MANADOPOST.ID - Kota Bitung kembali menunjukkan ketahanan sektor perkebunannya meski di tengah perubahan dinamika pertanian dan fluktuasi hasil panen yang terjadi dalam lima tahun terakhir. Berdasarkan data dari Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Bitung yang dirilis dalam publikasi Kota Bitung Dalam Angka 2025, tanaman kelapa masih menjadi tulang punggung utama perkebunan rakyat di wilayah Bitung.
Sejak tahun 2020 hingga 2024, komoditas kelapa mencatat luas areal yang stabil bahkan cenderung meningkat. Pada tahun 2020, luas perkebunan kelapa mencapai 11.832 hektare. Angka ini sedikit menurun pada 2021 dan 2022 di kisaran 11.455 hektare, namun kembali meningkat pada 2023 menjadi 11.503 hektare, dan menembus 11.657 hektare pada 2024. Lonjakan ini memperlihatkan bahwa masyarakat Bitung masih sangat bergantung pada kelapa sebagai sumber penghidupan utama di sektor pertanian.
Menariknya, komoditas lain seperti pala dan kakao sempat muncul namun tidak menunjukkan perkembangan yang berkelanjutan. Pada 2020, pala tercatat memiliki luas 304,3 hektare, tetapi menurun drastis menjadi 62,7 hektare pada 2021 dan tidak lagi tercatat dalam tahun-tahun berikutnya. Begitu pula dengan kakao yang hanya sempat muncul pada 2021 dengan luas 5,6 hektare dan tidak lagi terdata di tahun berikutnya. Kondisi ini mengindikasikan bahwa beberapa komoditas perkebunan di Bitung belum mampu bersaing dengan dominasi kelapa baik dari sisi hasil maupun keberlanjutan ekonomi.
Tanaman tahunan lain seperti kopi, karet, cengkeh, dan jambu mete tidak tercatat sama sekali dalam periode 2020 hingga 2024. Sementara untuk tanaman semusim seperti tebu dan tembakau juga tidak menunjukkan adanya pengembangan lahan di wilayah ini. Hal ini memperlihatkan pola yang konsisten bahwa sektor perkebunan rakyat di Bitung masih terpusat pada komoditas kelapa, baik dalam skala usaha maupun dalam prioritas penanaman oleh petani.
Kekuatan kelapa di Bitung tidak lepas dari kondisi geografis yang mendukung serta tradisi turun-temurun masyarakat yang telah lama mengenal komoditas ini sebagai sumber ekonomi utama. Dari bibit hingga pengolahan hasil, masyarakat telah memiliki keterampilan yang mumpuni, membuat kelapa menjadi komoditas yang tidak hanya produktif tetapi juga efisien dalam pengelolaan.
Baca Juga: Potensi Besar Tapi Belum Optimal, Begini Kondisi Biofarmaka Bitung Saat Ini
Dengan tren peningkatan areal tanam hingga 2024, pemerintah daerah dipandang memiliki peluang besar untuk memperkuat sektor ini melalui pengembangan industri turunan kelapa, seperti minyak kelapa murni, olahan tempurung, serta produk-produk bernilai tambah lain yang bisa mendorong pertumbuhan ekonomi lokal.
Ke depan, fokus pada diversifikasi dan nilai tambah produk pertanian akan menjadi kunci agar perkebunan rakyat di Bitung tidak hanya bertahan tetapi juga berkembang menjadi sektor unggulan yang berdaya saing tinggi di tingkat regional maupun nasional.(pr)
Editor : Pratama Karamoy