Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Tren Hunian Hotel Sulsel Ungkap Perbedaan Mencolok antara Berbintang dan Nonbintang, Mana Yang Lebih Unggul?

Pratama Karamoy • Selasa, 26 Agustus 2025 | 08:10 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi

MANADOPOST.ID - Kinerja industri perhotelan di Sulawesi Selatan sepanjang tahun 2024 menunjukkan perkembangan yang fluktuatif namun tetap stabil dalam menjaga tingkat okupansi. Data resmi dari Badan Pusat Statistik melalui Survei Hotel Bulanan mencatat bahwa rata rata tingkat hunian hotel berbintang di provinsi ini mencapai 49,64 persen. Sementara itu, hotel nonbintang berada pada kisaran 19,15 persen.

Photo
Photo

Hotel berbintang menunjukkan variasi okupansi bulanan yang cukup dinamis. Pada Januari tingkat hunian tercatat 40,74 persen sebagai posisi terendah, sementara puncak tertinggi terjadi di Agustus dengan capaian 54,59 persen. Lonjakan ini tidak lepas dari meningkatnya pergerakan wisatawan pada musim liburan pertengahan tahun. Setelah itu, tren okupansi relatif stabil hingga akhir tahun, dengan capaian Desember sebesar 52,39 persen.

Di sisi lain, hotel nonbintang juga mengalami pola serupa meski dengan angka yang lebih rendah. Tingkat hunian tertinggi terjadi pada Januari dengan 21,47 persen, sedangkan posisi terendah tercatat pada Maret dengan hanya 17,23 persen. Secara keseluruhan, rata rata hunian hotel nonbintang sepanjang tahun tidak pernah melampaui 22 persen, yang memperlihatkan bahwa segmen ini masih menjadi pilihan terbatas bagi wisatawan maupun pelaku perjalanan.

Baca Juga: Industri Mikro dan Kecil Sulsel Serap Ratusan Ribu Tenaga Kerja, Bidang Apa Yang Paling Cuan?

Jika dicermati lebih jauh, paruh kedua tahun 2024 menjadi periode emas bagi hotel berbintang. Mulai Juni hingga November, tingkat hunian secara konsisten berada di atas 52 persen. Sementara itu, hotel nonbintang justru cenderung stagnan di kisaran 18 hingga 20 persen. Perbedaan mencolok ini menggambarkan preferensi wisatawan yang lebih banyak memilih hotel berbintang, terutama ketika mobilitas masyarakat meningkat di musim liburan.

Data ini memberikan gambaran penting bagi pelaku industri pariwisata dan pemerintah daerah. Hotel berbintang tampak lebih mampu menarik minat pasar dengan fasilitas dan layanan yang lengkap, sedangkan hotel nonbintang perlu berinovasi agar dapat bersaing dan menjangkau lebih banyak wisatawan. Dengan potensi pariwisata Sulawesi Selatan yang semakin berkembang, peluang untuk meningkatkan rata rata okupansi hotel tetap terbuka lebar.(pr)

Editor : Pratama Karamoy
#Hotel #Sulsel #Pariwisata #mpedia #BPS #Manado Post