MANADOPOST.ID - Sulawesi Selatan tidak hanya dikenal sebagai lumbung padi dan penghasil sayuran, tetapi juga menyimpan potensi besar di sektor tanaman biofarmaka. Data terbaru dari Badan Pusat Statistik menunjukkan geliat produksi berbagai tanaman obat yang memiliki nilai ekonomi dan kesehatan tinggi. Periode 2022 hingga 2024 mencatat dinamika yang menarik, dari lonjakan produksi kunyit hingga fluktuasi tajam pada jahe dan jeruk nipis.
Kunyit menjadi komoditas unggulan dengan produksi mencapai lebih dari 13,2 juta kilogram pada 2024. Meski mengalami penurunan dibanding puncaknya di 2023 yang menembus 14,5 juta kilogram, angka ini tetap menempatkan kunyit di posisi teratas. Jahe menempati urutan kedua dengan capaian 9,94 juta kilogram, naik dari 8,31 juta kilogram pada tahun sebelumnya, menunjukkan tren pemulihan setelah sempat menurun.
Laos atau lengkuas juga menjadi pemain penting dengan produksi mencapai 2,8 juta kilogram pada 2024, meskipun sedikit turun dibanding 2023. Sementara itu, serai atau lemongrass sempat melonjak hingga 5 juta kilogram di 2023 namun kembali turun ke 3,76 juta kilogram pada 2024.
Baca Juga: Ketahanan Pangan Sulsel Tetap Terjaga Meski Produksi Turun, Ini Datanya
Beberapa tanaman obat mengalami tren menanjak yang cukup konsisten. Temulawak, misalnya, naik dari 37 ribu kilogram di 2022 menjadi lebih dari 70 ribu kilogram pada 2024. Kapulaga, yang semula hanya tercatat 23 kilogram pada 2022, kini berhasil mencapai 1.463 kilogram, sebuah pertumbuhan signifikan meski skalanya masih kecil.
Di sisi lain, terdapat tanaman yang mengalami penurunan produksi cukup tajam, seperti jeruk nipis yang turun dari 4,43 juta kilogram di 2022 menjadi 3,51 juta kilogram di 2024, serta mahkota dewa yang merosot dari 15 ribu kilogram menjadi hanya 9,4 ribu kilogram pada periode yang sama.
Keberagaman ini menunjukkan bahwa sektor biofarmaka Sulawesi Selatan memiliki potensi besar untuk dikembangkan lebih lanjut. Dengan tren global yang semakin mengedepankan kesehatan alami dan herbal, peluang ekspor dan peningkatan nilai tambah melalui industri olahan herbal terbuka lebar. Tantangannya kini adalah menjaga stabilitas produksi dan meningkatkan efisiensi distribusi agar potensi ini dapat memberikan manfaat maksimal bagi petani dan perekonomian daerah.(pr)
Editor : Pratama Karamoy