MANADOPOST.ID - Perdagangan internasional Provinsi Gorontalo tidak hanya mencatatkan peningkatan dari sisi ekspor, tetapi juga menunjukkan lonjakan signifikan pada aktivitas impor. Pada tahun 2024, total volume impor Gorontalo tercatat sebesar 34.845 ton, naik cukup tajam dibandingkan tahun 2023 yang hanya sebesar 29.977 ton. Dari sisi nilai, kenaikannya bahkan lebih mencolok, yaitu dari 16,3 juta dolar AS menjadi 27,7 juta dolar AS, atau meningkat lebih dari 70 persen.
Australia dan Tiongkok menjadi dua negara utama pemasok barang impor ke Gorontalo. Australia menduduki posisi teratas dengan volume impor sebesar 25.000 ton pada tahun 2024, naik dari 20.000 ton pada tahun sebelumnya. Nilai impornya pun melonjak dari 10,5 juta dolar AS menjadi hampir 17 juta dolar AS, menjadikannya mitra dagang paling dominan dalam kegiatan impor Gorontalo.
Sementara itu, Tiongkok menunjukkan peningkatan yang lebih mencolok dari sisi pertumbuhan. Volume impor dari negara ini hampir dua kali lipat, naik dari 2.008 ton menjadi 3.924 ton. Namun lonjakan terbesar terlihat pada nilai impornya yang meroket dari 1,2 juta dolar AS menjadi lebih dari 6,4 juta dolar AS. Ini menunjukkan bahwa komoditas dari Tiongkok yang diimpor pada 2024 memiliki nilai tambah atau harga lebih tinggi dibanding tahun sebelumnya.
Singapura yang pada tahun 2023 menyuplai lebih dari 4.800 ton barang ke Gorontalo mengalami penurunan drastis pada 2024, hanya 2.506 ton. Nilai impornya pun turun cukup jauh dari 2,7 juta dolar AS menjadi 1,1 juta dolar AS. Penurunan ini dapat disebabkan oleh beralihnya sumber pasokan ke negara lain atau turunnya kebutuhan terhadap barang dari Singapura.
Baca Juga: Belanja Makanan atau Bukan Makanan, Warga Gorontalo Pilih Mana?
Malaysia dan Korea Selatan juga tercatat sebagai negara asal impor yang cukup aktif. Volume impor dari Malaysia sedikit menurun dari 1.500 ton menjadi 1.413 ton, namun nilai impornya justru meningkat signifikan dari 897 ribu dolar AS menjadi 2,1 juta dolar AS. Begitu pula Korea Selatan yang mencatatkan kenaikan volume dari 1.641 ton menjadi 2.000 ton, dan nilai impornya naik dari 886 ribu dolar AS menjadi lebih dari 1 juta dolar AS.
Menariknya, tidak ada data impor dari beberapa negara yang sebelumnya mungkin menjadi mitra potensial seperti Thailand, Vietnam, Amerika Serikat, Brunei Darussalam, dan India. Ini menunjukkan bahwa aktivitas impor Gorontalo masih sangat terkonsentrasi pada beberapa negara utama, tanpa diversifikasi signifikan ke kawasan lain.
Secara keseluruhan, peningkatan volume dan nilai impor Gorontalo pada 2024 mencerminkan tingginya kebutuhan domestik terhadap bahan baku atau produk tertentu, serta potensi pertumbuhan sektor industri lokal yang memerlukan suplai dari luar negeri. Namun di sisi lain, tren ini juga menjadi pengingat pentingnya menjaga keseimbangan perdagangan agar tidak terlalu bergantung pada impor bernilai tinggi.(pr)
Editor : Pratama Karamoy