Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Pergeseran Arah Impor Sulsel, Apa Yang Menjadi Fokus Baru?

Pratama Karamoy • Kamis, 4 September 2025 | 09:10 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi

MANADOPOST.ID - Aktivitas impor di Sulawesi Selatan sepanjang tahun lalu mencerminkan perubahan besar dalam arah perdagangan internasional Provinsi ini. Meski total nilai transaksi hanya naik tipis, struktur impor menunjukkan pergeseran signifikan baik dari sisi negara asal, pintu masuk pelabuhan, maupun jenis komoditas yang masuk ke Sulsel.

Kenaikan Volume, Nilai Tetap Stabil

Data Badan Pusat Statistik melalui publikasi Sulawesi Selatan dalam Angka 2025 mencatat total impor Sulawesi Selatan pada 2024 mencapai 2,32 miliar kilogram dengan nilai 1,10 miliar dolar AS. Dibandingkan 2023, volume barang naik dari 2,16 miliar kilogram, sementara nilai hanya bertambah tipis dari 1,08 miliar dolar AS.

Negara Asal Impor: Tiongkok Masih Terbesar, Kanada dan Brazil Melonjak

Tiongkok tetap menjadi mitra impor terbesar dengan nilai mencapai 266,8 juta dolar AS meski volumenya turun dari 539,9 juta kilogram menjadi 428,5 juta kilogram. Australia berada di posisi kedua dengan 430,5 juta kilogram, namun nilainya justru turun menjadi 154,5 juta dolar AS.

Pergeseran paling menarik datang dari Kanada dan Brazil. Kanada mencatat lonjakan hampir tiga kali lipat dari sisi volume, dari 52 juta kilogram pada 2023 menjadi 148 juta kilogram di 2024, dengan nilai naik menjadi 49,1 juta dolar AS. Brazil juga menguat, volumenya naik dari 251 juta kilogram menjadi 385 juta kilogram, dengan nilai impor mencapai 195,9 juta dolar AS.

Sementara itu, Singapura justru merosot tajam. Dari 194,9 juta kilogram dengan nilai 145 juta dolar AS di 2023, turun menjadi 97,4 juta kilogram dengan nilai 68,3 juta dolar AS pada 2024. Negara lain yang mencatat perkembangan menarik adalah Rusia dan Ukraina yang mulai aktif menyuplai barang ke Sulawesi Selatan.

Baca Juga: Sulsel Gandeng Lebih Banyak Negara untuk Pasokan Impor, Negara Mana Saja?

Pelabuhan Bongkar: Makassar Masih Dominan, Palopo dan Balantang Berkembang

Makassar masih menjadi pintu utama masuknya barang impor dengan volume 2,19 miliar kilogram atau lebih dari 90 persen dari total. Nilai transaksi di pelabuhan ini mencapai 1 miliar dolar AS, meski sedikit turun dibanding tahun sebelumnya.

Namun, Palopo muncul sebagai pelabuhan yang mulai menonjol. Dari hanya 4,18 juta kilogram pada 2023, melonjak menjadi 22,2 juta kilogram pada 2024, dengan nilai mencapai 46,7 juta dolar AS. Balantang Malili juga naik dari 5,19 juta kilogram menjadi 6,6 juta kilogram, sementara pelabuhan Hasanuddin mencatat peningkatan kecil namun signifikan dalam nilai transaksi.

Sebaliknya, pelabuhan Biring Kassi yang sebelumnya mencatat aktivitas impor sebesar 33 juta kilogram tidak lagi tercatat pada 2024. Hal ini memperlihatkan adanya konsolidasi pada pelabuhan-pelabuhan besar yang lebih efisien.

Komoditas Impor: Gandum Melejit, Bahan Bakar Mineral Merosot

Dari sisi komoditas, gandum menjadi primadona impor Sulawesi Selatan. Pada 2024, volumenya melonjak menjadi 939 juta kilogram dari 635 juta kilogram pada tahun sebelumnya. Nilai transaksinya pun meningkat menjadi 333 juta dolar AS.

Sebaliknya, impor bahan bakar mineral anjlok tajam. Dari 648 juta kilogram pada 2023 turun menjadi 470 juta kilogram pada 2024, dengan nilai menyusut menjadi 123 juta dolar AS. Tren ini menunjukkan berkurangnya ketergantungan terhadap energi impor.

Komoditas lain yang mengalami pertumbuhan adalah mesin mekanik dengan lonjakan nilai mencapai 114 juta dolar AS, serta besi dan baja yang naik lebih dari dua kali lipat volumenya. Sementara itu, olahan makanan hewan dan gula tetap stabil sebagai penopang impor penting, mencerminkan kebutuhan industri pangan dan peternakan.

Baca Juga: Nilai Ekspor Sulsel ke Negara Ini Capai 1 Miliar Dolar Meski Volume Turun

Arah Baru Perdagangan Sulsel

Dari data tersebut, terlihat bahwa pola impor Sulawesi Selatan mulai bergeser. Mitra utama seperti Tiongkok masih dominan, tetapi pemain baru seperti Kanada, Brazil, Rusia, dan Ukraina mulai memperluas peran. Dari sisi pelabuhan, Makassar tetap menjadi pusat utama, namun pelabuhan daerah seperti Palopo dan Balantang mulai tumbuh. Dari sisi komoditas, gandum dan mesin mekanik naik tajam, sementara bahan bakar mineral justru tertekan.

Perubahan ini dapat dibaca sebagai refleksi atas kebutuhan ekonomi Sulawesi Selatan yang semakin berfokus pada industri pangan dan pembangunan infrastruktur, sekaligus sebagai upaya diversifikasi sumber impor dari berbagai negara.(pr)

Editor : Pratama Karamoy
#Sulsel #mpedia #impor #BPS #Manado Post