekspor ini menjadi momentum penting dalam memperkuat hilirisasi dan meningkatkan daya saing komoditas daerah di pasar global.
Minahasa Selatan diketahui merupakan salah satu sentra produksi kelapa terbesar di Sulawesi Utara dengan luas perkebunan mencapai 46.451 hektare.
Data Badan Pusat Statistik menunjukkan produksi kelapa daerah ini mencapai 43.980 ton pada 2025 atau sekitar 16,4 persen dari total produksi provinsi.
Sebelumnya, petani umumnya hanya memanfaatkan bagian buah, tempurung, dan air kelapa tanpa mengolah sabut secara maksimal.
Melalui pendampingan dan penguatan ekosistem usaha oleh Kementerian UMKM, sabut kelapa kini diolah menjadi produk bernilai ekonomi dan berorientasi ekspor.
Berdasarkan catatan Kementerian UMKM, dari setiap 100 kilogram kelapa dapat dihasilkan sekitar 25 kilogram sabut yang diolah menjadi 7,5 kilogram coco fiber dan 16 kilogram coco peat.
Di pasar domestik, coco fiber dapat dijual hingga Rp40.000 per kilogram, sedangkan coco peat mencapai Rp13.000 per kilogram.
Produk coco fiber memiliki berbagai kegunaan mulai dari perlengkapan rumah tangga, komponen industri dan otomotif, hingga media tanam dan material pelestarian lingkungan seperti geotekstil penahan erosi.
Untuk mengoptimalkan potensi tersebut, pemerintah membangun Rumah Produksi Bersama olahan kelapa di Minahasa Selatan pada 23 September 2022.
Fasilitas ini memungkinkan proses produksi dilakukan secara terintegrasi sehingga meningkatkan nilai tambah bagi petani dan pelaku UMKM.
Program RPB merupakan strategi Kementerian UMKM dalam mendorong manufaktur skala usaha mikro dan kecil berbasis komoditas unggulan daerah.
Saat ini tercatat terdapat 16 lokasi RPB yang mengelola 12 jenis komoditas di berbagai wilayah Indonesia.
Melalui RPB, pemerintah memberikan dukungan berupa fasilitas produksi, bantuan alat dan mesin, pendampingan teknologi dan manajemen, serta perluasan akses pasar dengan pendekatan business to business.
Langkah ini diharapkan mampu memperkuat rantai nilai sekaligus meningkatkan kesejahteraan pelaku UMKM di daerah.
Di buat oleh: Y.M.G
Editor : ALengkong