MANADOPOST.ID - Kota Bitung yang dikenal sebagai salah satu wilayah dengan potensi pertanian tropis kini menghadapi perubahan menarik dalam sektor tanaman biofarmaka. Data terbaru dari Badan Pusat Statistik menunjukkan adanya dinamika dalam luas panen berbagai jenis tanaman obat selama periode 2021 hingga 2024.
Dari sederet tanaman biofarmaka yang dibudidayakan, jahe tercatat sebagai komoditas paling dominan. Pada tahun 2021, jahe menempati luas panen sebesar 38.907 meter persegi dan meningkat tajam menjadi 115.057 meter persegi pada tahun berikutnya. Namun, angka tersebut kembali menurun signifikan pada 2023 menjadi 29.960 meter persegi dan berlanjut turun ke 14.182 meter persegi di tahun 2024.
Penurunan ini menandakan adanya perubahan pola tanam dan kemungkinan pergeseran minat petani terhadap jenis tanaman obat lain. Meski demikian, jahe tetap menjadi andalan utama sektor biofarmaka Bitung dibandingkan tanaman lainnya.
Selain jahe, kunyit menjadi komoditas kedua dengan fluktuasi menarik. Luas panen kunyit meningkat dari 4.805 meter persegi di tahun 2021 menjadi 38.920 meter persegi pada 2022, kemudian menurun ke 10.665 meter persegi pada 2023 dan turun lagi menjadi 7.174 meter persegi di tahun 2024.
Tanaman lain seperti laos, kencur, lidah buaya, dan temulawak juga muncul dalam data dengan luas panen yang relatif kecil. Laos atau lengkuas sempat mencapai 1.090 meter persegi pada 2022 namun menurun drastis hingga tinggal 15 meter persegi di 2024. Kencur mulai dibudidayakan pada 2022 dengan 200 meter persegi dan perlahan meningkat hingga 76 meter persegi pada 2024, menunjukkan tanda-tanda adaptasi petani terhadap tanaman rempah yang bernilai obat tersebut.
Baca Juga: Dari Trotoar Hingga Tata Ruang, Satpol PP Bitung Tegas Jaga Ketertiban
Sementara itu, lidah buaya sempat ditanam seluas 45 meter persegi pada 2022, lalu berkurang menjadi 5 meter persegi pada 2024. Temulawak yang dikenal memiliki khasiat tinggi untuk kesehatan hati juga mengalami penurunan dari 86 meter persegi di 2021 menjadi hanya 10 meter persegi pada 2024.
Menariknya, beberapa jenis tanaman biofarmaka seperti kapulaga, keji beling, mahkota dewa, mengkudu, sambiloto, temuireng, dan temukunci tidak menunjukkan aktivitas panen selama empat tahun terakhir. Kondisi ini bisa mencerminkan masih terbatasnya budidaya skala komersial atau adanya fokus produksi pada komoditas unggulan seperti jahe dan kunyit.
Secara umum, tren ini mengindikasikan perlunya strategi baru dalam pengembangan tanaman biofarmaka di Bitung agar potensi lokal bisa dioptimalkan. Diversifikasi tanaman, pendampingan petani, serta penguatan pasar herbal menjadi kunci penting agar sektor ini tidak hanya bertahan tetapi juga tumbuh sebagai penopang ekonomi hijau daerah.(pr)
Editor : Pratama Karamoy