Kitab Kisah Para Rasul ditulis oleh Lukas, seorang tabib dan sahabat pelayanan Rasul Paulus. Kitab ini melanjutkan narasi Injil Lukas dan menyoroti perkembangan gereja mula-mula pasca kenaikan Yesus Kristus.
Tujuan utama kitab ini adalah untuk menunjukkan karya Roh Kudus dalam membentuk dan memperluas gereja, serta bagaimana para murid dan jemaat mula-mula, termasuk mereka yang bukan dari kalangan rasul, berperan aktif dalam pelayanan Injil.
Salah satu tokoh penting dalam perikop ini adalah pasangan suami istri Priskila dan Akwila, yang meskipun bukan rasul atau pemimpin gereja besar, memainkan peran strategis dalam mendidik dan membimbing tokoh lain, yakni Apolos.
Tema ini sangat relevan bagi W/KI (Wanita/Kaum Ibu) GMIM, karena kita melihat bagaimana kerjasama dalam pernikahan dan keluarga dapat menjadi alat Allah dalam mengajarkan kebenaran.
Baca Juga: Renungan Kisah Para Rasul 18:18–28, Peran Suami Istri Mengajar Tentang Jalan Allah
Baca Juga: Konsep Khotbah Kisah Para Rasul 18:18-28, Peran Suami Istri Mengajar Tentang Jalan Allah
Pembahasan Ayat per Ayat
Ayat 18-21:
Paulus tetap tinggal di Korintus beberapa waktu setelah ia memulai dan menguatkan gereja di sana. Ia kemudian berangkat menuju Siria, bersama Priskila dan Akwila.
Dalam perjalanan ini, kita melihat betapa eratnya hubungan mereka. Mereka bukan hanya mitra kerja, tetapi juga sahabat dan rekan perjalanan dalam pelayanan.
Bagi W/KI, hal ini menunjukkan bahwa keterlibatan wanita dalam pelayanan bukanlah hal asing dalam sejarah gereja mula-mula.
Perempuan tidak hanya mendampingi secara pasif, tetapi aktif mengambil bagian dalam misi.
Ayat 22-23:
Setelah singgah di berbagai tempat, Paulus terus mengunjungi jemaat untuk menguatkan iman mereka.
Sementara itu, kita tidak membaca Priskila dan Akwila kembali ke Antiokhia bersama Paulus. Ini penting, karena mereka memilih untuk tetap di Efesus—di situlah mereka nanti bertemu Apolos.
Ini menunjukkan bahwa mereka memiliki kesadaran akan tanggung jawab pelayanan di tempat di mana Tuhan menempatkan mereka.
Ayat 24-26:
Tokoh baru muncul: Apolos, seorang Yahudi dari Aleksandria. Ia fasih berbicara dan mahir dalam Kitab Suci.
Namun, ia hanya mengenal baptisan Yohanes, artinya pengertiannya tentang Yesus masih terbatas. Di sinilah peran Priskila dan Akwila menjadi penting.
Mereka tidak mempermalukan Apolos di depan umum, tetapi dengan penuh kasih mengundangnya dan menjelaskan kepadanya jalan Allah dengan lebih teliti.
Poin penting di sini adalah: pengajaran yang benar harus dilakukan dalam kasih dan kerendahan hati.
Bagi kaum ibu GMIM, ini menjadi ajakan untuk tidak hanya menjadi pendengar firman, tetapi juga pembimbing rohani—bagi anak, suami, bahkan sesama jemaat yang membutuhkan pendalaman firman.
Ayat 27-28:
Setelah dibimbing, Apolos menjadi pemberita Injil yang lebih efektif dan berkontribusi besar dalam memperkuat gereja di Akhaya.
Apolos yang dulunya hanya tahu sedikit, menjadi pengkhotbah yang kuat karena pendampingan yang tepat dari Priskila dan Akwila. Ini menunjukkan bahwa buah dari pengajaran yang benar akan berlipat ganda.
Penutup
Saudara-saudara W/KI yang dikasihi Tuhan, tema "Peran Suami Istri Mengajar Tentang Jalan Allah" bukanlah sekadar narasi sejarah.
Ini adalah panggilan aktual dan mendesak di zaman kita sekarang. Di tengah kemerosotan nilai-nilai keluarga, krisis moral, dan kebingungan rohani yang melanda generasi muda.
Kita dipanggil menjadi Priskila-Priskila masa kini—wanita-wanita yang tangguh dalam iman, teguh dalam kasih, dan setia dalam pengajaran Firman.
Priskila tidak pasif. Ia tidak menunggu suaminya menyampaikan pengajaran lebih dulu. Ia berjalan bersamaan. Ia aktif, bijak, dan penuh kasih.
Begitu juga kita sebagai kaum ibu—kita bukan hanya pelengkap dalam rumah tangga, tetapi pengajar kebenaran, mentor rohani, dan saksi Kristus dalam keluarga maupun jemaat.
Ajakan dan Poin-Poin Penting:
-
Bangun mezbah keluarga. Jadikan rumah tempat anak-anak dan pasangan mengenal Firman Tuhan.
-
Libatkan diri dalam pelayanan. Jangan merasa cukup menjadi pendengar, tetapi ambil bagian dalam mendampingi dan membina orang lain dalam iman.
-
Kembangkan kepekaan rohani. Seperti Priskila yang peka terhadap kebutuhan rohani Apolos, mari kita peka terhadap siapa yang perlu didampingi di sekitar kita.
-
Jadilah pengajar dalam kasih. Firman bukan hanya untuk diberitakan, tapi untuk dibagikan dengan hati yang rendah dan penuh belas kasih.
-
Teguhkan kesatuan dalam pernikahan. Pelayanan yang kuat berawal dari hubungan suami-istri yang sehati dan sepikir dalam Kristus.
Mari kita kembali pada panggilan kita sebagai wanita Kristen yang bukan hanya mendampingi, tetapi mengambil bagian aktif dalam misi Allah.
Jadilah pribadi yang seperti Priskila—yang tidak takut menyampaikan kebenaran, tidak malas untuk belajar, dan tidak ragu menjadi alat dalam tangan Tuhan.
Biarlah setiap rumah tangga kita menjadi pusat pengajaran Firman, tempat kasih Kristus diajarkan dan diwariskan bagi generasi selanjutnya.
Amin
Editor : Clavel Lukas