MANADOPOST.ID - Provinsi Sulawesi Selatan mencatat tren peningkatan kepadatan penduduk yang konsisten selama lima tahun terakhir. Data terbaru yang dirilis menunjukkan bahwa rata-rata kepadatan penduduk di provinsi Sulsel pada tahun 2025 mencapai 211 jiwa per kilometer persegi, meningkat 200 jiwa dibandingkan pada tahun 2020.
Kota Makassar tetap menjadi wilayah dengan kepadatan tertinggi, mencatat angka yang mencengangkan yakni 8.334 jiwa per kilometer persegi pada 2025. Angka ini naik cukup signifikan dibandingkan tahun 2020 yang berada di angka 8.051 jiwa. Lonjakan ini menandai dinamika urbanisasi yang terus berkembang pesat di ibu kota provinsi tersebut.
Tidak hanya Makassar, dua kota lainnya yaitu Parepare dan Palopo juga menunjukkan peningkatan. Kota Parepare mengalami kenaikan dari 1.689 jiwa pada tahun 2020 menjadi 1.822 jiwa di tahun 2025. Sementara itu, Palopo mencatat peningkatan dari 676 menjadi 727 jiwa per kilometer persegi dalam periode yang sama.
Wilayah dengan pertumbuhan signifikan lainnya adalah Kabupaten Takalar, yang meningkat dari 542 jiwa per kilometer persegi pada tahun 2020 menjadi 578 jiwa pada 2025. Disusul oleh Kabupaten Gowa yang naik dari 422 menjadi 456 jiwa per kilometer persegi. Kenaikan serupa juga terlihat di Jeneponto dan Bantaeng yang masing-masing mencatat angka 532 dan 531 jiwa per kilometer persegi pada 2025.
Di sisi lain, beberapa wilayah seperti Luwu Utara dan Luwu Timur tetap menjadi daerah dengan kepadatan penduduk terendah. Kedua kabupaten ini hanya mencatat kepadatan sebesar 46 dan 47 jiwa per kilometer persegi di tahun 2025. Meskipun demikian, angka tersebut tetap menunjukkan sedikit peningkatan dari tahun-tahun sebelumnya.
Baca Juga: Jumlah PPPK Sulsel Tembus 51 Ribu, Siapa Yang Mendominasi?
Kenaikan kepadatan juga terjadi secara merata di daerah pegunungan seperti Tana Toraja dan Toraja Utara. Tana Toraja naik dari 137 menjadi 145 jiwa per kilometer persegi, sedangkan Toraja Utara mencatat kenaikan dari 203 menjadi 219 jiwa.
Secara umum, tren pertumbuhan penduduk yang merata ini menandakan adanya peningkatan jumlah penduduk di hampir seluruh wilayah Sulawesi Selatan. Namun, perbedaan angka yang tajam antara daerah urban dan rural menunjukkan adanya tantangan dalam hal pemerataan pembangunan dan penyediaan layanan publik.
Kota Makassar dengan pertumbuhannya yang tinggi diperkirakan akan menghadapi tantangan besar dalam pengelolaan ruang, transportasi, serta kebutuhan dasar masyarakat. Sementara daerah-daerah dengan kepadatan rendah memerlukan perhatian khusus untuk mendorong pertumbuhan yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
Pemerintah daerah diharapkan dapat merespons tren ini dengan perencanaan wilayah dan tata ruang yang lebih matang, agar pertumbuhan penduduk tidak menjadi beban tetapi justru menjadi potensi untuk mendorong kemajuan daerah.(pr)
Editor : Pratama Karamoy